Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2013

Happy For Being a Shorty

Pendek? sama.
lah...

Entah mulai kapan tepatnya, sekarang mulai banyak iklan-iklan susu yang dengan gamblang bilang dapat menambah tinggi badan dengan cepat sekejap. Jauh sebelumnya sebenernya juga udah ada sih alat atau produk peninggi badan yang demen banget nongol di TV. Orang lama pasti inget Zenith Grow? atau paling enggak, pernah liat alat-alat yang bisa narik-narik badan biar tambah tinggi gitu. Buat saya sebagai orang dengan tinggi ngepas, tentulah itu semua menarik dimata. Tinggi adalah sebuah harapan.

Hidup dengan tinggi ngepas pendeknya dulu bagi saya susah-susah gampang. Iya, banyakan susahnya ketimbang gampangnya. Ini akibat kurang bersyukur aja sebenarnya. SD - SMP mungkin belom begitu keliatan, pas SMA mulailah kelihatan dan makin menjadi pas kuliah. Ada pikiran "lah, kok gue pertumbuhannya mandeg di segini aja?" Gampangnya? kamu bisa selonjoran dimana-mana dengan mudah (bahkan di atas motor matik sekalipun :D )

Iri? oh jangan ditanya. Pemikiran tinggi lebih keren masih kuat di benak saya kala itu. Apalagi waktu masih muda dulu ( sekarang masih muda, tapi tuaan dikit). Ditambah dengan konstruksi media dan stigma kebanyakan yang mengatakan kalau tubuh tinggi itu menambah tingkat kekecean sebanyak 760 poin. Pendek? siap-siap deh dibully. Bogel, cebol, bantet dan sebagainya, itu udah makanan sehari-hari.

Apalagi lihat iklan sekarang. Mulai dari susu berkalsium tinggi gampangnya. Apa yang dijual bukan si kalsium yang menguatkan tulang dan sebagainya, namun bisa nambah tinggi. Nggak salah memang, tapi visualnya juga sebetulnya bisa dibilang menyakitkan, karena mendiskreditkan si pendek. Memang sasaran untuk yang lagi tumbuh, tapi kalo genetik gimana? You just can't judge people by their height, in it happens in some TVCs.

Pinter-pinter atur emosi saja.

And then, time flies, I've grown up dan akhirnya saya menerima dan bersyukur dengan apa yang saya punya. Sampai saat ini, saya belum pernah juga menyentuh obat atau susu atau alat-alat peninggi badan. Keluarga saya bukan keluarag yang bertumbuh tinggi. Semuanya ngepas. Masalah tinggi ngaruh ke kerjaanlah, jodohlah, ah I don't really care. Yakin semua ada jatahnya. Setelah dipikir-pikir konyol sih kalo ada yang stress gara-gara gak bisa tinggi atau pendek. Know what you doing, and do what you have to do, is way way way more important. Itu cara sederhana buat mensyukuri hidup, kalo malu-malu sama yang di atas.

So, happy for being a shorty? yeah, why not?

Senin, 22 April 2013

Motivaception

Ketika mendengar motivasi, hal apa sih yang pertama kali kepikiran? mungkin sebagian besar akan berpaling pada Mario Teguh atau Merry Riana. Gak salah karena dua nama itu lekat dengan kata motivasi, simply because they are well known motivator. Atau kemudian anda melayang pada satu quote yang berbunyi "Best motivator is our self" ?
Tapi sejauh mana diri anda dapat memotivasi diri sendiri?
Pada nyatanya, self motivate itu ~ setidaknya mneurut saya~ adalah hal yang sulit dilakukan. Sama persis ketika kita ditanya mengenai kelemahan atau kelebihan. Berapa banyak dari anda yang bisa menjawabnya ~ dengan mantap~ dalam waktu satu menit. Kalaupun ada, anda pasti sangat hebat.
Padahal, jika kita mau mengenal lebih jauh pada diri sendiri, kita bisa jadi motivator handal... untuik orang lain. Ketika ada teman, saudara atay kerabat menemukan masalah, kita bisa memberi pandangan, motivasi, semangat dan sebagainya. We are the best motivator for anyone else. Namun ketika dihadapkan perkara diri sendiri, kita jadi mlempem. Kemana perginya semua nasihat atau kalimat-kalimat motivasi yang kita lontarkan dengan lancar kepada orang lain. Entah, apakah kita memang tidak ingat, atau snegaja tidak mengingatnya, kita mnejadi manusia lemah. Jadi nggak heran, Mario Teguh ratingnya tinggi, buku "Mimpi Sejuta Dollar"nya Merry Riana jadi best seller. We need a "slap" straight to our faces.
Kemarin saya beli bukunya Yoris berjudul Oh My Goodness (OMG) yang updated version. Menurut hemat saya, ini juga masuk buku motivasi, namun melalui pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang beda karena tujuan buku ini lebih ke bagaimana mengasah kreatifitas pada diri individu. Saya, sudah mencapai tahapan diamana saya sudah insecure dengan kreatifitas diri sendiri. Repetisi yang saya alami, mejadi faktor utama semua itu. Saya butuh.... pencerahan.
Saya jarang sekali baca buku motivasi, sehingga membaca OMG tidak bisa saya habiskan dalam satu baca. Saya baca per bab. Yang saya heran adalah, apa yang dituliskan Yoris ini, adalah hal yang sebenarnya BIASA terjadi. Yah sebenarnya bisa saja terjadi di dalam diri kita. Namun, percayalah, kita hidup diluar kebiasaan itu, sheingga kita melewatkannya.
Bagi saya, buku ini lebih ke mengingatkan, bahwa kita sebenarnya "bisa". Mungkin buku motivasi lain juga akan berkata demikian. Akhirnya, ketika setelah membaca, keputusan ada di diri kita. Saya misalnya, baru baca beberapa bab di buku OMG, langusng ke Togamas hanya untuk membeli sebuah sketchbook. Saya ingin kembali menggambar, hal yang sudah jarang sekali saya lakukan di beberapa tahun terakhir. Dan rasanya lega, bisa kembali menggambar lagi, meski skill menggambar menurun drastis karena memang jarang diasah.
And that's how motivation works
Meskipun tidak serta merta langsung memberi efek pada sebuah perbuatan, motivasi membuat anda berpikir ulang dan berkata "Oh, iya ya". Setidaknya itu yang terjadi pada diri saya. Dan ketika sudah dalam tahap paling serius,motivasi membawa ke perihal paling serius, self acceptance.Karena kita butuh "cermin" yang luas, untuk bisa mengenal diri kita lebih jauh.
Mulai sekarang, saya tidak lagi antipati terhadap hal-hal yang berbau motivasi. Saya melihat, bahwa makin kesini, makin banyak orang yang less motivated. Dan menurut saya itu bukan perkara sepele. Tingkat stres yang tinggi, disambung ketidakpercayaan diri dan itu bahaya. Setiap orang memiliki pilihan, mengenai dimana dia mencari motivasinya ~ sambil mungkin secara tidak sadar memotivasi yang lain~

Pun saya sendiri, namun tidak pada Mario Teguh.
   




  


Senin, 04 Maret 2013

Television : Why'd You Keep Portrayed Hajj As a Bad Things :"(

Turn off your TV and go get your real life.

Akhir-akhir ini, hal semacam "matikan TV" atau "stop nonton TV" terus berdengung melalui sajak, lagu, puisi, prosa, essay dan banyak lagi. Sebelum nantinya post ini menyerukan hal yang sama, mari kita mulai dengan pertanyaan, kenapa?

Banyak jawaban yang bisa diterangkan melalui pertanyaan "kenapa" tersebut. Mungkin terlalu panjang bila dituliskan dalam satu postingan. tapi kalau boleh saya mengambil satu poin saja, mungkin perhatian saya tertuju pada permasalahan "how they portrayed things in TV shows". Ya, penggambaran, penokohan, penyajian, menjadi salah satu hal yang pada akhirnya membuat muak para pemirsanya sendiri. Masaah ini kemudian bisa diikuti oleh faktor-faktor lain seperti unsur edukasi dan lain sebagainya.

Baiklah, langsung saja saya contohkan. Ingat dengan haji Sulam juragan bubur ayam yang hits banget itu. Kalau kenal dan pernah nonton maka sudah pasti juga kenal dengan Muhidin, seorang "pak haji" yang disetting sebagai rivalnya. Dari awal saya tidak setuju dengan penokohan si Muhidin, meskpun porsinya dibuat cukup seimbang antara si baik dan si buruk. Sebenarnya untuk ukuran sinetron, Tukang Bubur Naik haji ini selangkah lebih maju dalam mempermainkan emosi karakter. Haji Sulam tidak digambarkan sebagai seorang yang paling bak, sesekali dirinya emosi dan bisa naik darah.

Oke, saya cabut kata-kata saya tetang selangkah lebih maju. Saya baru tersadar, kalau protagonis di sini bukanlah makhluk sempurna, si antagonis di sini terlalu sempurnya untuk menjadi seseorang yang jahat. Muhidin digambarkan sebagai seorang yang nyaris tidak memiliki sisi baik. Padahal, sekali lagi, dirinya ditokohkan sebagai seorang Haji. Ini cukup serius karena label haji di dalam masyarakat luas, dipandang sebagai label yang dapat memberi contoh baik. Sedangkan satu ini, kontradiktif... sekali.

Ternyata tidak berhenti Muhidin. tadi, secara tidak sengaja saya melihat sinetron lain yang sama-sama menggunakan atribut "hajjah" di dalamnya. Dalam scene tersebut, seorang ibu yang kesusahan, memohon kepada seorang "bu hajjah" perihal masalah hutang piutang. Saya tidak hafal dialognya (yakali mau ngafalin) namun yang saya tangakap (dengan mudahnya), si bu hajjah ini rentenir sejati yang liciknya gak sopan. Alih-alih memberi senyum hangat, justru devil smirk dipertontonkan dengan lugas dalam perannya sebagai ibu hajjah. It makes me sick.

It is how you portrayed the good things?

Percayalah, label haji itu bukan mainan. ilmu agama saya memang masih cetek, tapi saya tahu betul haji itu perjalanan yang kudus, suci dan penuh arti. Saya jadi ingat film "Le Grand Voyage" my all time fave movie. Dalam film tersebut, Haji bukan hanya berhenti dalam label saja, namun sebuah proses. Proses perjalanan yang emosional yang menguras tenaga, hat dan pikiran. Bagaiman bisa pendekatan tentang haji yang sedemikian hebatnya dijungkirbalikkan menjadi seperti apa yang terjadi di televisi Indonesia.

Kelas menengah bisa saja mengelak dari tontonan macam ini. Namun sialnya, berapa persen sih jumlah kelas menengah ke atas di Indonesia. Memang tayangan seperti ini targetnya kelas menengah bawah. Dan itu cilakanya. Dengan bekal pendidikan yang terbatas, masyarakat bisa saja langsungs mencerna apa yang disajikan di dalam TV begitu saja. Mereka lebih suka nonton sinetron beratus-ratus episode ketimbang membaca hasil jurnal ilmiah mengenai apa yang mereka tonton. Mungkin ini cuma ketakutan saya, penilaian orang tentang haji sendiri bisa saja berubah. Yang baik jadi tidak baik dan sebagainya. Cepat atau lambat, bila tidak ada perubahan, ini bisa saja terjadi. Menyedihkan.



 


Selasa, 04 Desember 2012

Kepo, Ciyus, Wow and the next silly things

Setelah sempat terjebak dengan konsep alay (dan ternyata ada yang masih terjebak di dalamnya) muncul lagi ragam bahasa ajaib yang kini muncul di sosial media. Bahasa ajaib ini kemudian menjadi bahasa populer di kalangan anak muda, yang notabene pengguna sosial media paling aktif di Indonesia. Seringkali satu kata ini merupakan satu celotehan begitu saja yang kemudian mendapatkan respon secara viral. Pertama mengundang penasaran, kemudian mencoba mengaplikasikan di bahasa, lalu jadi kebiasaan hingga mendapat  predikat "bahasa masa kini". 

Masih ingat dengan KOWAWA? Setelah saya nyoba nyari-nyari penjelasan dimana-mana (eh niat), Kowawa ini ternyata tidak mempunyai arti. Meskipun ada yang mengartikan kowawa sebagai sebuah ekspresi kebahagiaan, namun secara harafiah memang tidak mempunyai arti (ini juga disampaikan oleh akun yang pertama mempopulerkan Kowawa @babikbinal , yang punya banyak follower di twitter sehingag memudahkan proses penyebaran viral tersebut). Namun fenomena kowawa tidak bertahan lama, sekitar seminggu- dua minggu kangsung habis terseret ramainya linimasa kala itu.

Lalu ada kata Kepo. Kepo sendiri muncul lebih dulu dari kowawa sebenarnya, namun kepo mempunyai pamor lebih ketimbang kowawa. Masih ada yang belum tau arti kepo itu apa? 

Entah siapa yang pertama kali membuat istilah kepo ini. Menurut pengertian saya, kepo itu penasaran, istilah untuk menggambarkan orang yang selalu ingin tahu dengan kehidupan orang lain. Beberapa mengasosiasikannya dengan kata stalker. Parahnya sekarang kepo sudah sampai tahap ketiga, yakni aplikasi di kehidupan sehari-hari. Bayangkan anda berada dalam obrolan santai dengan beberapa teman muda anda yang "social media savvy". Alih-alih menggunakan kata "penasaran" atau "ingin tahu", lebih banyak yang menggunakan kata "kepo" (jangan salah, saya juga kadang begitu). Kepo dinilai lebih up to date dan lebih ringkas penggunaannya. Di sini, saya khawatir, bila hal ini terus terjadi dan berkembang, bukan tidak mungkin bahasa Indonesia yang kaya makin tergeser dengan bahasa ajaib ini.

Kemudian ciyus, miapah dan kata-kata "terus gw kudu bilang wow gitu". Ciyus, miapah dan sederet lainnya itu sebenarnya plesetan dari kata serius, demi apa (dilogatkan dengan bahasa bayi biar keliatan....lucu errr...). Sedangkan "wow" things ini, entahlah muncul darimana, mungkin artinya seperti "jadi aku harus kaget" namun penggunaannya sebenarnya untuk hal yang menjurus pada sinisme (nada yang dipake kudu pake nada sinis). Dua kata ini sebenarnya cukup mengganggu. Parahnya, dua istilah ajaib ini sudah masuk ke media konvensional, sehingga dengan cepat diadaptasi oleh semua orang (terutama anak-anak karena terdengar lucu dan mudah diingat). Di sini semuanya bahasa ajaib ini mulai mengganggu bagi saya.

Sosial media memang lahan yang sempurnya untuk berkreatifitas. Banyak yang menciptakan istilah aneh-aneh melalui platform ini, dan sangat mudah untuk menyebarkannya (melirik tajam ke twitter). Saya pakai istilah bahsa twitter saja, karena memang bahasa-bahasa seperti ini sangat bisa ditemukan di twitter.

Kekhawatiran saya muncul ketika bahasa ajaib ini mulai "menggeser" kata-kata yang sudah terdaftar di KBBI. Bahkan penemuan paling parah ada penggunaaan bahasapopuler ini digunakan dalam soal ulangan di SD. Bila ini ditanamkan dari kecil, dan hal ini dibiarkan terus, maka jangan heran kalau dimasa depan bahasa Indonesia yang kita elu-elukan sejak peristiwa Sumpah Pemuda itu akan punah. Tidak masalah untuk gaul atau selkedar berucap dengan bahasa twitter ini, asal tahu batasnya. Sedih ketika melihat anak SD-SMP hafal di luar kepala istilah ciyus, wow, miapah namun tidak tahu majas litotes itu apa. Sosial media memang keren, tapi ketika itu mengubah hal yang paling mendasar di negeri ini, yakni bahasa, maka itu tidak keren lagi. Itu merusak.


Terus, setelah ciyus miapah dan sebagainya itu, ada apa lagi di sosial media?

Jumat, 26 Oktober 2012

Dapur dan Si Sexy

Kemarin malam, saya tergelitik untuk sedikit beradu argumen dengan salah satu akun informasi kota solo di twitter. Si admin mengatakan (via twitter) kalau dia suka cewek yang bisa masak, karena cewek yang bisa masak dianggapnya seksi. Saya setuju dengan cewek masak itu seksi. Lalu dia melanjutkan perihal keseksian cewek dengan masak dengan studi kasus seorang Farah Quinn. Oke, Farah Quinn ya, tanpa dia harus repot-repot masakpun, secara fisik dulu deh, dia sudah masuk kriteria seksi untuk ukuran televisi Indonesia. Kulit eksotis, cara bicara yang ditata sedemikian rupa, dan yah, like you know, it her's sex appeal which comes out in the same level with Jupe's. 

Lalu saya "sedikit protes" dengan meluncurkan pertanyaan, lalu bagaimana dengan ibu Sisca Soewitomo? yang sedari saya kecil rajin berada di kitchen set studio Indosiar. Untuk urusan masak, ibu satu itu sudah tidak bisa diragukan lagi kemampuannya di bidang masak memasak. 

Kamudian si admin menjawab dengan penuh diplomatis, "bagi saya dua-duanya seksi"

Kalau atribut seksinya hanya melalui "kebisaan masak" dua-duanya seksi. Namun penempatan Farah Quinn sebagai studi kasus pertama tentang hubungan "masak itu seksi" jelas punya makna yang berbeda. Bisa jadi dua-duanya seksi, namun satu dengan yang lain punya interpretasi yang berbeda. Bu Sisca murni dengan keahlian masaknya, namun ketika melihat Farah Quinn? tanpa melihat dia masak, orang dengan mudah menempelkan atribut seksi ke ibu muda yang akhir-akhir ini kok semakin jarang pake kaos ketat itu :( (heh!)

Bisa dibilang, sekarang, semua yang berhubungan dengan dapur, sedang naik daun. Tidak seperti dulu yang urusan dapur murni urusan ibu-ibu (walaupun dari dulu juga chef kondang di dunia hampir selalu ada di tangan seorang lelaki), sekarang para pemuda-pemudi juga sudah mulai menggiati dunia kuliner ini. Perkembangan memang tidak bisa dihindari, pun juga dengan perubahan pasar (its all about the market things, rite?). 

Selain memang demand yang semakin banyak karena kemunculan hotel-hotel yang menjamur, imej chef saat ini juga tak bisa lepas dari konstruksi media massa. Maska itu bukan pekerjaan rumahan yang kolot, masak itu sesuatu yang fun. 

Sederhana saja, selain acara "Selera Nusantara" di MNC TV (yang entah kenapa malah banyak plesir ke luar negerinya) acara masak mana yang masih dipandu oleh ibu-ibu? sekarang semua serba muda, bahkan ada istilah selebchef (yang saya tidak tahu artinya itu apa). Untuk host cewek bisa dipastikan semua muda, cantik dan memenuhi semua konsep seksi yang kekinian (tau chef Winnie? cba googling kalau gak tau). Bisa jadi, ini merupakan strategi media, supaya acara masak-memasak tidak hanya ditonton oleh kaum hawa. Melebarkan segmentasi pasar.
 
Bosan? khusus untuk ibu-ibu, ibu muda atau mbak-mbak yang belajar masak, sekarang juga banyak acara masak dipandu dengan chef-chef ganteng. Sekali lagi, itu usaha media, mendapat perhatian kaum hawa untuk lebih konsen (entah ke masakan apa ke yang masak) ke acaranya. Karenanya, gak sedikit yang bilang, cowok bisa masak itu seksi. 

Dapur dan seksi, pada akhirnya hanyalah dua hal berbeda yang kini berhubungan satu sama lain. Seksi bagi saya hanyalah sebuah konsep dan imaji belaka dan bisa dibentuk semau-mau kita. Sedangkan dapur (dan urusan di dalamnya) merupakan skill, keahlian, ketekunan dan sebagainya. Toh pada akhirnya, mau seksi atau tidak, yang terpenting adalah masakannya dimana urusannya bukan lagi "seksi atau gak seksi" tapi "enak atau gak enak".

  
 

Selasa, 23 Oktober 2012

Here it comes, The Jungle!

So here I am, fresh graduate universitas terkemuka di kota saya sendiri (kalau Indonesia kayaknya belum, tapi katanya menuju puncak gemilang cahaya bersama Akademi fantasi sih) kini sedang dalam fase menjadi seorang Jobseeker. Apakah cuma saya sendiri? oh tentu tidak, banyak (banget) di luar sana punya titel baru ini. Dalam seketika, euforia enaknya jadi sarjana menguap sudah.

Istilah "Tuhan memang suka bercanda" ternyata benar. Saya merasakan Tuhan sedang sedikit bercanda dengan saya ketika melihat ratusan orang ngantre masuk sebuah ruangan besar (dan antreannya hampir melingkari separuh gedung itu sendiri) untuk memasuki perhelatan akbar disebut: "Jobfair".

Memang bukan kali pertama ke jobfair, tapi ini yang paling masif. Mau tidak mau, saya ikut berubah menjadi pasukan cendol manusia yang terus merangsek ke dalam ruangan. Banyak yang udah rapi, wangi, bersih, oke (untuk beberapa kasus banyak yang dress up sedemikian rupa) dan ketika masuk ruangan semuanya luntur. Saya sudah tidak bisa memperdulikan lagi siapa saja disana, siapa yang cakep, siapa yang jahil nyolek pantat orang (if you the one who did this, please, bertobatlah).

Dan ketika di tengah keramaian gila itu, saya berpikir satu hal: THIS IS THE JUNGLE.

Semuanya macam singa kelaparan yang rebutan daging di setiap booth perusahaan. Saya adalah salah satunya. Ikutan mengantri, sambil sesekali menelap peluh, ribet dengan berkas sendiri, dari satu booth ke booth lainnya, belum termasuk kalo perusahaan rada rese dengan langsung ngasih tes, hari itu juga, di luar area jobfair (di sini kampus UGM) yang jauhnya amit-amit (true story). But hey, that was the point. This kind of jungle, what's you expect? If you want the job, do the job.

Dan akhirnya saya hanya apply 5 perusahaan (dari 51 perusahaan yang pamer lowongan hari itu), dua diantara sudah tes dan ternyata tidak lolos. Haha, not my luck, or they just had their great loss (pede itu perlu). It is not easy as I thought. 

Jadi kalo ada yang ngeluh "I hate Monday" karena kudu masuk kerja lagi, mending resign aja gih. Tukeran sama saya. Itu aja sih.


Jumat, 07 September 2012

Bonus Chapter : Finale

Hidup, bagi saya mirip-mirip dengan kehidupan di game. Mulai ketika mentas jadi bayi, kita seolah menjadi satu karakter di dalam game anak yang sedehana. Kita belajar mengenal benda, mengingat nama dan sebagainya. Lalu lanjut tumbuh menjadi anak-anak umur sepuluh tahunan yang hidupnya sangat bewarna-warni. Mirip seperti petualangan Crash Bandicoot yang bewarna-warni, melompat kesana kemari dengan senyum cerianya yang lebar.

Memasuki smp atau sma mulai silakan memilih, sebagai anak manusia kita mulai diajarkan untuk memilih sikap, memasuki fase yang lebih kompleks dan cerita hidup yang mulai berkelak-kelok. Mirip sama game adventure tomb raider (regardless her boobs, that's adult material) yang mecahkan teka teki ini itu, dengan kekuatan cerita yang lebih serius. Atau bisa juga seperti Brave Fencer Musashi yang masih bernuansa warna-warni namun dengan perkembangan karakter yang berarti.

Dan masa kuliah, masa yang baru saja saya habiskan ini. Saya seperti kembali new game di salah satu game Jrpg. Masuk kuliah dengan kondisi benar-benar nol besar. Dilanjutkan naik tingkat atau level (semester) dan mulai mengerti dengan hal-hal baru, ilmu baru, namun juga dengan diiringi kompleksitas cerita hidup yang berkembang. Tiba pada penjurusan bener-bener seperti kita memilih job di Final Fantasy. Mau jadi jurnalis, video maker, praktisi iklan sama seperti mau jadi archer, khight atau mage. 

Kehidupan berjalan, dalam kasus saya saya bisa memilih tiga spesialisasi atau tiga job sekaligus. Namun pada akhirnya saya harus memilih mana yang ingin lebih saya perdalam. Tidak lupa, disamping itu, perkembangan masalah mulai lebih berat, muncul bumbu drama dimana-mana. Mini game atau quest juga muncul dan bisa jadi mempengaruhi cerita keseluruhan. At this point. it's all depends on your choice. Your wise.

Kalau boleh membagi, kuliah pun dibagi dalam beberapa chapter. Chapter finalnya tentu saja ketika diidentikkan dengan final boss-nya segala ujian. Yep, those kind of thesis, and finally I made it. Hahaha, my final boss was a professor, by the way. Tough one. But defeated in one hit kill (maksudnya, sekali ngadep revisi langsung di tanda tangan gitu :D)

And the rest, I name it with bonus chapter. Yah kalau di game ini semacam bagian tambahan setelah final bos dikalahin. Penekanan lebih ke dalam cerita. Sama dengan disini. Cerita saya, petualangan saya habis di sini. Dimulai dengan saya yang memakai jubah-hitam-aneh dengan highlight oranye pada samir dan topi berbentuk aneh juga. Toga. Finally I made it.

Seketika dalam satu hari, ingatan memori mengajak kilas balik di awal chapter kuliah ini. Semuanya. Untuk kemudian kembali tersadar, bahwa selanjutnya yang tersisa adalah credit title. Cerita saya di masa kuliah, ditutup ketika pak dekan memindahkan tali tiga dari kiri ke kanan. Selebihnya seperti ending Final fantasy VIII (ingat cuplikan adegan-adegan konyol di credit title?). Adegan foto-foto rusuh bersama teman, mengucap terima kasih, menerima kecupan selamat dari orang tua. Semua bergerak cepat seiring dengan credit title yang bergerak cepat pula.

Bonus chapter : Finale, selesai di sini.



Sekarang saya bagai kembali menjadi lakon anyar di game anyar. Yang lebih liar, dengan 0 exp, namun dengan sisipan gelar baru. Petualangan baru menanti saya. Bismillah....


*thanks @herkayanis buat fotonya


Rabu, 15 Agustus 2012

Sotoy Mode: Ngebahas Iklan Ramadan :)

Selama bulan puasa, apa aja sih yang biasa nongol di tv?
dari sinetron religi (disebut religi mungkin karena tokoh utama pake jilbab, kontennya mah hampir semua bap... *sinyal ilang), acara khotbah dadakan, adzan maghrib yang selalu dinanti, acara sahur dengan guyon kasarnya, drama reality, kuis dadakan dan...... iklan edisi puasa.

Yang terakhir ini yang kadang mencuri perhatian. Biasanya banyak produk, dari provider, rokok, sirup (YES, INI PALING DISTURBING), dan banyak lagi yang berlomba ngiklanin produknya di bulan ramadhan. Secara bungkusnya tentu saja, dipercantik dengan sentuhan religi. Dari sekedar kostum, atau jalan cerita iklan yang terkesan jadi khotbah dadakan. Beberapa iklan dibuat berseri, biasanya hadir di awal puasa (bahkan sebelum puasa untuk teasernya) dan ditutup ketika menjelang lebaran.

*jadi mari mulai analisis ngehe ini

Ada beberapa produk yang rajin tampil di bulan puaa. Untuk food and beverages, semuanya hampir sama. Klise. Paling juara (secara artistik, setidaknya dibuktikan dari tingkat frekuensi "menelan ludah" ketika melihatnya) dipegang sirup Marjan Boundon. Ya gimana gak ngeces itu ngeliat sirup bercampur es buah dengan angle cantik dishoot berulang-ulang di siang hari. Tahun ini formulanya sama, ada dua bagian. Gak ngerti versi resminya namanya apa, tapi ceritanya tentang persaingan bocah-bocah di lomba dayung. Yang menang dapet sirup. Klise. Yah, jujur, gak terlalu tertarik dengan ceritanya, tapi visual sirup tumpah ruah di atas es, masih megang.

Yang kedua, biasanya mie instan. Yah, standar semua sih. nothing special.

Lalu ada iklan korporat. Ada beberapa tahun ini seperti Pertamina, Djarum dan sebagainya. Secara umum isinya sama, mengajarkan kebaikan, ketulusan dan lainnya.Dulu, Djarum (menurut saya) salah satu juaranya di persaingan iklan korporat. Saya gak tahu persis nama versinya apa, tapi iklan itu kuat banget karena lantunan lagu Ebiet G. Ade, yang emang powerfull. Selain itu jalan ceritanya yang sederhana juga ditampilkan secara wajar nggak lebay. Tapi ya itu, Djarum (eh agensinya ding) kok kayaknya cuman mengulang cerita aja ya. Kali ini tentang mahasiswa yang kuyup kehujanan yang pengen belajar (atau baca buku) di toko buku, tapi gak dibolehin si empunya. Endingnya bisa ditebak, istri si empunya sakit, dan dokternya ya si mahasiswa itu tadi. Standar dan kayak mendaur ulang cerita-cerita yang udah ada. Ini mungkin masih mending (ya setidaknya ada twist si mahasiswa itu ternyata mahasiswa kedokteran :D), untuk iklan korproat Pertamina malah mirip sama iklan Djarum yang pake backsound Ebiet G Ade tadi. Settingnya sawh, bapak petani keriput dan sebagainya. Yah gitu deh, semuanya kayak kejebak klise, kejahatan dibalas kebaikan.

Nah yang seru biasanya iklan provider. Dari banyak provider yang malang melintang menawarkan promo lebaynya di bulan ramadan, tiga provider yang menurut saya menarik perhatian. Yang pertama iklan XL. Pake style berseri (udah dimulai sebelum puasa, versi audisi idol). Entah kenapa, tapi jingle Rocker Juga Manusia-nya Serius yang jadi andalan utama kok kurang menggigit. Kesannya ketinggalan jaman banget. Pemeran utamanya mas-mas rocker juga kurang greget. Kentang banget aksinya (and yes, teriakan rocker juga manusianya udah sampe taraf ganggu). yang masuk edisi Ramadan yang versi ceramah sama edisi konser yatim piatu (mungkin pas lebaran nanti ada lagi). Gampang dilupakan.

Yang kedua, iklan Axis. Setelah tahun kemarin mencuri perhatian lewat karakter ikonik Joni Blak-blakan (serius ini seri yang kcak, walaupun endingnya gak kena) kali ini kembali memunculkan ikon baru yakni si...... Hap. Cowok gendut yang bisa menangkap apa saha, cita-citanya jadi penjaga gawang. Pertama kali muncul, saya sama sekali gak ngerti ini iklan maksudnya apa, dan si Hap ini kenapa? atau ngapain? baru setelah dengerin bener-bener isi iklannya lagi berkata... ohh. Ya walaupun agak maksa antara konten iklan dan kreatifnya, tapi setidaknya penampilan orang gendut berpakaian ungu ketat itu lumayan bisa diingat. Meskipun kalau dibandingin si Joni, si Hap ini kurang karismatik dan kurang ikonik. Oiya, paling juara adalah jinglenya yang dinyanyiin The Changcuters. Hap..haaap...hap..haaap...tangkap!...tangkap!. Oiya, ada yang inget promonya iklan Axis apa?

Satu ini mungkin yang banyak dibicarakan. Meskipun mungkin bukan iklan yang khusus dibuat untuk edisi Ramadan. Iklan provider Tri. Iklannya simpel, ada dua versi, berbicara mengenai konsep bebas. Secara konten ini mengena, karena yang dibahas adalah masalah yang lekat dengan sehari-hari, yakni "pilihan" untuk bebas. Menariknya juga karena ada sisi ceweknya di sini. Gender main disini. Audiens wanita seperti terwakili di sini. Copynya juga menarik. Dimulai dengan "kebebasan itu...." lalu ada permainan kata-kata tentang konsep bebas. Menarik (bahkan ada teman di facebook yang memperdebatkan kata-kata "bebas itu..." yang katanya ngajarin jelek :D). Selain itu visualisasinya enarik, modern dengan soft focus dimana-mana (ini murni sotoy), ditutup dengan dramatis. Versi cewe dengan adegan pemerannya meluk seseorang, versi cowok dianya ngeboncengin cewek, dan ikut konvoy seketika fokus mulai berpendar dan cahaya lampu berubah jadi light bulp yang keren. Penjelasan promo juga dibuat singkat lugas dan gak bertele-tele. Promo Always On cukup terlihat dan bisa dipahami. Secara garis besar, saya pribadi suka dengan ide ceritanya.

nah sekian dulu dengan analisis iklan ngehe saya. Semua yang ditulis di atas murni kesotoyan pribadi. Jangan langsung percaya atau bahkan jadi pedoman. Yang jelas iklan-iklan di Indonesia makin gila kreatifnya. Salut buat orang-orang agensi yang bisa bikin iklan super kreatif (and yes, it triggering me to join them as an ad man). Hidup Iklan Indonesia!
 


Selasa, 03 Juli 2012

kenalan

Kalau boleh jujur, ada satu hal yang paling membuat saya canggung. Kenalan dengan orang baru.

Hey, it’s nice to know somebody new

Ya, emang sih, tapi ketika hal itu membuat jantung berdegup dua kali lebih kencang, mungkin jawabannya sedikit berbeda. Saya memasukkan sifat saya yang ini dalam kategori weakness untuk slot SWOT saya. Padahal, berkenalan sebenarnya hal yang sederhana. Dengan berkenalan, satu sama lain dapat mengerti identitas masing-masing. Menukar nama, nomor telepon, ngobrol basa-basi biar gak terlalu garing dan sebagainya.

Saya coba merunut apa yang terjadi ketika saya kecil, karena saya masih percaya, semua yang terjadi sekarang ini ada hubungan kuat dengan aspek historis. Dan saya menemukannya.

Sebagai anak ragil, sejak kecil saya seperti dititahkan untuk menjadi anak super penurut. Untuk hal-hal sepele seperti nonton channel tv, berbagi mainan dan sebagainya, walaupun punya kadar ngeyel tapi itu sangat rendah. Selebihnya saya patuh, nurut dan endingnya nrimo. Pun dengan hal baru. Saya boleh mencoba jika kira-kira saya dapat ijin. Dan kebanyakan gak dapet ijin (bahkan ketika makan bareng keluarga besar, saya cuma diperbolehkan pesen teh anget, padahal pengennya sih ini itu). Katanya biar gak sakit flu. Dan itu terjadi untuk hal baru selanjutnya. Semua serba tergantung dengan restu orangtua. Dan ketika tiba masa orangtua “melepaskan” anaknya, seringkali ada rasa takut, tidak pede dan lain sebagainya, terselip di benak sang anak karena tidak mendapat legitimasi dari orang yang menurutnya paling bisa dipercaya. Singkatnya, si anak jadi mudah ragu-ragu. Gampang insecure kalo di jaman sekarang.

Pun dengan saya. Lingkungan baru (termasuk dengan orang-orang di dalamnya) jelas masuk definisi hal-hal baru. Seperti di lingkungan kerja atau kuliah. Saya harus memaksa diri untuk bisa berkenalan dengan orang lain. Mengacuhkan rasa malas, menanggalkan rasa gengsi dan sebaginya. Ada waktu ketika saya tersadar akan hal ini, yakni pas masuk kuliah. Saya berjanji untuk lebih “awor” “gaul” atau istilah-istilah lainnya. Sebenarnya gak ada masalah karena teman kuliah bisa ketemu setiap hari, dan secara naluriah emang harus kenal kan. Tantangannya adalah kesibukan di luar kuliah, orang baru di luar hal akademis. Jadilah saya ikut-ikut UKM. Meski pada tahun pertama saya cuman bisa bengong atau senyum dikit ketika diajak bercanda. Saya juga mencoba-coba mendaftar suatu komunitas, yang sering ada kopdarnya. tapi ternyata juga saya gak pernah dateng kopdarnya.

Sekarang perasaan takut berkenalan dengan orangbaru berubah menjadi perasaan canggung (atau dulu canggung sekarang takut?). Mungkin banyak yang merasakan.Contohnya, terjadi ketika sehabis liputan kemarin, para wartawan berkumpul untuk makan bareng. Pertama rasanya enggan campur males (terlebih dengan adanya sosial media, tempat pelarian paling hip sedunia). Harus ada yang mancing untuk kenalan dulu baru deh rasanya canggungnya mulai lumer. Ketika udah ngobrol padahal juga semuanya biasa aja. Yakin, bukan cuman saya yang ngalamin kayak gini, tapi hal macem ini sudah mencapai taraf mengganggu.
 
Di era yang katanya “IP mah gak usah tinggi-tinggi, yang penting koneksi dimana-mana”, berkenalan dengan orang baru sudah pasti jadi bagian di dalamnya. Dan seakan-akan hal itu sekarang menjadi masalah serius di mata saya. Menaklukan rasa takut dan canggung, meninggalkan rasa malas dan gengsi, tapi memang harus dijalani. 

Kan, cuman masalah kenalan aja bisa nyampah posting segini panjangnyanya, kumat dramanya.

Minggu, 03 Juni 2012

Random Conversation : Jaman Dulu dan Radio

semua ini berawal dari insert investigasi....

Jadi saya mengalami perbincangan yang menggelikan tapi juga mengesankan bersama ibu saya. Saat itu insert seperti biasa, nayangin informasi klenik dan kali ini temanya adalah benda-benda peninggalan Soekarno setelah sebelumnya nayangin tentang nyi roro kidul (hell yeah, saya apal semua episodenya). Nah, karena segala informasi tadi dihadirkan selebay mungkin oleh insert, maka ibu saya jadi tertantang dan gak mau kalah. Beliau bercerita tentang pengalaman spiritualnya. Dan kali ini berhubungan dengan leluhur saya.

Jadi diceritakan, kakek buyut saya cara meninggalnya berbeda dengan orang kebanyakan. Dari cerita ibu saya, kakek buyut suka melakukan semedi, walaupun bisa dibilangnya imannya sangat kuat, alhasil almarhum selalu sehat dan berusia panjang (111 tahun! hail para leluhur kita!!!!). Saat itu tahun 1960-an, emak saya masih SD, dan waktu itu siang hari, emak saya sedang nyinom (membantu hajatan kerabat dengan menjadi pelayan) di lapangan, buyut saya memanggil nenek saya untuk mengumpulkan cucunya. Setelah cucunya pada ngumpul buyut saya berkata berderet-deret pesan-pesan dan diakhiri dengan ucapan "aku jam loro arep mabur" (aku jam dua akan terbang).

Dan ajaib, tepat pukul dua, kakek buyut saya meninggal dunia.

Bukan, cerita bukan berhenti di situ. Saya lalu penasaran dengan apa yang terjadi di era 60-an, jaman dulu banet, ketika telepon masih jadi barang langka. Semua alat elektronik masih jarang. Rumah yang ditinggali ibu beserta leluhur sayapun hanya diterangi tintir (semacam lampu teplok). Lalu iseng saya tanya

lah, nek wengi peteng banget berarti? (wah kalau malam berarti gelap banget?)

Kemudian ibu bercerita, kalau malam, di jalan desa dipenuhi kerlap-kerlip dari obor yang dipasang di depan rumah (saya membayangkannya desa saya kayak di dukuh paruk di film sang penari :)). Memang gak seterang sekarang, tapi lebih kerlap-kerlip. Yang meriah kalau pada saat lebaran, cahaya dimana-mana, dan di depan rumah pasti disediain gentong berisi air beserta siwur (semacam gayung yang dibuat dari batok kelapa). Gunanya agar kalau ada orang lewat depan rumah, si orang itu bisa mampir untuk minum dari air gentong. Kalau jaman sekarang boro-boro, pager rumah aja tinggi-tinggi banget, dan lihat orang minum dari kran air ledeng pun, kita udah was-was.

Radio 

Ada yang menarik dari mbah buyut saya. Yakni radio. Yak, barang elektronik masih sangat langka. Dan di kampung buyut saya, hanya dua orang yang punya radio, mbah Wiryo dan buyut saya (FYI, mereknya philips, emak saya masih apal mereknya). Kalau sekarang mungkin radio hanya didengarkan sambil lalu, tapi jaman dulu radio bener-bener jadi alat propaganda yang sangat efektif. Misalnya saat pak Soekarno sedang pidato kenegaraan. Bisa dipastikan sawah sepi, warung sepi, jalanan sepi. Semua orang kampung berkumpul di gubug samping rumah, mendengarkan pidatonya lewat radio philips milik kakek buyut saya. Semuanya (kata ibu) menyimak pidatonya dengan serius.

Bukan cuma pidato kenegaraan yang disimak. Pernah juga, gubug samping rumah ramai karena ada siaran tinju di radio. Iya, tinju di radio, jadi ya cuman nyimak komentator nyerocos aja di radio. Dan itu jadi perhelatan favorit ketika Mohammad Ali jadi primadona tinju. Jadi heran, jadi dulu orang dukung Mohammad Ali tapi gak tau mukanya kaya gimana, soalnya cuman nyimak lewat radio.

Pernah juga, waktu itu kakek buyut saya pernah diundang ke gunung karena ada hajatan dan diselenggarakan wayang semalam suntuk. Lalu saya tanya

lah emang mbah dalang? (Lah, emang kakek buyut dalang?)

Ternyata kakek buyut saya bukan dalang. Wayang semalam suntuk yang dimaksud adalah siarang wayang yang disiarkan lewat radio. Jadi semua orang desa kumpul, dan menyimak omongan dalang. They're visualized by their own mind. Jaman dulu mungkin biasa, tapi kalau didengarkan di jaman sekarang terdengar lucu dan unik.

Kalau saja perkembangan teknologi mandeg, saya ngebayangin, saya nonton avenger lewat radio. Mungkin bukan nonton, tapi nyimak, dan the Avenger sendiri bukan film, tapi drama radio.

:))




Senin, 07 Mei 2012

An inconvenient truth?

Ternyata ada banyak hal di dunia ini yang saya belum tahu. Pergerakan awan mendung yang tiba-tiba dari solo ke boyolali dan boyolali ke solo, animo penonton the avenger yang ternyata gila banget sampai pada prinsip seorang waria. Yang terakhir, itu serius, dua rius kalau bisa. Itung-itung pemanasan atau nyari bekal sebelum nonton film Lovely Man, yang melambungkan nama Donny Damara. Waria? prinsip?

*semoga ini bukan spoiler project teman saya hehehe*

Dalam hidup ini seberapa jauh mengenali prinsip? sesuatu yang prinsipal? sesuatu yang katanya dipegang penuh dengan penguatan komitmen di dalamnya. Apakah benar-benar "straight" atau masih belak-belok? 

dari obrolan singkat - karena kekenyangan- semalam bareng teman saya yang projectnya tentang waria, sedikit banyak saya mulai ada pemahaman tentang konsepsi waria, walaupun kadang masih menabrak langsung logika atau nalar saya. Dari sekian banyak fakta yang saya dapatkan (melalui hasil risetnya) ada satu fakta menarik di sini. Waria yang diwawancarainya mempunyai prinsip untuk tetap menjadi waria sampai mati. Saya takjub, ternyata pikiran saya sedemikian sempitnya tentang waria. Iseng saya cari di wikipedia tentang definisi waria


Waria (portmanteau dari wanita-pria) atau wadam (dari hawa-adam) adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupannya sehari-hari. Keberadaan waria telah tercatat lama dalam sejarahdan memiliki posisi yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Walaupun dapat terkait dengan kondisi fisik seseorang, gejala waria adalah bagian dari aspek sosial transgenderisme. Seorang laki-laki memilih menjadi waria dapat terkait dengan keadaan biologisnya (hermafroditisme), orientasi seksual (homoseksualitas), maupun akibat pengondisian lingkungan pergaulan.


Selama ini, saya selalu mengira, menjad waria atau portmanteau (entahlah, tapi istilah ini keren) disebabkan oleh dua hal terakhir, orientasi seksual dan kondisi lingkungan pergaulan. Malah saya menambahkan ada yang jadi waria karena motif ekonomi (seperti di film Lovely Man dan beberapa film lainnya). Nah untuk yang terakhir ini yang menyebabkan kesan negatif waria mulai terbentuk. Ketika melihat penjelasan singkat wikipedia saya baru ngeh, apa itu hermafroditisme. Kalau dilihat sekilat memang mengacu pada kata hemafordit. Karena penasaran, maka saya coba googling istilah hemafroditisme dan saya menemukan artikel menarik tentang ini.

Karena saya bukan ahli genetika (sebenarnya gak ngerti :p), maka saya sedikit ngutip-ngutip tulisan Gunawan Kosasih dari Bagian Anatomi FK UI. Sebelum jauh jadi laki-lakipun, jenis kelamin manusia ditentukan oleh tiga hal yakni genetik, sex organizers dan kelenjar-kelenjar endokrin. Sekalipun demikian, mau itu nantinya laki-laki atau perempuan, nyatanya tidak ada seorang individu yang benar-benar 100% laki-laki atau perempuan (nah loh!). Setiap orang juga memiliki sifat-sifat dari jenis kelamin yang berlawanan meskipun dalam tingkat rudimeter, selama hal itu tidak berlebihan. (nah, dari sini saya jadi rancu dengan istilah "lelaki sejati" :D)

Nah penyebab hermafroditisme itu secara singkat dijelaskan menjadi tiga faktor (Dalam hal ini gangguan dalam pertumbuhan jenis kelamin) yakni :
1. lemahnya rangsang pembentukan jenis kelamin (faktor genetik)
2. perubahan reaksi organ-organ terhadaprangsang pembentukan jenis kelamin
3. perubahan-perubahan dalam keadaan biologik sekelilingnya.

Hal-hal ini dapat mengakibatkan differensiasi yang tidak sempurna dari tingkat yang ringan hingga yang berat. Balik ke awal, sehingga waria dalam "golongan" ini memang terjadi katakanlah "dilema" yang sifatnya genetik. Sehingga dia memilih (walau sebenarnya bukan pilihan) untuk menabrak logika yang sudah ada. Dia tahu, secara agama dia telah menentang, tapi dia menyerahkannya semuapada Tuhan. Toh Tuhan nanti yang menilainya, bukan manusia. Dia berpirnsip sedemikian kuat, di atas desakan genetik kontra stigma masyarakat yang membuntutinya.

Lalu bagaimana dengan kita? ada yang bilang kalau gak punya prinsip kayak bencong atau banci, tapi nyatanya merekapun juga mempunyai prinsip, sangat kuat malah? it is your life and you decide it.

Kamis, 15 Maret 2012

Oleh-oleh Taping Stand Up Comedy Metro TV

Kembali berbicara tentang Stand Up Comedy, yang kini makin marak diadakan dimana-mana. Jadi ceritanya siang tadi saya bersama beberapa teman membulatkan tekad untuk nonton taping Stand Up Comedy Metro, alah satu acara yang khusus menampilkan stand up comedy secara rutin di tv. Gak tanggung-tanggung, lokasinya yang jauh (untuk sekedar nonton stand up comedy) tidak menjadi penghalang untuk mengumpulkan niat nonton. Tentu bukan tanpa alasan, tampilnya comic senior dari Stand Up Metro seperti Soleh Solihun, Mongol, Sammy, Ence Bagus dll yang turut hadir menjadi motivasi tersendiri.

Acara seharusnya mulai pukul 11, dan kita baru tiba dilokasi sekitar pukul 12. Telat sedikit gak papa, soalnya jarak dari tempat kita berangkat sampai lokasi cukup jauh, selain itu kita juga udah "reservasi tepat". Kenyataan meleset sangat jauh, sesampainya di lokasi, auditorium sudah penuh, kita terpaksa menonton sambil berdiri karena kursi sudah penuh terisi. Sempet bingung dengan makna "reservasi". Namun akhirnya setelah ada jeda istirahat untuk sholat dan beberapa penonton membubarkan diri, baru kita mendapat tempat duduk.

Pamit

Sabtu, 9 Maret 2012. Perjalanan saya resmi berakhir di sini. Walaupun tidak sempat mengatakan pesan singkat terakhir karena ada acara mendadak, tapi setidaknya saya tidak lupa berterima kasih, walaupun hanya melalui dunia maya. Kurang lebih empat tahun saya berproses di sini, LPM VISI. Dan tadi adalah proses puncuk musyawarah bear, yakni pemilihan PU. Momen tersebut adalah momen terahir saya untuk menggunakan hak dan kewajiban saya sebagai anggota, sebelum nantinya jadi alumni. Senang rasanya, ketika berakhir saya bisa tersenyum lebar melihat penerus-penerus saya yang penuh semangat dan rasa optimis. Walaupun nantinya pasti akan banyak yang terjadi, tapi biarlah saya menikmati momen bahagia sekaligus mengharukan ini.

Saat ini saya tersenyum dalam haru. Membayangkan semua yang telah saya lalui dengan organisasi ini. Dimulai dari diklat -menahan kantuk- di Al Irsyad (dan surprisingly saya mengakhirinya di Al irsyad pula), menjadi anggota angin-anginan, Dinobatkan sebagai pengurus litbang dengan kemampuan jurnalistik yang mumpuni (dulu sih katanya gitu) lalu diangkat menjadi Pemimpun Umum, sebelum jatuh sebagai orang paling pengecut sedunia, dan harus terseok-seok untuk keluar dari jeratan itu.

Sabtu, 14 Januari 2012

Wanita : Beda Dulu Beda Sekarang

Tempo hari saya pernah bikin twit "why women are so complicated?"
Ya jujur itu pandangan saya. Dalam konteks memahami seorang wanita, itu bukan hal yang mudah. Kata-katanya semiotik, ungkapannya suka bias, delik matanya mengandung sejuta arti, gesture yang kadang susah ditebak dan sebagainya. Namun, serumit apapun, yah, you are the women and we are the man, we loves you, yeah, hukum dunia itu mah.

Tapi di atas semua itu, nasib jaman memang membentuk banyak karakter baru. Banyak faham baru. Dulu dan sekarang tentunya berbeda. Ini makin saya tangkap setelah terjadi forum antah berantah antara 4 pria dan 3 wanita semalem. 

Selasa, 03 Januari 2012

Catatan seorang social media addict :D

Setelah nahan jari buat gak nulis tentang social media, akhirnya hari ini saya tulis juga. Padahal banyak banget artikel atau opini tentang social media. Tapi ya berhubung saya juga pengguna social media, dan mungkin sudah masuk dalam tahapan addict, kok gak komplet ini blog tanpa ada nyinyiran tentang social media hahahahaha.

Sebelumnya ini bukan artikel yang berat, lagi-lagi ini hasil pengamatan main-main di social media. As we know it, social media yang lagi hits sekarang bukan lagi facebook melainkan twitter. Dan ada dua hal menarik yang pertama datang dari pertanyaan adek tingkat di twitter, kenapa orang lebih suka ngetwit ketimbang main facebook. Dulu saya jawab sekenanya, yaitu ada faktor realtime yang lebih kerasa di twitter. Apalagi didukung dengan kecanggihan gadget yang makin mendukung hal ini. Melalui twitter orang dengan mudah terkoneksi jika dibandingkan facebook.

Selasa, 27 Desember 2011

Telaah the hitz trans tv

Berhubung malam ini saya merasa sangat bosan di rumah, timeline gak begitu oke, baca portal berita tambah pusing, ya isenglah saya nyalain si kotak bergambar itu. Dan akhirnya saya tercenung pada salah satu tayangan baru di Trans TV. Sebenarnya emang gak baru-baru amat, udah sebulanan muncul di tv. Iya, The Hitz. Mungkin rada ketinggalan ya ngebahasnya? tapi emang kalo tangan gatel gimana lagi. pffft....

Kamis, 22 Desember 2011

Rokok dan Janji

Bicara tentang rokok? ah pasti gak ada habisnya. Udah banyak banget diskusi mengenai rorkok, pro dan kontranya, positif dan negatifnya. Tapi ujungnya? yang ngerokok tetep ngerasa kampanye anti rokok itu berlebihan, sedangkan non smoker harus tetap pasrah dengan menjadi perokok pasif.

Jadi ketika diskusi alot itu terjadi, gampangnya adalah si anti rokok ngotot dan si perokok kekeuh dengan pendapat denialnya. Saya sendiri bukan seorang perokok. Pandangan saya terhadap rokok jelas, forbidden. Keberpihakan saya ada dimana itu jelas. Tapi saya malas ngebahas si perokok dan si anti rokok di sini. Udah banyak banget diskusinya, sampe ke kalangan elit sono, tapi ya masih begitu aja. Saya cuman mau cerita kenapa kok saya memilih kekeuh untuk tidak merokok.

Sabtu, 17 Desember 2011

novelty night

Fira Basuki emang top!

Mungkin seperti itu luapan otak saya sepuluh menit yang lalu, setelah menutup kover novel Brownies, walau belum bener-bener tuntas ngebacanya. Memang bukan novel baru, itu pun juga adaptasi dari naskah film Browniesnya si Hanung Bramantyo. Tipe novel yang sedikit feminis dan bukan juga model novel yang membuat otak berpikir dua atau tiga kali untuk mencerna kata-kata di dalamnya.

I just simply love it.

Jumat, 02 Desember 2011

Memaknai Galau

Galau.
Satu kata ini memang sangat-amat-begitu membahana di tahun ini. Padahal keberadaannya jelas sudah ada dari jauh-jauh hari. Entah siapa yang meciptakan kata galau, tapi dia patut bersyukur pada twitter karena telah melambungkan namanya ~hingga memunculkan begitu banyak arti~. Secara harafiah galau dapat diartikan sebagai ber.ga.lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).

Syahrini dan Self Branding

Ketika saya sedang "berusaha" untuk santai-sore-sebelum maghrib-dengan nonton tv, tiba-tiba stasiun tv menayangkan liputan khusus (jangan harap berita-berita yang ribet, karena konteksnya mau nyantai) tentang.... si fenomenal : Syahrini.

Ya, siapa di negeri ini yang gak kenal seleb satu ini. Dengan gaya bling-blingnya, miss sesuatu yang selalu punya sesuatu di tiap kesempatan nongol di tv. Terakhir kali tentu saja, heboh si mbaknya yang kecentilan ketika menyambut si Beckham di Indonesia. Dalam sekejap, fans Beckham terutama kaum hawa, yang sebelumnya masa bodoh sama si sesuatu ini langsung menvonis dirinya sebagai kaum haters-nya Syahrini.