Senin, 24 Januari 2011

Review : I Know What You Did On Facebook


Pertama kali lihat iklan trailer film ini di tv bikin nyengir, aduh film kancrut lagi. Efeknya gw juga dengan mudahnya melupakan trailer itu. Tapi ada yg aneh, di perhelatan Festival Film Indonesia 2010 kemarin, nyempil itu film di jajaran nominasinya. Terlepas hiruk pikuk yang melanda FFI tersebut, gw dibikin penasaran sama ini film. Kok bisa ya film ini masuk nominasi. Apa yang menarik? judulnya aja gak kreatif (nyomot judul I Know What You DId Last Summer) tapi gw akuin cukup nendang.
Oke, ternyata cdnya cepet banget keluar. Pertama agak ragu juga, takutnya ini film kayak karya Nayato yang cetek dan pamer payudara semua. Tapi akhirnya kenekatan gw membawa hikmah. Overall filmnya tidak seburuk ge bayangkan. Menarik malah.
Film ini bercerita tentang si Luna (Fanny Febriana) yang mempunya pacar bernama Reno (Edo Borne). Luna yang notabene menginginkan hubungan yang serius, merasa tidak betah lagi dengan Reno yang sifatnya masih suka main-main. Curhatlah si Luna dengan Via (Kimi Jayanti), temen SMPnya yang kebetulan dia kenal (tentu saja) lewat facebook. Ternyata Via justru mengalami hal yang berkebalikan. Dia yang ugal-ugalan tidak betah dengan pacarnya Hedi (Fikri Ramadhan) yang sopan dan membosankan. Nah disitulah cerita mulai bergulir.
Luna dan Via kemudian punya rencana, mengetes perasaan pacaranya masing-masing melalui iseng2 di facebook. Luna meremove Reno dari friendlist di facebook kemudian berkenalan dengan Hedi di fb juga. Begitu juga Via. Namun Luna dan Via sepakat untuk melakukan misi rahasia ini hanya di Facebook.
Plotnya sebenarnya mudah ditebak. Tapi eksekusi yang rapi menyebaban semuanya menjadi enak untuk tetap dinikmati. Selain kisah Luna Via tadi, ada juga kisah abangnya Reno, Doni (Agastya Kandou) yang merupakan seorang gay dan menyukai partner kerjanya Erik (Yama carlos). Juga Kisah Merline (Imelda Therine) kakak dari Luna, yang hidupnya membosankan karena terus dicuekin suaminya Ario (Restu Sinaga).
jadi garis benangnya adalah facebook. Tapi entah kenapa penyajian cerita si Doni dan Merline terlalu berlebihan, porsinya terlalu banyak. Harusnya film ini lebih serius mengenai cerita luna dan via.
Secara pengambilan gambar, tidak ada yang luar biasa. Standar aja, namun cukup untuk menggambarkan adegan demi adegan dengan cukup apik. Untuk castnya, Kimi Jayanti yang paling menonjol. Sedangkan yang lain ya... just so so. Lumayanlah kalo gak mau dikata buruk. Kekurangannya adalah plot yang kadang gak fokus. Memasukkan adegan-adegan yang gak penting untuk dimasukkan. Ada beberapa adegan seperti itu. Yang jatuhnya cukup annoying.
Untuk keseluruhan, film ini termasuk film yang lumayan bagus dan cukup menghibur. Permasalahannya juga real dan tidak terlalu dibuat-buat walaupun sedikit klise. Layar-layar lapotop yang berisi halaman facebook juga menjadi sesuatu yang beda dari film lain. Ya mungkin film ini sedikit rasa segar dari film-film Indonesia yang bertebaran sekarang. Lumayan bagus.

Sabtu, 15 Januari 2011

Review : Death Bell 2 : Bloody Camp


Release Date: 31 December 2010
Director: Yoo Sun-dong
Cast: Hwang Jeong-eum, Park Jiyeon, Yun Seung-ah, Yoon Si-yoon, Kim Su-Ro.

Yak, ternyata gw masih ketagihan dengan film-film sakit, setelah Grotesque (review menyusul yak) berhasil mencabik-cabik sisi manusiawi gw, kini saatnya Death Bell 2 : Bloody Camp. Seharusnya ini menjadi sequel film pertamanya, Death Bell dengan Kim Bumnya. Namun, karena ternyata beda director, maka dari storylinenya juga dibuat berbeda. meskipun begitu, film ini masih menyajikan satu benang merah yang sama dengan pendahulunya, yaitu peristiwa-peristiwa di sekolah.
Sebenarnya menarik melihat film ini. Ya, emang sih, gw gak terlalu hapal cast pemain asia apalagi dari Korea, tapi secara "look" atau first impression, film ini bisa dibilang lumayan. Bolehlah, thriller yang menarik juga. Lalu bagaimana dengan cerita? atau porsi gorenya?
Apa yang lebih menarik dari satu kelas siswa dengan dua orang guru terjebak di sekolah dengan psikopat yang siap membantai. Itulah kira-kira inti cerita di sini. Seorang murid siswi (Hwang Jeong-eum) yang memiliki masa lalu yang cukup kelam, masuk ke camp pelatihan bagi siswa-siswi terpandai dan terpilih di sekolahnya. Dia dan teman-teman naasnya itu akan menghabiskan waktu liburan dengan belajar-belajar dan belajar di "camp". Namun mereka tidak sadar, bahwa ada psokopat gila yang mengancam jiwa mereka ketika sedang belajar.
Serba nanggung, itulah yang menonjol di sini. Cerita nanggung, penokohan karakter nanggung, adegan sadis yang nanggung dan kacaunya twist yang nanggung. Entah kenapa director Yon Sun Dong, tidak mengikuti ramuan pendahulunya saja. padahal sebenarnya banyak adegan-adegan yang mempunyai potensi horor. Tapi entah kenapa Yon Sun DOng malah seenaknya sendiri motong keasikan itu.
Dari segi cerita, Death Bell 2 ini sudah cacat di tengah jalan. Kalau di seri pertama kita disuguhin cerita yang membuat kita berpikir "bisa jadi seperti itu", mengenai sogok menyogok berujung maut, di seri ini justru akan membuat kita berpikir "aduh gak logis banget". Memang menonjolkan masalah muda mudi di sekolahan yaitu bullying, tapi kelewat dangkal. Sangat dangkal. Motifnyapun terlalu sepele.
Setelah gw nonton sampai selesai, akhirnya gw baru sadar ada yang kurang dari film ini. Sebelumnya kita dibuat tegang dengan soal-soal yang dibuat psikopat. Kalau tidak bisa menjawab soal tersebut maka seorang murid akan mati. Nah di Death Bell 2 ini tidak ada soal-soal yang membuat kita tegang dan merasa berkejaran dengan waktu. Fatal untuk franchise sekelas Death Bell.
Tokoh utama, Hwang Jeong-eum, tidak bisa membangun cerita dengan baik. Karakternya yang dibuat dingin, jatuhnya malah terlalu dingin, dan kesan misterius itu hilang. Paling mending aktingnya si ibu guru muda (entah ini siapa namanya :p), tapi tetep dieksekusi akhir, nasib ibu guru muda ini gak jelas. Mungkin karena ditopang fondasi cerita yang tidak solid, dan terlalu banyak hal klise di dalamnya.
Nasib film sequel (apalagi yg ditambah embel-embel "2") mau tidak mau harus rela dibandingkan dengan seri pertamanya. Apakah lebih sukses, atau malah lebih buruk. Death Bell 2 : Blody Camp harus menerima kenyataan, bahwa film ini tidak bisa lebih baik dari film pertama, bahkan ketika film bergerak setengah jalan. Tone filmnya terlalu gelap, berbeda dengan sebelumnya yang cerah tapi mengancam. Ini malah kayak film-filmnya Nayato yang serba dark (karena disini disetting mati lampu). Selain itu, film ini tampil lebih nakal karena ada beberapa adegan berbikini (tapi masih pantas soalnya ada setting di kolam renang juga). Gak ada yang spesial di film ini, itu intinya. Seri pertama jauh lebih baik.

Rabu, 12 Januari 2011

Desain Desain Desain Grafis

Sudah lama banget semenjak meninggalkan hal ini, yup desain grafis. Gara-gara sibuk di mata kuliah ini itu, dan sejenak terlena dengan Adobe Premiere, kahirnya saudara-saudara, gw kembali menggauli yang namanya Adobe Photoshop. Entah mengapa, agak canggung juga dengan software ini, padahal dulu tiap hari ngadepnya juga ini. And, this is it, sedikit coret-coret ala chef nanda dengan photoshop (hahaha, masih amatiran jadi ya begini hasilnya)

art is...



Jumat, 31 Desember 2010

Thanks 2010

ceritanya edisi malam tahun baru, dan gw akan ngungkapin terima kasih gw kepada tahun 2010. Tahun 2010 jelas bukan tahun terbaik gw, tapi tahun ini banyak pelajaran yang didapat. Untuk itu, gw ingin berterimakasih kepada semuanya yang memberi pelajaran tersendiri kepada gw. So, I would say thanks to :
thanks mom and dad
thanks brother and sisters
thanks rumah dara
thanks EO Maxi
thanks anak jalanan
thanks sahabat-sahabat
thanks Segitiga Production, SBTV dan KTV
thanks para dosen
thanks Nue Ad.
thanks Suara Merdeka
thanks Visi
thanks Youtube
thanks google
thanks blogspot
thanks nature
thanks merapi
thanks smash biru
thanks rumah mungil di Jl. mr Sartono no 93
thanks speedy
thanks twitter
thanks universe
special thanks GOD

you guys have taught me well, and now I'm so funckin' ready to rock 2011!

Kamis, 16 Desember 2010

Just Go! Find Your Life!

secara sadar gw ucapin kata-kata itu ketika ngobrol panjang lebar bareng salah satu teman SMA. Obrolan yang gak biasa kalo boleh dibilang. Biasanya obrolin orang lain, sekarang temanya obrolin diri sendiri. Tepatnya masa depan... beuhh
yak yak yak, gw tergelitik ketika temen gw tanya : "Abis kuliah mau ngapain?"
sejenak gw mikir, kerja. Sampai sekarang gw emang butuh kerja errr butuh duit sebenarnya. Langsung dong gw nanya balik, "nek kowe?" (kalau kamu?)
dengan yakin dia jawab : "Aku lanjut S2 nan, itu udah direncanain sejak awal sama bapak, abis kuliah gak dibolehin kerja dulu sebelum S2"
gw tanya lagi, "masa gak langsung coba dulu kerja gitu barang setahun?"
jawabnya : "enggak, aku nurut aja sama bapak"
dia lanjutin "yak aku emang gak kayak kamu sih, bisa bebas gitu, tapi aku nyaman kok dengan semua ini"
gw jawab "satu hal ya, hidup itu cuma sekali, what you have to do is GO FIND YOUR LIFE"
dia cuma membalas dengan senyuman kecut. "Aku nyaman kok dengan pilihan ini"

ohhh, dunia it unik...err kehidupan maksud gw. Banyak pilihan-pilihan yang justru bagi gw diluar nalar. Dan bagi mereka sangat esensial. Gw gak nyalahin pilihan temen gw. As long as you're in the positive way, go then.
tapi menggantungkan hidup pada pilihan orang lain, bagi gw fatal. It's your life, control is yours. Batasan memang selalu ada, tapi batasan gak selalu mengebiri harapan dan keyakinan. Apalagi masa depan. Go find your life, bagi gw sarat makna. Terserah apa orang mau ngomong, life is journey, life is an adventure, yang penting adalah itu hidupmu dan hiduplah untuk hidupmu. That's the main point!
kadang gw juga suka gimana gitu kalo geliat ada orang atau remaja-remaja yang menanggalkan impian mereka demi menyenangkan orangtua. Paling umum ketika remaja disuruh milih buat kuliah di jurusan apa. Peran orangtua harusnya maksimal adalah mendukung, bukan ikutan memilih. Ada beberapa teman gw (bahkan gw juga hampir gitu) yang mengalaminya. Sampai pada akhirnya mereka tidak cocok dan asing dengan pilihan orangtua (dalam konteks ini oranglain).
Juga seperti perkara "Mau masuk IPA atau IPS di SMA". Orangtua dulu (sekaang masih tapi banyak yang udah insap) menganggap masuk IPA itu bergengsi, segalanya, dapat dibanggakan dll. beberapa stereotip itu bahkan juga masih melekat di sodara-sodara. Sampe rela nyogok2 supaya anaknya bia masuk IPA padahal fisikanya NOL besar. Hal semacam itu yang mengebiri kreativitas. sekarang masih banyak orang hidup tidak berdasarkan pilihannya sendiri.
Padahal hidup dengan pilihan sendiri itu asyik, menegangkan, playfull dan berharga. Tentunya dalam alur hidup yang positif. Dan yang paling penting, ada rasa ikhlas dalam menjalani kehidupan. Hidup akan lebih indah.
So? just Go Find Your Life!

Selasa, 23 November 2010

Ngomongin Musik Tetangga

well, akhir-akhir ini gw rajin ngulik Youtube, situe streaming video kondang itu. Banyak yang gw liat, dari update game-game Final Fantasy (meskipun hampir tak mungkin menyentuhnya lagi), film, video-video penampakan (kayak anak smp), sampe liat video klip penyanyi kondang. Nah yang terakhir ini yang menarik.
Awalnya sebagai salah satu korban budaya MTV, jadilah gw mantengin video klip band-band atau penyanyi asal amrik sono. Menarik, tertarik dengan Vanilla Twilightnya Owl City. Salah satu yang bagus menurut gw. Banyak yangmenarik, tapi banyak pula yang kacrut menurut gw.
Apa kabar musik dalam negeri? stagnansi. Jelas. Otak-otak duit yang memonopoli pasar musik membuat semuanya menjadi beragam. Kreativitas lebur di sini. Utungnya masih ada pejuang-pejuang di jalur mainstream, yang tetap mengibarkan
idealismenya. Tapi, wait... gw gak akan bahas stagnansi musik Indonesia di sini.
Yang akan dibahas adalah masik negara tetangga. Tetangga kita yang gak pernah akur (dalam hal diplomasi). Yak Yak Yak, Malaysia.
Kata orang lagu-lagu negara ini isinya ya lagu melayu gitu. Identik dengan mellownya (inget band exist?). Iseng, gw kulik-kulik deh mbah google. Dan ternyata diluar prediksi. Musik mereka gak kalah. Memang ada yang bermellow ria, tapi tetap ada musisi bagus. Kualitasnya udah internasional kalo gw bilang. Misalnya nih :


Hujan
Band ini beraliran rock alternatif dan sedikit berbau emo, beberapa bernada mirip lagu-lagu anime jepang gitu. Ada dua track favorit gw, Bila Aku Sudah Tiada dan Mencari Konklusi. Bahasa yang dipake emang bahasa melayu, tapi gak masalah. Justru menurut gw unik. Band ini punya "taste" dalam bermusik.

Yuna Zarai
Yang pertama bikin gw tertarik sama ni cewek adalah namanya. Yuna, sama dengan tokoh di gim fafvorit gw, Final Fantasy. hehehe
Ternyata gak cuma nama, suara ni cewek oke banget. Di albumnya Decorated, doski (duh bahasa jaman kapan ini) lebih banyak main akustik. Suaranya bening. Beberapa track berbahasa Inggris dan kdengerannya mirip-mirip Lenka atau Bjork. Nah pas nyanyi lagu berbahasa Melayu, suaranya lebih mirip ke Astrid. Satu lagi, dia adalah penyanyi modern yang pede dengan jilbabnya, beda sama siti nurhalo-halo yang kadang make kadang enggak. Standing ovation buat satu itu. Good job girl! Track favorit : decorated, penakut.
Zee Avi
Gadis mungil ini juga punya talenta yang hebat. Pertama kali gw tau dari temen gw, yang pamer lagunya Kantoi. Lucu, unik dan mix antara bahasa melayu yang kental dengan bahasa inggris. Liriknya unik dan simpel. Track favorit : Kantoi, Bitter Heart

Itu baru sebagian yang gw tau, keren kok, coba dicari deh. Hal ini menunjukkan gak semua-muanya yang berbau Malaysia itu negatif. Yang satu ini cukup positif menurut gw. Harusnya mereka didengerin, supaya musisi Indonesia itu gak bikin lagu-lagu yang alay-alay. Terus pendengar mungkin sekali-kali diajak dengerin musik yang punya taste (rada susah sih, karena masalah selera). Atau paling enggak ada dukungan buat musisi Indonesia yang berada di jalur mainstream (ERK, M2M, BOTC dan masih banyak lagi). Hidup musik Indonesia!

*FYI untuk musisis Indonesia yang paling gw demen : Adhitya Sofyan, Ballads of the Cliche, SORE :)

Kamis, 18 November 2010

Bahkan Setelah Titik, Lanjutkanlah!

it's like a motivation word for me. Seperti quote cantik dari the Beatles "The end has no end". Walaupun secara harfiah artinya beda, namun secara substansi sama. Meskipun titik itu sebuah pertanda bahwa itu adalah akhir kalimat, jangan cuma berhenti di situ. Beyond from that point, you can discover anything. Titik bukan batas, border atau apa itu namnaya. Titik adalah tempat kita berhenti sejenak mengenal diri. Untuk kemudian dilajutkan lagi.

udah, gak punya ide lebih... hahaha daripada posting gombal-gombalan