Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label personal. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 September 2012

Galau Tingkat Fresh Graduate

*sorry for the "cetek" title*

Waktu itu selalu terburu-buru. Setidaknya untuk pace hidup saya belakangan ini yang cenderung laid back. Belum ada sebulan saya menikmati rasanya menjadi seorang fresh graduate, tagihan lain sudah menanti. Memang tiga pertanyaan maut "kapan lulus?", "kapan kerja?" dan "kapan nikah?" harusnya dibuang jauh-jauh ke laut saja. Saya sedang dihadapkan di fase kedua. "Kapan kerja?"


Ya sebenarnya gak nganggur-nganggur amat ya. Saya cukup menikmati pekejaan serabutan sebagai jurnalis freelance untuk koran iklan di Solo. Tapi kayak mbak agnesmo bilang pas jadi juri idol-idolan, cukup itu gak cukup. Iya, bener juga. Di bidang yang -entah sampai saat ini saya ragu untuk mendalaminya lebih dalam atau tidak- pekerjaan ini memang gak cukup membuat saya untuk terus belajar. Kalau capek dengan paragraf di atas, intinya saya kudu punya kerjaan yang lebih nggenah. Bukan berarti pekerjaan saya ini nggak genah, tapi dari saya sendiri juga punya targetan yang lebih tinggi. Dan untuk hal ini, dunia semakin gencar mengejar saya.

Minggu kemarin, baru juga duduk setengah jam di depan jurusan (dalam rangka nunggu kemahasiswaan buka buat balikin toga) udah disambut "hangat" oleh kajur saya tercinta. Langsung ditanya "kok masih disini?" dilanjutkan dengan "gak ikut jobfair?". Sebenarnya sih itu tanggapan ramah tamah kepada naak didiknya yang udah lulus. Tapi kok ya saya nangkepnya seperti ini "ngapain disini, nyari kerja sana!". Ini belum termasuk gimana hebohnya emak babe di rumah loh ya. Little bit too much, tapi ya saya ngerasa bener sih, walau susah, move on dari pernak-pernik kampus itu perlu. Dan salah satu move on ya itu, dengan kerja.

Praktis kegiatan saya selama ini adalah bikin cv, bikin cover letter dan ritual wajib tiap pagi adalah: buka-buka web direktori lowongan kerja. Milih-milih, mana yang cocok, mana yang oke dan sebagainya. Kalau sampe disini, kadang jadinya malah pengen belajar lagi (yes, studying, literally). Dikit lagi aja deh. Ada alasan mendasar dan rada cetek sih, soalnya takut ntar pas kerja keliatan cengoh dan screw the whole job. Manusiawi sih kalo ada ketakutan tersebut, tapi rasanya saya butuh sedikit waktu untuk mempelajari semuanya, in case for minimizing my fear. But time is runing out, I still can study those things, tapi ya sambil jalan. Gak ada waktu buat leha-leha, selo-selonan lagi.

Masalah selanjutnya adalah, bawaan dari seorang mahasiswa. Pas jadi mahasiswa, yang namanya idealis itu kayaknya dipupuk sedemikian tinggi, sampe-sampe bisa membutakan realita. Beberapa kali ngobrol sama emen yang udah mentas duluan, saya lihat idealisme mereka tinggal secuil. Yang mereka kejar adalah realita ini: "gimana caranya supaya bisa tetep hidup, kerja, mapan dsb". Sekali lagi saya rada takut di sini. Dilematis, apalagi posisi saya sebagai anak ragil (not blaming, but it haunted me) sebagai orang yang paling diandalkan nantinya (silahkan artikan sendiri, yes). Beberapa sampe tahapan "menggadaikan" idealisme (atau emang gak punya yah?) demi realita hidup yang mengejarnya. It quite frightening for me.

Yang paling gongnya adalah tentang passion, yang masih berhubungan sama idealisme. Pernah bahas passion itu disini. Ada yang bilang, kerja kalo sesuai dengan passion itu enak, hidup jadi gak ngoyo. Tapi ada lagi yang berpendapat, kerja ya nyari duit, passion itu buat sampingan. Kalau passion udah jadi rutinitas (baca: pekerjaan) pasti ada titik jenuhnya, kalau  udah sampai titiik jenuh, kita mau lari kemana kalo gak ke passion kita? galau enough, isn't it?

Sadar gak sadar, saya udah masuk ke dunia baru. Kalau dipostingan sebelumnya saya analogikan sebagai game, ya disini saya kayak ngeklik "new game" dengan 0 exp, dan nyari quest (jadi lebih ke MMORPG ini idup saya). Ah, mungkin saya sendiri sih ya terlalu paranoid. Intinya? ya dijalanin aja tho ya...

Welcome to the new world, welcome to the real jungle, nanda!

Jumat, 07 September 2012

Bonus Chapter : Finale

Hidup, bagi saya mirip-mirip dengan kehidupan di game. Mulai ketika mentas jadi bayi, kita seolah menjadi satu karakter di dalam game anak yang sedehana. Kita belajar mengenal benda, mengingat nama dan sebagainya. Lalu lanjut tumbuh menjadi anak-anak umur sepuluh tahunan yang hidupnya sangat bewarna-warni. Mirip seperti petualangan Crash Bandicoot yang bewarna-warni, melompat kesana kemari dengan senyum cerianya yang lebar.

Memasuki smp atau sma mulai silakan memilih, sebagai anak manusia kita mulai diajarkan untuk memilih sikap, memasuki fase yang lebih kompleks dan cerita hidup yang mulai berkelak-kelok. Mirip sama game adventure tomb raider (regardless her boobs, that's adult material) yang mecahkan teka teki ini itu, dengan kekuatan cerita yang lebih serius. Atau bisa juga seperti Brave Fencer Musashi yang masih bernuansa warna-warni namun dengan perkembangan karakter yang berarti.

Dan masa kuliah, masa yang baru saja saya habiskan ini. Saya seperti kembali new game di salah satu game Jrpg. Masuk kuliah dengan kondisi benar-benar nol besar. Dilanjutkan naik tingkat atau level (semester) dan mulai mengerti dengan hal-hal baru, ilmu baru, namun juga dengan diiringi kompleksitas cerita hidup yang berkembang. Tiba pada penjurusan bener-bener seperti kita memilih job di Final Fantasy. Mau jadi jurnalis, video maker, praktisi iklan sama seperti mau jadi archer, khight atau mage. 

Kehidupan berjalan, dalam kasus saya saya bisa memilih tiga spesialisasi atau tiga job sekaligus. Namun pada akhirnya saya harus memilih mana yang ingin lebih saya perdalam. Tidak lupa, disamping itu, perkembangan masalah mulai lebih berat, muncul bumbu drama dimana-mana. Mini game atau quest juga muncul dan bisa jadi mempengaruhi cerita keseluruhan. At this point. it's all depends on your choice. Your wise.

Kalau boleh membagi, kuliah pun dibagi dalam beberapa chapter. Chapter finalnya tentu saja ketika diidentikkan dengan final boss-nya segala ujian. Yep, those kind of thesis, and finally I made it. Hahaha, my final boss was a professor, by the way. Tough one. But defeated in one hit kill (maksudnya, sekali ngadep revisi langsung di tanda tangan gitu :D)

And the rest, I name it with bonus chapter. Yah kalau di game ini semacam bagian tambahan setelah final bos dikalahin. Penekanan lebih ke dalam cerita. Sama dengan disini. Cerita saya, petualangan saya habis di sini. Dimulai dengan saya yang memakai jubah-hitam-aneh dengan highlight oranye pada samir dan topi berbentuk aneh juga. Toga. Finally I made it.

Seketika dalam satu hari, ingatan memori mengajak kilas balik di awal chapter kuliah ini. Semuanya. Untuk kemudian kembali tersadar, bahwa selanjutnya yang tersisa adalah credit title. Cerita saya di masa kuliah, ditutup ketika pak dekan memindahkan tali tiga dari kiri ke kanan. Selebihnya seperti ending Final fantasy VIII (ingat cuplikan adegan-adegan konyol di credit title?). Adegan foto-foto rusuh bersama teman, mengucap terima kasih, menerima kecupan selamat dari orang tua. Semua bergerak cepat seiring dengan credit title yang bergerak cepat pula.

Bonus chapter : Finale, selesai di sini.



Sekarang saya bagai kembali menjadi lakon anyar di game anyar. Yang lebih liar, dengan 0 exp, namun dengan sisipan gelar baru. Petualangan baru menanti saya. Bismillah....


*thanks @herkayanis buat fotonya


Kamis, 23 Agustus 2012

Mudik

gambar dari sini

Another post about mudik, yeay!

Sepertinya lebaran ini memang banyak kean-kesan ya, sampai banyak yang bikin postingan tentang mudik. Pengalaman tentang stuck terjebak di kemacetan berjam-jam, atau perubahan -pemandangan selama mudik dari tahun ke tahun. Semua menarik.

Saya sebenarnya tidak punya cerita khusus tentang mudik. Mungkin yang paling mendekati kata mudik adalah bertandang ke rumah saudara di Sragen yang bisa ditempuh naik dengan naik motor selama satu jam perjalanan. Atau di hari kedua, konvoy naik motor sekeluarga menuju tempat pertemuan keluarga besar di hari kedua, yang hanya diseputaran Soloraya. Tapi itu belum cukup mudik bagi saya.

Jadilah mudik disini adalah sebuah doa, bukan kegiatan perjalanan dari kota ke desa dan lain-lain. Mudik masih sebatas harapan. Lebaran kemarin adalah lebaran saya ke 23, yang berjalan itu-itu saja. Satu bulan puasa, dilengkapi beberapa kali buka bersama di luar. Menjelang Idul Fitri rumah sibuk masak-masak dan sebagainya. Saya bosan. Saya gak bisa ngapa-ngapain selain itu.

Setelah akhirnya saya lulus sarjana (dan September besok wisuda... akhirnya!) saya selipkan satu doa khusus, untuk saya sendiri. Lebaran tahun depan supaya saya bisa mudik. Cetek? gak juga sih.

Bagi saya mudik bukan hanya sebatas perjalanan jauh dan terjebak kemacetan berjam-jam. Mudik bukan hanya pamer gadget di hadapan sodara-sodara pas pertemuan keluarga besar (yang jadi korban pamer mana suaranya???) bukan cuma buat ajang kangen-kangenan walaupun itu wajib. Mudik bagi saya adalah memberi kabar baik. Dan itu bukan main-main.

Dengan mudik, setidaknya saya memberi kabar baik bahwa saya sehat sejahtera. Implikasinya bukan hanya pada orang yang mudik, tapi juga pada orang yang ditinggalkan. Saya ingin ngeliat senyum orangtua ketika dengan menerima kabar baik tersebut, anak-anak mereka, generasi mereka, keturunan mereka atau bahkan mereka sendiri, mempunyai harapan untuk hidup lebih baik. Klise, tapi penting. 

Maka bersyukurlah bagi kalian yang bisa mudik dan bisa memberi kabar baik ke keluarga. Semoga saya bisa melakukannya tahun depan :)

Selasa, 03 Juli 2012

kenalan

Kalau boleh jujur, ada satu hal yang paling membuat saya canggung. Kenalan dengan orang baru.

Hey, it’s nice to know somebody new

Ya, emang sih, tapi ketika hal itu membuat jantung berdegup dua kali lebih kencang, mungkin jawabannya sedikit berbeda. Saya memasukkan sifat saya yang ini dalam kategori weakness untuk slot SWOT saya. Padahal, berkenalan sebenarnya hal yang sederhana. Dengan berkenalan, satu sama lain dapat mengerti identitas masing-masing. Menukar nama, nomor telepon, ngobrol basa-basi biar gak terlalu garing dan sebagainya.

Saya coba merunut apa yang terjadi ketika saya kecil, karena saya masih percaya, semua yang terjadi sekarang ini ada hubungan kuat dengan aspek historis. Dan saya menemukannya.

Sebagai anak ragil, sejak kecil saya seperti dititahkan untuk menjadi anak super penurut. Untuk hal-hal sepele seperti nonton channel tv, berbagi mainan dan sebagainya, walaupun punya kadar ngeyel tapi itu sangat rendah. Selebihnya saya patuh, nurut dan endingnya nrimo. Pun dengan hal baru. Saya boleh mencoba jika kira-kira saya dapat ijin. Dan kebanyakan gak dapet ijin (bahkan ketika makan bareng keluarga besar, saya cuma diperbolehkan pesen teh anget, padahal pengennya sih ini itu). Katanya biar gak sakit flu. Dan itu terjadi untuk hal baru selanjutnya. Semua serba tergantung dengan restu orangtua. Dan ketika tiba masa orangtua “melepaskan” anaknya, seringkali ada rasa takut, tidak pede dan lain sebagainya, terselip di benak sang anak karena tidak mendapat legitimasi dari orang yang menurutnya paling bisa dipercaya. Singkatnya, si anak jadi mudah ragu-ragu. Gampang insecure kalo di jaman sekarang.

Pun dengan saya. Lingkungan baru (termasuk dengan orang-orang di dalamnya) jelas masuk definisi hal-hal baru. Seperti di lingkungan kerja atau kuliah. Saya harus memaksa diri untuk bisa berkenalan dengan orang lain. Mengacuhkan rasa malas, menanggalkan rasa gengsi dan sebaginya. Ada waktu ketika saya tersadar akan hal ini, yakni pas masuk kuliah. Saya berjanji untuk lebih “awor” “gaul” atau istilah-istilah lainnya. Sebenarnya gak ada masalah karena teman kuliah bisa ketemu setiap hari, dan secara naluriah emang harus kenal kan. Tantangannya adalah kesibukan di luar kuliah, orang baru di luar hal akademis. Jadilah saya ikut-ikut UKM. Meski pada tahun pertama saya cuman bisa bengong atau senyum dikit ketika diajak bercanda. Saya juga mencoba-coba mendaftar suatu komunitas, yang sering ada kopdarnya. tapi ternyata juga saya gak pernah dateng kopdarnya.

Sekarang perasaan takut berkenalan dengan orangbaru berubah menjadi perasaan canggung (atau dulu canggung sekarang takut?). Mungkin banyak yang merasakan.Contohnya, terjadi ketika sehabis liputan kemarin, para wartawan berkumpul untuk makan bareng. Pertama rasanya enggan campur males (terlebih dengan adanya sosial media, tempat pelarian paling hip sedunia). Harus ada yang mancing untuk kenalan dulu baru deh rasanya canggungnya mulai lumer. Ketika udah ngobrol padahal juga semuanya biasa aja. Yakin, bukan cuman saya yang ngalamin kayak gini, tapi hal macem ini sudah mencapai taraf mengganggu.
 
Di era yang katanya “IP mah gak usah tinggi-tinggi, yang penting koneksi dimana-mana”, berkenalan dengan orang baru sudah pasti jadi bagian di dalamnya. Dan seakan-akan hal itu sekarang menjadi masalah serius di mata saya. Menaklukan rasa takut dan canggung, meninggalkan rasa malas dan gengsi, tapi memang harus dijalani. 

Kan, cuman masalah kenalan aja bisa nyampah posting segini panjangnyanya, kumat dramanya.

Selasa, 13 Desember 2011

Memoria

Mengingat merupakan hal yang lumrah dilakukan. Apapun itu. Salah satunya (dulu sempet nulis beginian juga) mengingat kenangan. Mengingat hal yang pernah dilakukan, tentunya bukan hal-hal remeh temeh seperti kapan terakhir kali manjat genteng atau terakhir kali menyebarkan twit galau nan depresif di sepanjang timeline.


Secara otomatis otak akan mengingat, hal yang dirasa spesial pada saat itu, hingga pantas untuk diingat terus. Seperti ketika kita mengingat momen kemerdekaan bersama bapak-bapak pejuang kita. Itu karena hal itu pantas (dan harus sih, untuk penghormatan simbolis). Katakanlah sebuah kondisi itu adalah sebuah momen. Sedih, senang, depresif, kacau, membanggakan, yang terasa nancep di benak kita.Mengingat, itu bisa jadi sarana penyembuhan, secara emosional.

Senin, 12 Desember 2011

Wishlist #2

Kalau sebelumnya saya ngoceh panjang lebar untuk segera pensiun dini dari jeratan kacamata, maka wishlist kali ini sebenarnya sebenarnya.

menikmati lembayung senja di atas loteng bersama sahabat saya :))

Selasa, 01 November 2011

Pak Gembong, Nyanyian Jenaka dan Kursi Roda

Saya bertemu dengannya sekitar pertengahan tahun 2009. Kali itu saya ditugaskan untuk mengangkat berita feature tentang seorang tukang parkir yang mempunyai keterbatasan fisik sejak lahir. Daerah operasinya di sekitar pertigaan Kepatihan. Namanya Pak Gembong. Bukan nama asli tentu saja. Kalau mungkin ada yang melintas di jalan Sultan Sjahrir, tepatnya pertigaan Kepatihan di sekitar pasar burung, coba lewat di rentang waktu 10 pagi sampai jam 12 siang. Dia biasa beredar di jam tersebut.

Lokasi wawancara kami tepatnya di serambi Masjid Kepatihan, sebelah perpustakaan daerah Solo. Waktu itu saya dan teman saya alina datang kesiangan sebenarnya, tapi berkat bantuan pedagang burung, saya tau tempat nongkrong pak Gembong. Tanpa ekspektasi apa-apa kami datang menemuinya. Saat bertatap muka secara langsung, barulah saya sadar bahwa sosok di depan saya ini berbeda. Selain mempunyai keterbatasan fisik, ternyata Pak Gembong juga memiliki keterbelakangan mental.   

Rabu, 26 Oktober 2011

Saudara : kenal tapi gak kenal

Bagi saya, ada satu hal yang paling susah dilakukan di dunia ini : ngapalin nama saudara-saudara. Entah kemampuan mengingat saya yang parah atau gimana, yang jelas saya punya masalah serius untuk hal ini. Mungkin, buat yang keluarga dan leluhurnya yang sudah menganut "2 anak cukup" gak akan menemukan kesulitan yang berarti. Tapi, keluarga yang nenek kakeknya menganut tren "banyak anak banyak rejeki" menjadikan generasi-generasi penerusnya ini kesulitan dalam mengidentifikasi saudara-saudaranya sendiri.

Untuk masalah beginian, momen paling "pecah" adalah ketika lebaran tiba. Semua dateng, kumpul, nguplek dalam satu rumah. Acara tahunan kayak gini gak bisa dihindari. Acar intinya sih cuman sejam dua jam. tapi semua itu berasa kayak sehari full karena ya satu itu, gak kenal orang per orang. Ya kadang diselingi ngobrol dikit-dikit, tapi percayalah, 80% yang saya lakukan di acara itu cuman mesam-mesem, nyengir dan tentu saja ketawa basa-basi.

Rabu, 12 Oktober 2011

Kotak Memori itu adalah : Musik

Ngobrolin selera musik, saya termasuk tipe bunglon. Selera berubah-ubah ngikutin mood. Mungkin banyak juga yang seperti ini. Dan bicara tentang musik, percayalah, musik itu bak kapsul waktu yang bisa membawa ke mana saja. Teorinya, kamu suka musiknya si tengil Bieber misal, apa yang ingat sepuluh tahun ke depan (mudah-mudah bieber udah pensiun) bukan hanya musiknya. Tapi momen-momen bergelayut (tsahhh..) di belakangnya. Kamu tidak hanya ingat lirknya, tapi juga hidup kamu saat itu. Semuanya.

Jumat, 30 September 2011

Interest - Passion - The Future

Kemarin saya sempet ngobrol sama salah satu redaktur salah satu surat kabar lokal di Solo (yang dulu jadi pembimbing ketika magang). Biasalah pertama basa basi. Kemudian beliau menanyakan suatu hal. "Gimana, masih minat jadi wartawan?"

Deg. (waktu itu langsung mikir lama banget)

Dan cuma saya jawab, "wah kalau buat jadi wartawan, belum tau pak..." tentu saja diikuti dengan "hehehehe..." 

Selasa, 13 September 2011

Remembering Old Time

Siang tadi saya sengaja ke kampus karena ada keperluan (sayang, bukan perkara skripsi :D). Rasanya lama juga saya tidak pergi ke kampus. Selesai urusan saya, sebenarnya saya mau langsung pulang, mengingat sudah lumayan sore. Jalan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi. Namun saya lihat masih ada beberapa gerombolan mahasiswa yang masih betah nongkrong. Satu kelompok (atau gerombolan) sedang haha hihi dengan (mungkin) teman-teman barunya sesama maba (mahasiswa baru). Kelompok yang lain tengah serius memandang laptop masing-masing sambil berdiskusi kecil.

Minggu, 14 Agustus 2011

Journal

Beberapa waktu yang lalu saya sempet update akun jejaring sosial yang berisi tentang jurnal, menulis jurnal dan sebagainya. Saya memang menulis update seperti itu pasca "mengubek-ubek" isi komputer. Rencananya sih cuma mau ersihin file-file yang udah kadaluarsa. Eh ternyata malah nemu satu folder (bisa dikatakan unyu) yang berisi tulisan atau semacam jurnal (oke... terserah kalo dibilang buku harian) yang isinya laporan atau ya semacam cerita apa yang terjadi hari itu atau rentang waktu yang telah terjadi.

Singkat cerita, saya baca lagi jurnal-jurnal dengan bahasa campur aduk bin nggilani itu. Lucu, seru dan yang jelas, saya bisa melihat seperti apa saya, empat tahun atau tiga tahun yang lalu. Jurnal itu mulai rajin saya tulis sejak semester awal kuliah. Sekarang saya resmi semester 9. Wow.

Secara tidak langsung, saya sekarang bisa merasakan keajaiban menulis jurnal. Maksudnya disini, menulis catatan seperti itu ternyata ada gunanya. Dari total 21 tulisan yang ada (dengan periodisasi gak jelas juga), kelihatan progres apa aja yang telah dilalui. Bagaimana kabar target-target yang ditulis di awal kemudian terjawab di bagian lain. Menarik. Di satu sisi ada semacam hiburan tersendiri, di sisi lain, secara tidak langsung, dengan ada jurnal-jurnal tersebut, saya lebih mudah mengidentifikasi hal-hal kecil maupun besar sebagai bahan evaluasi diri. Dengan membacanya, percaya deh, pasti akan muncul pertanyaan : apakah saya sekarang lebih baik dari yang dulu? sama aja? atau bagaimana?

Hal ini sangat terasa ketika saya mulai tidak aktif lagi menulis jurnal. Malas adalah penyakit utama. Dari tanggal penulisan, jurnal terakhir saya terhenti di tahun 2009. Itu berarti di tahun 2010, saya tidak pernah menulis hal semacam ini. Dan apa yang terjadi? terasa perbedaannya. Bisa dibilang tahun 2010 merupakan tahun terburuk. Semakin awut-awutan, kacau tidak terorganisir dan semuanya. Tidak perlu dijelaskan apa-apa saja yang terjadi hingga saya menyebutnya buruk. Yang jelas, saya seperti asal jalan, sulit mengidentifikasi hal-hal yang sebenarnya butuh sebuah evaluasi. Sekalinya mau intropeksi, semua kalah dengan satu kata. LUPA.

Ya, journal atau catatan harian membantu kita dalam melawan LUPA. Seperti pekerjaan wartawan. Meskipun memori adalah senjata utama ketika melakukan suatu peliputan, namun wartawan juga tak lepas dari hal-hal pendukung seperti notes atau perekam. Tujuannya jelas. Agar semua bisa tercatat, tidak ada yang tertinggal. Nah, kerja jurnal bisa dikatakan semacam itu. Gak kerasa di awal, tapi makin jelas di akhir. Perkara yang harus ditulis tidak harus sesuatu yang berat terus. Bisa juga menuliskan catatan-catatam tentang peristiwa lucu atau hal-hal yang membuat bersemangat. Coba tulis, simpan, dan besok setelah beberapa waktu coba dibaca. Akan terlihat "sesuatu" disini. Akan terlihat naik turun hidup kalian sendiri. Karena itu menarik. Dan kita butuh itu.

Sabtu, 23 Juli 2011

Manusia

Saya tidak menyesal. Tidak sama sekali.

Itu pertama kali yang saya coba pikirkan pertama kali setelah menerima suatu kenyataan. Memang saya diajarkan untuk terus bersyukur atas apapun, apapun keadaann yang menimpa. Sama pada saat waktu itu. Ketika satu kata terlontar, dengan begitu banyak konsekuensi di dalamnya.

Saya terima. Saya terima dengan lapang dada. Bukan saya kalah, karena memang tidak ada pemenang di sini. Tapi saya manusia biasa. Sangat biasa yang terjerumus cerita luar biasa yang dituliskan Tuhan. Terkadang saya memikirkan, hal-hal yang menjadi acuan akan datangnya sebuah konsekuensi. Sikap saya, sifat saya, atau apapun itu. Rasa-rasanya saya ingin membaliknya 180 derajat. Bukan karena tidak terima, hanya ingin sekedar tahu. Karena pada dasarnya manusia biasa adalah makhluk yang selalu ingin tahu bukan? dan saya adalah manusia biasa.

dan bukan, anda bukanlah bodoh. Jangn menghakimi diri dengan kata bodoh. Saya, anda, kita adalah manusia biasa. Manusia biasa tidak ada yang sempurna bukan? maka jangan heran jika orang paling positif di dunia ini juga bisa berbuat negatif. Dan ketika itu terjadi, pasti ada alasan di belakangnya. Jadi tenang saja. We're just human

It's okay. I'm fine.
and You is always You

Sabtu, 14 Mei 2011

Dan sebenarnya...

Saya bukanlah tipe orang yang mudah menuliskan, atau sekedar memindahkan apa yang ada di otak pada sebuah media lain. Terlalu absurd, mungkin. Tapi di sisi lain, saya juga tipe orang yang sangat haus akan perhatian. Bukan berarti cari perhatian, namun saya selalu merasa perlu untuk diperhatikan, oleh siapapun itu. Orang tua, teman, saudara, om, pakde, bude, kucing bahkan orang lain.

Tapi entah mengapa, keinginan tersebut tidak membuat saya menjadi orang yang suka mencari perhatian. Saya cenderung pasif untuk mengejar hal-hal yang ada di benak saya. Tidak mudah mengubah kepasifan saya. Bahkan untuk dituangkan dalam satu media, apapun itu, tersembunyi, dan orang lain tidak perlu tahu. Takut. Mungkin. Saya kurang bisa mendefinisikannya.

Sama halnya ketika saya harus mengaku bahwa saya sedang menyukai seseorang. Iya memang benar, saya kadang menceritakan (curhat) hal tersebut kepada orang lain. Orang yang saya anggap bisa dipercaya. Namun kenyataannya, apa yang saya beritahukan ke orang lain itu, belum sepenuhnya mewakili apa yang ada di benak saya. Singkatnya, saya memfilter apa yang saya utarakan pada orang lain. Saya memberi batasan pada diri sendiri.

Memang ada quote yang bunyinya : sometimes, things is better left unsaid.
Tapi bagaimana jika, things that better left unsaid tadi berteriak kencang seraya menggedor-gedor dinding pembatas yang saya dirikan dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jika things that better left unsaid itu memenuhi tiap sudut otak saya. Melebihi kapasitas otak, dan meluber. Bocor di sana-sini. Bagaimana jika kemuakan dalam menyimpan things that better left unsaid itu terjadi. Apa iya harus saya paksakan untuk keluar, muntah dari mulutku, tanpa peduli ada orang lain yang harus mendengarnya atau tidak.

Jika jawabannya memuntahkan semuanya itu dengan posisi bersimpuh, tangan menengadah, bermaksud untuk menjalin koneksi dengan Tuhan, saya pernah, sering mungkin. Tapi tetap saja itu belum cukup. Jutaan pertanyaan, pernyataan, pujian, caci maki semua pernah saya sampaikan ke Dia. Entahlah, mereka (hal-hal) tersebut kemudian selalu mereproduksi diri mereka sendiri. Mungkin cara saya berkomunikasi dengan Tuhan keliru, tapi tidak mungkin, bukankah Tuhan Maha Mendengar?
….
…
…..
..
Ah, mungkin itu sesi curhat saya dengan Tuhan kurang panjang.
Mungkin…. ..

Kamis, 21 April 2011

Nikah?

Ada obrolan menarik antara saya dan teman-teman sewaktu makan siang kemarin. tentang nikah. Jadi ceritanya ada rumor mengenai teman saya yang sedang nikah. Tapi bukan itu inti posting kali ini. Yang saya maksudkan adalah "reaksi" teman-teman saya ketika mengetahui ada teman seangkatan yang (rumornya) akan menikah duluan.

Bagi sebagian teman perempuan saya, hal ini tentu menghebohkan. Mungkin ini seperti "dreams come true". Perempuan mana yang tidak bermimpi untuk dilamar pria impian. Menemui mr. right adalah impian semua perempuan. Ya, itu pasti. Hal ini disambung dengan obrolan-obrolan mengenai harapan, mimpi ke depan, tentunya mengenai nikah.

"Kalo aku besok maunya kerja dulu, ini dulu blah blah blah..."
"Aku target tahun 20xx mau nikah, tapi sama siapa ya????" (sambil lirik pacarnya yang duduk di sebelahnya)

Hal ini semakin menjadi-jadi tatkala hari ini ada perhelatan kabar di Inggris sana. Mata seluruh dunia tertuju pada "Royal Wedding", yaitu pernikahan Pangeran William putra Lady Di dengan seorang wanita cantik, Catherine Middletown. Nampaknya seluruh dunia jadi betah ngomongin nikah.

Lalu bagaimana menurut kacamata saya? seorang mahasiswa tingkat akhir yang masih bingung dengan tema skripsinya (oke saya salah sebut kata).
Nikah? hmmmm. It seems too far for me, at least for now. Karena saya percaya nikah itu sakral. Nikah itu bukan permainan. Menggabungkan dua raga dengan ego yang berbeda, itu bukanlah hal yang main-main. Selain materi, mental adalah yang paling penting untuk dipersiapkan. Tidak sedikit mungkin di luar sana, pria yang sudah mapan tapi menolak untuk menikah dengan alasan mental yang belum siap. Karena percayalah, menjadi seorang "ayah" itu tidak mudah. Konsekuensinya besar. Singkatnya, menjadi ayah sama dengan menjadi pemimpin di sisa hidupnya.

Apalagi jika ditanyakan ke laki-laki seumuran saya. Mungkin lebih pantes ditanyakan "kapan lulus?" dulu ketimbang daripada kapan nikah. Setelah itu mungkin akan disambung pertanyaan-pertanyaan tolol seperti "kapan kerja?" "kerja dimana?" blablablabla. Tentu saja prestis dibawa-bawa di sini. Kalau misalkan kerjaannya termasuk kategori oke, mapan, gaji besar dll, pasti baru ditanyain, "kapan nikah?"
Gak salah jika muncul petanyaan itu. Tapi lagi-lagi ini masuk ke arena privat. Karena menikah itu sebuah pilihan dengan serentetan tanggung jawab besar di belakangnya. Dan, hell yeah, tentu saja itu dilatar belakngi dengan.... emm apa itu namanya..... cinta? ya, hal seperti itulah. Mungkin ikhlas lebih cocok. Satu sama lain harus ikhlas menerima apa adanya. Ikhlas ketika menyadari hidup mereka tergantung satu sama lain. Ikhlas ketika menyadari hidup kita bukan sebagai individu, tapi sebagai pasangan. Ikhlas ketika menerima sprema sang suami masuk ke indung telur si istri, dan muncul kehidupan baru di dalamnya. Kurang lebih seperti itu.

Jadi intinya, ya saya belum siap dan belum iklhas untuk melakukannya (setidaknya untuk sekarang).

Senin, 04 April 2011

Ketika Masa Depan Semakin Mendekat

Inget pas dulu waktu TK ngebayangin, kalo udah gede mau jadi apa? jawaban umum ya dokter, guru dan sebangsanya. Karena gw belum kenal apa itu namanya idealisme atau prinsip, dan persepsi dokter kala itu adalah sesuatu yang maha keren, maka dengan enteng gw jawab "Dokter".

Hal ini berubah ketika menginjak bangku SD. Saat itu gw lagi doyan-doyannya mantengin peta. Tapi karena gak tahu profesi apa yang berhubungan langsung dengan peta, maka gw gak nerusin kegiatan tersebut. Kemudian bacaan bergeser. Entah darimana, tiba-tiba gw nemuin buku yang isinya perencanaan pembangunan rumah. Isinya gambar-gambar rumah yang ada denahnya. Bisa ditebak, cita-cita gw berubah menjadi arsitek. Salah satu kata terkeren yang bisa gw sebutin pas jaman SD.

Masa SMP-SMA, gw diracuini teknologi bernama Playstation. Gak bisa dihindari, gw kecantol sama konsol satu ini. Semacam diperbudak gitu. Tiap ada game baru muncul, sebisa mungkin dihunting kemudian dimainin. Salah satu efek penting dalam game adalah grafis. Nah, gw kenal Playsattion dan main game-game keluaran squaresoft kala itu. Yang mempunyai kelebihan di hal grafis (mainnya kebanyakan RPG). Jadi, dulu sudah kenal istilah keren lainnya slain grafis, seperti polygn, frame per second (fps) dll. Itu semua berkat Playstation. pada akhirnya, dengan yakin seyakin-yakinnya, gw merubah cita-cita gw menjadi game maker (setelah mendapat referensi mengenai karir di dunia gaming yang sangat menggiurkan). Khususnya bagian animator.

(masih SMA) setelah mengetahui bahwa pada jaman itu, kuliah di jurusan "game maker" rada mustahil dilakukan, ada memang tapi biayanya ih wow, maka dengan segera dan niat yang tulus gw geser lagi cita-cita menjadi grafis desainer. Tukan bikin print ad keren dan desainer yang ulung. Emak dan babe pun mengamininya (sebelumnya emak ngotot nguliahin di sastra inggris). Cita2 ini gw lanjutin hingga tingkat smnptn dengan pilihan jurusan DKV, Komunikasi, Arsitektur (yang terakhir cuman buat pantes2 soalnya dulu kan nak IPA). Tapi nasib berkata lain. DKV lepas, masuklah gw di komunikasi. Bidang yang dulu gw gak ngeh, ini jurusan apaan. dan ternyata jurusan beginian.

Masa kuliah tentunya banyak dinamika. Awalnya masih ingin melanjutkan cita2 menjadi desiner (ad penjurusan desgraf) tapi pupus di tengah jalan ketika masuk persma dan magang di bidang jurnalistik. Secara otomatis gw jadi punya cita-cita jadi wartawan. Dan akhir-akhir ini, entah kenapa nyaa gw melayang ke bidang iklan. Masa kuliah ada masa dngan perubahan main cepat (bukti kalau masa kuliah ada masa tergalau di hidup gw -____-)

Dan sekarang gw dihadapkan kenyataan. Dalam hitungan bulan, mau tidak mau gw kudu mutusin. Mana yang akan menjadi masa dpan. Masa dpena yang dulu cuma jadi angan-angan belaka pas ngobrol bareng temen SD, kini seakan cuma sejengkal jaraknya. Ternyata maa depan bukan cuma masalah kita akan jadi apa atau siapa. Namun terlepas dari itu, masa depan adalah masa pertanggungjawaban. Maksudnya, masa ketika kita bener-bener 100 % bertanggung jaab sama diri sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, kita benar-benar menjadi kapten. Apapun itu bentuknya, mau desainer grafis, kerja di biro ad, semua memiliki resiko masing-masing. Bisa saja indah sesuai dengan khayalan jaman dulu. Bisa juga sebaliknya. Bahkan mulai sekarang, atau mulai kita dewasa secara perilaku, kita harus memikirkan dan mempersiapkan. Jangan sampai masa depan kita justru menjadi sebuah kemunduran. Siap gak siap seua harus dihadapi. Pertanyaannya, apakah gw siap? apakah gw cukup siap?

Rabu, 26 Januari 2011

Fail... :(

It could be the best word to describe what was happen yesterday. I'm just break up. No.. it isn't like an ordinary one. Not "break up" with my girl or something like that (hey, did I mention it that I'm still single?). I was broke up by my friend. Yeah, my closest friend in high school.
Seperti yang pernah gw twit kemarien
"gak cuman film horor korea yang punya twist ending, kisah persahabatanpun juga bisa punya twist ending"
yap. semuanya tampak sangat sempurna 3-4 tahun silam. Gw dan teman-teman terbaik gw (dia termasuk di dalamnya) bisa jadi kelompok (bukan geng tapi) pertemanan yang kompak. Dari ngopi, nonton, bikin event reunian sampe jelajah pantai, semua sudah dilakukan. It's all about fun.
hingga pada akhirnya harus ada keputusan yang harus dipilih satu temanku. Pilihan yang akan merubah semua. Dan benar semua berubah. Empat orang yang sangat lekat itu kini berjalan terpisah. Masing-masing berdiri sendiri, dengan seluruh dayanya masing-masing.
Sampai akhirnya gw menerima pernyataan temenku itu - setelah setahun tidak bertemu - bahwa dia sudah hidup mandiri. Dan tidak mau dipusingkan masa lalu. Dan gw adalah masa lalu yang memusingkannya.
sedikit banyak hal itu membuat gw sedikit berfikir bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita paksakan untuk menjadi sesuatu seperti harapan kita. Simpelnya, gak semua hal itu akan baik pada kita. Tapi semua hal itu (Baik dan Buruk) sebenarnya adalah yang terbaik yang bagi gw pribadi. Masih banyak hal diluar sana yang biasa saja namun penting bagi gw.
Still, bagaimanapun juga, istilah mantan bestfriend itu gak ada dan gak pernah ada di kamus hidup gw. Dia masih gw anggap temen, masalah dia masih anggap gw temen atau bukan, that's in her mind. Dan disini baik gw atau dia diuji satu hal, ikhlas gak akan sebuah kenyataan itu.
Gw ikhlas. meskipun menurut ego, itu bukan sesuatu yang terbaik.
Life move onwards, not backwards. That's the reality .