Flu is suck! everybody knows it. Akibatnya gw beberapa hari ngendon terus di dalem rumah. termasuk hari ini. Dari pagi bangun smpe siang ini, cuma bisa gulung-gulung di kasur. Sambil sesekali nonton tv. iseng-iseng acara 8-11 Show di metro, ada berita menarik tentang salah satu anggota polisi di Gorontalo yang ketauan joget-joget ala India. jelas ketauan karena videonya diaplod di youtube.
Hahaha, ngakak ngeliatnya. Ini dengan sangat fasih, polisi yang konon namanya Nornam ini bisa lipsing lagunya akang Sharukh Khan. Mirip kayak Sinta Jojo, tapi ini pake joget-joget khas India. Dan inget, ini polisi yang ngelakuin.
kelakuakan bodohnya itu direkam tatkala sedang jaga piket bersama temennya. Nah si polisi ngehe ini bilang, kalo dia cuma berusaha ngehibur temannya yang lagi ada masalah. Dengan gaya yang aduhai banget (bukan, ini tidak membuat gw tertarik sama polisi --") si Norman ini nyanyi lagu Chaiyya Chaiyya lengkap dengan joged (walaupun minimalis karena sambil duduk) sama ekspresi wajah, plus lipsingnya yang pas banget. Bikin ketawa beneran ini hahaha.
Di youtube sendiri, smbutannya ternyata cukup positif. Banyak yang ngasih jempol istilahnya. Malah banyak yang menyesalkan pemberian sanksi oleh atasannya karena kelakuan Norman ini. Gw sendiri berpendapat kalau yang dilakukan polisi ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan. Kadang di tengah kejenuhan orang bisa jadi sangat kreatif. Norman salah satunya.
Bahkan ada yang beranggapan, apa yang dilakukan Norman ini dapat mematahkan persepsi masyarakat bahwa polisi itu galak, keras dan sebagainya. Sisi yang dikeluarkan Norman ini bisa jadi menampilkan sesuatu yang lain dari sosok penegak hukum ini. Daripada sok serius tapi ternyata menebar kebohongan di media, mending memperlihatkan bahwa polisi itu juga bisa lucu, menyenangkan dan terlihat apa adanya. Sehingga masyarakat juga semakin dekat dan bisa mendukung satu sama lain.
Karena polisi itu sepenuhnya hanya manusia biasa.
Senin, 04 April 2011
Ketika Masa Depan Semakin Mendekat
Inget pas dulu waktu TK ngebayangin, kalo udah gede mau jadi apa? jawaban umum ya dokter, guru dan sebangsanya. Karena gw belum kenal apa itu namanya idealisme atau prinsip, dan persepsi dokter kala itu adalah sesuatu yang maha keren, maka dengan enteng gw jawab "Dokter".
Hal ini berubah ketika menginjak bangku SD. Saat itu gw lagi doyan-doyannya mantengin peta. Tapi karena gak tahu profesi apa yang berhubungan langsung dengan peta, maka gw gak nerusin kegiatan tersebut. Kemudian bacaan bergeser. Entah darimana, tiba-tiba gw nemuin buku yang isinya perencanaan pembangunan rumah. Isinya gambar-gambar rumah yang ada denahnya. Bisa ditebak, cita-cita gw berubah menjadi arsitek. Salah satu kata terkeren yang bisa gw sebutin pas jaman SD.
Masa SMP-SMA, gw diracuini teknologi bernama Playstation. Gak bisa dihindari, gw kecantol sama konsol satu ini. Semacam diperbudak gitu. Tiap ada game baru muncul, sebisa mungkin dihunting kemudian dimainin. Salah satu efek penting dalam game adalah grafis. Nah, gw kenal Playsattion dan main game-game keluaran squaresoft kala itu. Yang mempunyai kelebihan di hal grafis (mainnya kebanyakan RPG). Jadi, dulu sudah kenal istilah keren lainnya slain grafis, seperti polygn, frame per second (fps) dll. Itu semua berkat Playstation. pada akhirnya, dengan yakin seyakin-yakinnya, gw merubah cita-cita gw menjadi game maker (setelah mendapat referensi mengenai karir di dunia gaming yang sangat menggiurkan). Khususnya bagian animator.
(masih SMA) setelah mengetahui bahwa pada jaman itu, kuliah di jurusan "game maker" rada mustahil dilakukan, ada memang tapi biayanya ih wow, maka dengan segera dan niat yang tulus gw geser lagi cita-cita menjadi grafis desainer. Tukan bikin print ad keren dan desainer yang ulung. Emak dan babe pun mengamininya (sebelumnya emak ngotot nguliahin di sastra inggris). Cita2 ini gw lanjutin hingga tingkat smnptn dengan pilihan jurusan DKV, Komunikasi, Arsitektur (yang terakhir cuman buat pantes2 soalnya dulu kan nak IPA). Tapi nasib berkata lain. DKV lepas, masuklah gw di komunikasi. Bidang yang dulu gw gak ngeh, ini jurusan apaan. dan ternyata jurusan beginian.
Masa kuliah tentunya banyak dinamika. Awalnya masih ingin melanjutkan cita2 menjadi desiner (ad penjurusan desgraf) tapi pupus di tengah jalan ketika masuk persma dan magang di bidang jurnalistik. Secara otomatis gw jadi punya cita-cita jadi wartawan. Dan akhir-akhir ini, entah kenapa nyaa gw melayang ke bidang iklan. Masa kuliah ada masa dngan perubahan main cepat (bukti kalau masa kuliah ada masa tergalau di hidup gw -____-)
Dan sekarang gw dihadapkan kenyataan. Dalam hitungan bulan, mau tidak mau gw kudu mutusin. Mana yang akan menjadi masa dpan. Masa dpena yang dulu cuma jadi angan-angan belaka pas ngobrol bareng temen SD, kini seakan cuma sejengkal jaraknya. Ternyata maa depan bukan cuma masalah kita akan jadi apa atau siapa. Namun terlepas dari itu, masa depan adalah masa pertanggungjawaban. Maksudnya, masa ketika kita bener-bener 100 % bertanggung jaab sama diri sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, kita benar-benar menjadi kapten. Apapun itu bentuknya, mau desainer grafis, kerja di biro ad, semua memiliki resiko masing-masing. Bisa saja indah sesuai dengan khayalan jaman dulu. Bisa juga sebaliknya. Bahkan mulai sekarang, atau mulai kita dewasa secara perilaku, kita harus memikirkan dan mempersiapkan. Jangan sampai masa depan kita justru menjadi sebuah kemunduran. Siap gak siap seua harus dihadapi. Pertanyaannya, apakah gw siap? apakah gw cukup siap?
Hal ini berubah ketika menginjak bangku SD. Saat itu gw lagi doyan-doyannya mantengin peta. Tapi karena gak tahu profesi apa yang berhubungan langsung dengan peta, maka gw gak nerusin kegiatan tersebut. Kemudian bacaan bergeser. Entah darimana, tiba-tiba gw nemuin buku yang isinya perencanaan pembangunan rumah. Isinya gambar-gambar rumah yang ada denahnya. Bisa ditebak, cita-cita gw berubah menjadi arsitek. Salah satu kata terkeren yang bisa gw sebutin pas jaman SD.
Masa SMP-SMA, gw diracuini teknologi bernama Playstation. Gak bisa dihindari, gw kecantol sama konsol satu ini. Semacam diperbudak gitu. Tiap ada game baru muncul, sebisa mungkin dihunting kemudian dimainin. Salah satu efek penting dalam game adalah grafis. Nah, gw kenal Playsattion dan main game-game keluaran squaresoft kala itu. Yang mempunyai kelebihan di hal grafis (mainnya kebanyakan RPG). Jadi, dulu sudah kenal istilah keren lainnya slain grafis, seperti polygn, frame per second (fps) dll. Itu semua berkat Playstation. pada akhirnya, dengan yakin seyakin-yakinnya, gw merubah cita-cita gw menjadi game maker (setelah mendapat referensi mengenai karir di dunia gaming yang sangat menggiurkan). Khususnya bagian animator.
(masih SMA) setelah mengetahui bahwa pada jaman itu, kuliah di jurusan "game maker" rada mustahil dilakukan, ada memang tapi biayanya ih wow, maka dengan segera dan niat yang tulus gw geser lagi cita-cita menjadi grafis desainer. Tukan bikin print ad keren dan desainer yang ulung. Emak dan babe pun mengamininya (sebelumnya emak ngotot nguliahin di sastra inggris). Cita2 ini gw lanjutin hingga tingkat smnptn dengan pilihan jurusan DKV, Komunikasi, Arsitektur (yang terakhir cuman buat pantes2 soalnya dulu kan nak IPA). Tapi nasib berkata lain. DKV lepas, masuklah gw di komunikasi. Bidang yang dulu gw gak ngeh, ini jurusan apaan. dan ternyata jurusan beginian.
Masa kuliah tentunya banyak dinamika. Awalnya masih ingin melanjutkan cita2 menjadi desiner (ad penjurusan desgraf) tapi pupus di tengah jalan ketika masuk persma dan magang di bidang jurnalistik. Secara otomatis gw jadi punya cita-cita jadi wartawan. Dan akhir-akhir ini, entah kenapa nyaa gw melayang ke bidang iklan. Masa kuliah ada masa dngan perubahan main cepat (bukti kalau masa kuliah ada masa tergalau di hidup gw -____-)
Dan sekarang gw dihadapkan kenyataan. Dalam hitungan bulan, mau tidak mau gw kudu mutusin. Mana yang akan menjadi masa dpan. Masa dpena yang dulu cuma jadi angan-angan belaka pas ngobrol bareng temen SD, kini seakan cuma sejengkal jaraknya. Ternyata maa depan bukan cuma masalah kita akan jadi apa atau siapa. Namun terlepas dari itu, masa depan adalah masa pertanggungjawaban. Maksudnya, masa ketika kita bener-bener 100 % bertanggung jaab sama diri sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, kita benar-benar menjadi kapten. Apapun itu bentuknya, mau desainer grafis, kerja di biro ad, semua memiliki resiko masing-masing. Bisa saja indah sesuai dengan khayalan jaman dulu. Bisa juga sebaliknya. Bahkan mulai sekarang, atau mulai kita dewasa secara perilaku, kita harus memikirkan dan mempersiapkan. Jangan sampai masa depan kita justru menjadi sebuah kemunduran. Siap gak siap seua harus dihadapi. Pertanyaannya, apakah gw siap? apakah gw cukup siap?
Senin, 14 Februari 2011
Review : Heartbreak.com
Mungkin diantara seantero film komedi lokal yang bertebaran di Indonesia, ini salah satu dari sedikit yang berhasil menarik perhatian gw. Heartbreak.com bercerita tentang Agus (Raymon Y Tungka) yang tiba-tiba diputuskan oleh pacarnya Nayla (Raihanuun) secara sepihak. Hal ini disebabkan Nayla sudah punya pacar (lagi) selama sekolah di Australia bernama Kevin (Gary Iskak). Wawan (Omesh Ananda) bersama pacarnyaRaya (Rischa Novisha) mencoba membangkitkan lagi si Wawan yang drop gara-gara diputus Nayla. Nah pada saat itu mereka menemukan Heartbreak.com sebuah badan intelijen yang khusus menangani kasus-kasus percintaan seperti ini. Dengan bantuan Mbak Elza (Sophie Navita) Ferdy (Edo Borne) dan Nadia (Shara Aryo) dari Heartbreak.com, Wawan berjuang untuk mendapatkan cinta Nayla kembali.Simpel dan sangat lucu. Impress pertama dari film ini. Dari segita cerita sebenarnya cukup sederhana, namun kehadiran lembaga Heartbreak.com menjadi sesuatu yang berbeda. Strategi demi strategi disusun Heartbreak.com untuk memperoleh cinta Nayla kembali, disajikan dengan cukup apik, ringan dan punya sense humor yang tidak kacangan. Apalagi keberadaan Wawan yang diperankan Omesh, bener-bener kocak.
Komedi yang disajikan pas. Tidak berlebihan, original dan tentu saja tidak mengumbar unsur seks di dalamnya. Dari akting ya menurut saya semua bermain dengan bagus. Raymon yang depresi dengan aksen manjanya lucu tapi melas. Omesh menjadi biang komedi yang efektif di sini. Dan Raihanuun sangat cantik di sini (ini personal lho ya, tapi sumpah gw kesengsem berat sama wanita ini). Endingnya juga unik dan menyentuh. Ada bagian yang bikin gw sedikit menyeka air mata (haiyaah..). hahaha
Om Affandi Abdul Rachman cukup berhasil dalam mendirect film ini. Semua yang ditampilkan di sini sangat fresh, dialognya juga gak cupu, Raihanun fresh banget (lagi-lagi...). Oiya karena ini film komedi romantis maka sisi romantisnya juga gak kelupaan. Ada beberapa adegan yang menuryt gw secara personal sangat romantis. Seperti jurus terakhir yang diberikan Heartbreak.com untuk meruntuhkan hati Nayla *SPOILER ALERT*. Durasi 105 menit dalam film ini diisi dengan adegan-adegan yang padat dari segi cerita dan komedi. Porsinya romantisnya juga pas. Gak terlalu maksa, tapi gak terlalu geje juga.
sekali lagi Simpel, Lucu dan Fresh!
wajib tonton, jarang-jarang ada film komedi romantis Indonesia yang tidak mengumbar seks dan original seperti film ini. Hmm, gw berharap ada film sejenis lagi. Eh udah ada ding, judulnya Aku Atau Dia, yang merupakan sekuel film ini (tapi belum nonton). Well... kita lihat saja :)
Rabu, 26 Januari 2011
Fail... :(
It could be the best word to describe what was happen yesterday. I'm just break up. No.. it isn't like an ordinary one. Not "break up" with my girl or something like that (hey, did I mention it that I'm still single?). I was broke up by my friend. Yeah, my closest friend in high school.
Seperti yang pernah gw twit kemarien
"gak cuman film horor korea yang punya twist ending, kisah persahabatanpun juga bisa punya twist ending"
yap. semuanya tampak sangat sempurna 3-4 tahun silam. Gw dan teman-teman terbaik gw (dia termasuk di dalamnya) bisa jadi kelompok (bukan geng tapi) pertemanan yang kompak. Dari ngopi, nonton, bikin event reunian sampe jelajah pantai, semua sudah dilakukan. It's all about fun.
hingga pada akhirnya harus ada keputusan yang harus dipilih satu temanku. Pilihan yang akan merubah semua. Dan benar semua berubah. Empat orang yang sangat lekat itu kini berjalan terpisah. Masing-masing berdiri sendiri, dengan seluruh dayanya masing-masing.
Sampai akhirnya gw menerima pernyataan temenku itu - setelah setahun tidak bertemu - bahwa dia sudah hidup mandiri. Dan tidak mau dipusingkan masa lalu. Dan gw adalah masa lalu yang memusingkannya.
Seperti yang pernah gw twit kemarien
"gak cuman film horor korea yang punya twist ending, kisah persahabatanpun juga bisa punya twist ending"
yap. semuanya tampak sangat sempurna 3-4 tahun silam. Gw dan teman-teman terbaik gw (dia termasuk di dalamnya) bisa jadi kelompok (bukan geng tapi) pertemanan yang kompak. Dari ngopi, nonton, bikin event reunian sampe jelajah pantai, semua sudah dilakukan. It's all about fun.
hingga pada akhirnya harus ada keputusan yang harus dipilih satu temanku. Pilihan yang akan merubah semua. Dan benar semua berubah. Empat orang yang sangat lekat itu kini berjalan terpisah. Masing-masing berdiri sendiri, dengan seluruh dayanya masing-masing.
Sampai akhirnya gw menerima pernyataan temenku itu - setelah setahun tidak bertemu - bahwa dia sudah hidup mandiri. Dan tidak mau dipusingkan masa lalu. Dan gw adalah masa lalu yang memusingkannya.
sedikit banyak hal itu membuat gw sedikit berfikir bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita paksakan untuk menjadi sesuatu seperti harapan kita. Simpelnya, gak semua hal itu akan baik pada kita. Tapi semua hal itu (Baik dan Buruk) sebenarnya adalah yang terbaik yang bagi gw pribadi. Masih banyak hal diluar sana yang biasa saja namun penting bagi gw.
Still, bagaimanapun juga, istilah mantan bestfriend itu gak ada dan gak pernah ada di kamus hidup gw. Dia masih gw anggap temen, masalah dia masih anggap gw temen atau bukan, that's in her mind. Dan disini baik gw atau dia diuji satu hal, ikhlas gak akan sebuah kenyataan itu.
Gw ikhlas. meskipun menurut ego, itu bukan sesuatu yang terbaik.
Life move onwards, not backwards. That's the reality .
Senin, 24 Januari 2011
Review : I Know What You Did On Facebook

Pertama kali lihat iklan trailer film ini di tv bikin nyengir, aduh film kancrut lagi. Efeknya gw juga dengan mudahnya melupakan trailer itu. Tapi ada yg aneh, di perhelatan Festival Film Indonesia 2010 kemarin, nyempil itu film di jajaran nominasinya. Terlepas hiruk pikuk yang melanda FFI tersebut, gw dibikin penasaran sama ini film. Kok bisa ya film ini masuk nominasi. Apa yang menarik? judulnya aja gak kreatif (nyomot judul I Know What You DId Last Summer) tapi gw akuin cukup nendang.
Oke, ternyata cdnya cepet banget keluar. Pertama agak ragu juga, takutnya ini film kayak karya Nayato yang cetek dan pamer payudara semua. Tapi akhirnya kenekatan gw membawa hikmah. Overall filmnya tidak seburuk ge bayangkan. Menarik malah.
Film ini bercerita tentang si Luna (Fanny Febriana) yang mempunya pacar bernama Reno (Edo Borne). Luna yang notabene menginginkan hubungan yang serius, merasa tidak betah lagi dengan Reno yang sifatnya masih suka main-main. Curhatlah si Luna dengan Via (Kimi Jayanti), temen SMPnya yang kebetulan dia kenal (tentu saja) lewat facebook. Ternyata Via justru mengalami hal yang berkebalikan. Dia yang ugal-ugalan tidak betah dengan pacarnya Hedi (Fikri Ramadhan) yang sopan dan membosankan. Nah disitulah cerita mulai bergulir.
Luna dan Via kemudian punya rencana, mengetes perasaan pacaranya masing-masing melalui iseng2 di facebook. Luna meremove Reno dari friendlist di facebook kemudian berkenalan dengan Hedi di fb juga. Begitu juga Via. Namun Luna dan Via sepakat untuk melakukan misi rahasia ini hanya di Facebook.
Plotnya sebenarnya mudah ditebak. Tapi eksekusi yang rapi menyebaban semuanya menjadi enak untuk tetap dinikmati. Selain kisah Luna Via tadi, ada juga kisah abangnya Reno, Doni (Agastya Kandou) yang merupakan seorang gay dan menyukai partner kerjanya Erik (Yama carlos). Juga Kisah Merline (Imelda Therine) kakak dari Luna, yang hidupnya membosankan karena terus dicuekin suaminya Ario (Restu Sinaga).
jadi garis benangnya adalah facebook. Tapi entah kenapa penyajian cerita si Doni dan Merline terlalu berlebihan, porsinya terlalu banyak. Harusnya film ini lebih serius mengenai cerita luna dan via.
Secara pengambilan gambar, tidak ada yang luar biasa. Standar aja, namun cukup untuk menggambarkan adegan demi adegan dengan cukup apik. Untuk castnya, Kimi Jayanti yang paling menonjol. Sedangkan yang lain ya... just so so. Lumayanlah kalo gak mau dikata buruk. Kekurangannya adalah plot yang kadang gak fokus. Memasukkan adegan-adegan yang gak penting untuk dimasukkan. Ada beberapa adegan seperti itu. Yang jatuhnya cukup annoying.
Untuk keseluruhan, film ini termasuk film yang lumayan bagus dan cukup menghibur. Permasalahannya juga real dan tidak terlalu dibuat-buat walaupun sedikit klise. Layar-layar lapotop yang berisi halaman facebook juga menjadi sesuatu yang beda dari film lain. Ya mungkin film ini sedikit rasa segar dari film-film Indonesia yang bertebaran sekarang. Lumayan bagus.
Untuk keseluruhan, film ini termasuk film yang lumayan bagus dan cukup menghibur. Permasalahannya juga real dan tidak terlalu dibuat-buat walaupun sedikit klise. Layar-layar lapotop yang berisi halaman facebook juga menjadi sesuatu yang beda dari film lain. Ya mungkin film ini sedikit rasa segar dari film-film Indonesia yang bertebaran sekarang. Lumayan bagus.
Sabtu, 15 Januari 2011
Review : Death Bell 2 : Bloody Camp

Release Date: 31 December 2010
Director: Yoo Sun-dong
Cast: Hwang Jeong-eum, Park Jiyeon, Yun Seung-ah, Yoon Si-yoon, Kim Su-Ro.
Director: Yoo Sun-dong
Cast: Hwang Jeong-eum, Park Jiyeon, Yun Seung-ah, Yoon Si-yoon, Kim Su-Ro.
Sebenarnya menarik melihat film ini. Ya, emang sih, gw gak terlalu hapal cast pemain asia apalagi dari Korea, tapi secara "look" atau first impression, film ini bisa dibilang lumayan. Bolehlah, thriller yang menarik juga. Lalu bagaimana dengan cerita? atau porsi gorenya?
Apa yang lebih menarik dari satu kelas siswa dengan dua orang guru terjebak di sekolah dengan psikopat yang siap membantai. Itulah kira-kira inti cerita di sini. Seorang murid siswi (Hwang Jeong-eum) yang memiliki masa lalu yang cukup kelam, masuk ke camp pelatihan bagi siswa-siswi terpandai dan terpilih di sekolahnya. Dia dan teman-teman naasnya itu akan menghabiskan waktu liburan dengan belajar-belajar dan belajar di "camp". Namun mereka tidak sadar, bahwa ada psokopat gila yang mengancam jiwa mereka ketika sedang belajar.
Serba nanggung, itulah yang menonjol di sini. Cerita nanggung, penokohan karakter nanggung, adegan sadis yang nanggung dan kacaunya twist yang nanggung. Entah kenapa director Yon Sun Dong, tidak mengikuti ramuan pendahulunya saja. padahal sebenarnya banyak adegan-adegan yang mempunyai potensi horor. Tapi entah kenapa Yon Sun DOng malah seenaknya sendiri motong keasikan itu.
Dari segi cerita, Death Bell 2 ini sudah cacat di tengah jalan. Kalau di seri pertama kita disuguhin cerita yang membuat kita berpikir "bisa jadi seperti itu", mengenai sogok menyogok berujung maut, di seri ini justru akan membuat kita berpikir "aduh gak logis banget". Memang menonjolkan masalah muda mudi di sekolahan yaitu bullying, tapi kelewat dangkal. Sangat dangkal. Motifnyapun terlalu sepele.
Setelah gw nonton sampai selesai, akhirnya gw baru sadar ada yang kurang dari film ini. Sebelumnya kita dibuat tegang dengan soal-soal yang dibuat psikopat. Kalau tidak bisa menjawab soal tersebut maka seorang murid akan mati. Nah di Death Bell 2 ini tidak ada soal-soal yang membuat kita tegang dan merasa berkejaran dengan waktu. Fatal untuk franchise sekelas Death Bell.
Tokoh utama, Hwang Jeong-eum, tidak bisa membangun cerita dengan baik. Karakternya yang dibuat dingin, jatuhnya malah terlalu dingin, dan kesan misterius itu hilang. Paling mending aktingnya si ibu guru muda (entah ini siapa namanya :p), tapi tetep dieksekusi akhir, nasib ibu guru muda ini gak jelas. Mungkin karena ditopang fondasi cerita yang tidak solid, dan terlalu banyak hal klise di dalamnya.
Nasib film sequel (apalagi yg ditambah embel-embel "2") mau tidak mau harus rela dibandingkan dengan seri pertamanya. Apakah lebih sukses, atau malah lebih buruk. Death Bell 2 : Blody Camp harus menerima kenyataan, bahwa film ini tidak bisa lebih baik dari film pertama, bahkan ketika film bergerak setengah jalan. Tone filmnya terlalu gelap, berbeda dengan sebelumnya yang cerah tapi mengancam. Ini malah kayak film-filmnya Nayato yang serba dark (karena disini disetting mati lampu). Selain itu, film ini tampil lebih nakal karena ada beberapa adegan berbikini (tapi masih pantas soalnya ada setting di kolam renang juga). Gak ada yang spesial di film ini, itu intinya. Seri pertama jauh lebih baik.
Rabu, 12 Januari 2011
Desain Desain Desain Grafis
Sudah lama banget semenjak meninggalkan hal ini, yup desain grafis. Gara-gara sibuk di mata kuliah ini itu, dan sejenak terlena dengan Adobe Premiere, kahirnya saudara-saudara, gw kembali menggauli yang namanya Adobe Photoshop. Entah mengapa, agak canggung juga dengan software ini, padahal dulu tiap hari ngadepnya juga ini. And, this is it, sedikit coret-coret ala chef nanda dengan photoshop (hahaha, masih amatiran jadi ya begini hasilnya)
art is...
Langganan:
Postingan (Atom)
