Sabtu, 23 Juli 2011

Manusia

Saya tidak menyesal. Tidak sama sekali.

Itu pertama kali yang saya coba pikirkan pertama kali setelah menerima suatu kenyataan. Memang saya diajarkan untuk terus bersyukur atas apapun, apapun keadaann yang menimpa. Sama pada saat waktu itu. Ketika satu kata terlontar, dengan begitu banyak konsekuensi di dalamnya.

Saya terima. Saya terima dengan lapang dada. Bukan saya kalah, karena memang tidak ada pemenang di sini. Tapi saya manusia biasa. Sangat biasa yang terjerumus cerita luar biasa yang dituliskan Tuhan. Terkadang saya memikirkan, hal-hal yang menjadi acuan akan datangnya sebuah konsekuensi. Sikap saya, sifat saya, atau apapun itu. Rasa-rasanya saya ingin membaliknya 180 derajat. Bukan karena tidak terima, hanya ingin sekedar tahu. Karena pada dasarnya manusia biasa adalah makhluk yang selalu ingin tahu bukan? dan saya adalah manusia biasa.

dan bukan, anda bukanlah bodoh. Jangn menghakimi diri dengan kata bodoh. Saya, anda, kita adalah manusia biasa. Manusia biasa tidak ada yang sempurna bukan? maka jangan heran jika orang paling positif di dunia ini juga bisa berbuat negatif. Dan ketika itu terjadi, pasti ada alasan di belakangnya. Jadi tenang saja. We're just human

It's okay. I'm fine.
and You is always You

Kamis, 21 Juli 2011

Bang Nazar, Partai Biru dan Mbak Fanny

kali ini saya mau bahas berita yang kini santer keluar di media massa. Yah apalagi dengan ceritabang Nazar. Uda beberapa hari ini wajah pertelevisian isinya "nyanyian" bang Nazar. Entah berupa teleponlah, BBmlah. Bahkan Suara jingle iklan roti (yang gak sengaja kedengeran dan jadi backsound Bang Nazar pas lagi telepon) juga dibahas abis-abisan. Komentar saya : ini apaaa... -____-

Sebenarnya, kasus bang Nazar ini predictable. Saya gak mau cerita predictablenya sebalah mana. Tapi cerita Bang Nazar ini memang terlihat aneh sejak pertama. Kalau boleh pinjem istilah di film, semacam plot hole gitu. Kepergian Bang NAzar ke Singapura pertama kali ini sudah menimbulkan kecurigaan. Kok bisa? katanya buronan? masak ngelacak aja gak bisa? dan alasannya selalu gak mutu.

Curiga bolehlah ya. Saya memang tidak begitu suka dengan masalah politik. Tapi kejanggalan demi kejanggalan yang terus terjadi membuat saya ingin berkomentar (ceilahhh....)

Partai ini (taulah ya) sudah masuk ke dalam zona merah. Zona dimana orang-porang di dalamnya mulai terbuai dengan kekuasaan, nikmat duniawi , yang kemudian membuat perpecahan. Mungkin inilah akibatnya jika pembina partainya cuma bisa prihatin aja, tanpa ada tindakan tegas.

Ironisnya, mau tidak mau media jadi mengekspos habis-habisan masalah ini. Masalah lain yang sebenarnya lebih urgent malah kurang kena exposure. Dan lagi-lagi, bapak pemimpin kita yang pinter nyanyi, masih melakukan pencitraannya. Pencitraan gagal yang terus dipaksa. Beliau selalu sibuk dipaksa pidato mengenai kasus yang menimpa partainya. Okelah, kalo ujung-ujungnya keadilan tapi tapi tapi... This country is not about you and your damn party sir! remember that!


Harapan? yah harapan terus ada. Jangan dipikirin tu ulah nazar, pak beye (wah frontal) si anas atau si Sutan Bathogana apalah itu (sumpah, enek bgt ngeliat bapak satu ini, hampir tiap hari nongol mulu di tipi). Fokus aja, berharap langsung ke Tuhan aja.

daripada mikirin begituan, sebenarnya saya lagi sedih. Ditinggal mbak Fanny Fabriana kawin. *nangis selonjoran di samping kasur*

Senin, 18 Juli 2011

Semacam Obat Galau Saya


akhir-akhir ini saya berpikir bahwa, saya jadi hobi galau (bukannya dari dulu ya?). Otomatis, di tengah kegalauan saya, saya mencari-cari obat apa yang pas untuk meredam, atau bahkan menghilangkan galau yang kadang membabi buta itu (apadeh?)

dengan niat iseng (iseng kok niat?) saya kulikkulik situs Youtube, mencari video-video yang bisa membuat mata saya segar (bukan jorok - red). Biasanya saya buka page game, ya saya suka karena bisa bernostalgia sewaktu saya masih resmi jadian sama konsol PS2. Karena bosen plus sakit ati kalo liat review gim baru (cuma bisa ngeliat, gak bisa maenin) saya beralih ke video klip. Saya lupa dulu buka page VEVOnya siapa, tapi di situ ada link video lain. Seorang penyanyi dengan nama yang masih sangat asing di telinga. Iseng-iseng berhadiah saya buka link tersebut.

Matt Costa - Mr. Pitiful

Wow. Cool. Ini hebat. Setalah Glen Hansard, saya (hampir) tidak pernah menemukan seorang musisi yang bisa bener-bener punya ciri khas dan kharisma. Mr. Pitifull, dengan nada yang menurut saya agak sedikit aneh tapi beneran fun kalau didengerin. Ditambah dengan karakter suara yang berkarakter. Singkatnya saya makin penasaran dan saya coba cari lagu-lagu lainnya. Dan saya menemukan :

Matt Costa - Cold December

Gak tau kenapa, yang satu ini... bener-bener heartwarming (padahal judulnya ada kata -cold-). Ditambah lagi kalo liat video klipnya yang nampilin lanskap cantik dataran tinggi di Eropa sono. Paduan anatara lirik - karakter suara dan kharisma si Matt Costa, it's stunning!

yeah! Matt Costa, your songs is like a drug for me!

It could be warm you see, a statue next to me
Swimming away from the ice and snow
Could I have failed to see the signs in front of me
Warning and flashing symbols, subtle and simple I couldn't see
I couldnt see


itu bagian fav saya!

Senin, 04 Juli 2011

relationship?

*backsound : Adele - Someone like you

relationship. Banyak yang berbicara tentang itu. Begitu juga saya. Dulu pernah menuliskan sedikit mengenai ini. What can I say? relationship still needed two kind of souls, to be united.

Dan saya mencoba memahami itu. Relationship, di twiiter, banyak quotes yang berbicara menganai relationship. Suatu hubungan spesial. Dan universal tentunya. Tapi saya, (hampir) tidak pernah benar-benar mengerti mengenai apa itu relationship, bagaimana rasanya, bagaimana bentuknya. what a pity.

dan seperti soundtrack malam ini, saya berbicara menmgenai seseorang. "Someone like you". Dimana "you" adalah seseorang yang selama ini sulit bagi saya untuk ditemukan. Seseorang yang tidak pernah saya bayangkan. Seseorang yang kini selalu saya libatkan dalam mimpi. Seseorang yang, yang ingin rasanya saya jalin sebuah relationship bersamanya.

Meskioun, saya belum sepenuhnya mengerti mengenai relationship itu sendiri, but I think it would be nice to enjoying that with... someone like you.
ya someone like you..

to understanding what is relationship, maybe I should find someone like you

am I in love? ....

*geez.... super unyu postingan kali ini hahahaha

Kamis, 30 Juni 2011

Bye June, Welcome July :)

Saya benar-benar terlena dengan bulan Juni kali ini. Sudah lama saya tidak pernah merasakan satu titik kesenangan, kebahagiaan seperti di bulan juni ini. Bukan hanya karena tersemat angka kelahiran di dalamnya, namun peristiwa-peristiwa yang sulit untuk dibayangkan sebelumnya.

Satu hal yang membuat saya merasa bahwa bulan Juni ini nyaris sempurna adalah, saya akan merindukannya. Segala sesuatu di bulan ini.

So. thanks for being nice to me June, we'll meet again soon.
And for July, nice to see you. Hope you're the next blazing month :)

Sabtu, 14 Mei 2011

Dan sebenarnya...

Saya bukanlah tipe orang yang mudah menuliskan, atau sekedar memindahkan apa yang ada di otak pada sebuah media lain. Terlalu absurd, mungkin. Tapi di sisi lain, saya juga tipe orang yang sangat haus akan perhatian. Bukan berarti cari perhatian, namun saya selalu merasa perlu untuk diperhatikan, oleh siapapun itu. Orang tua, teman, saudara, om, pakde, bude, kucing bahkan orang lain.

Tapi entah mengapa, keinginan tersebut tidak membuat saya menjadi orang yang suka mencari perhatian. Saya cenderung pasif untuk mengejar hal-hal yang ada di benak saya. Tidak mudah mengubah kepasifan saya. Bahkan untuk dituangkan dalam satu media, apapun itu, tersembunyi, dan orang lain tidak perlu tahu. Takut. Mungkin. Saya kurang bisa mendefinisikannya.

Sama halnya ketika saya harus mengaku bahwa saya sedang menyukai seseorang. Iya memang benar, saya kadang menceritakan (curhat) hal tersebut kepada orang lain. Orang yang saya anggap bisa dipercaya. Namun kenyataannya, apa yang saya beritahukan ke orang lain itu, belum sepenuhnya mewakili apa yang ada di benak saya. Singkatnya, saya memfilter apa yang saya utarakan pada orang lain. Saya memberi batasan pada diri sendiri.

Memang ada quote yang bunyinya : sometimes, things is better left unsaid.
Tapi bagaimana jika, things that better left unsaid tadi berteriak kencang seraya menggedor-gedor dinding pembatas yang saya dirikan dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jika things that better left unsaid itu memenuhi tiap sudut otak saya. Melebihi kapasitas otak, dan meluber. Bocor di sana-sini. Bagaimana jika kemuakan dalam menyimpan things that better left unsaid itu terjadi. Apa iya harus saya paksakan untuk keluar, muntah dari mulutku, tanpa peduli ada orang lain yang harus mendengarnya atau tidak.

Jika jawabannya memuntahkan semuanya itu dengan posisi bersimpuh, tangan menengadah, bermaksud untuk menjalin koneksi dengan Tuhan, saya pernah, sering mungkin. Tapi tetap saja itu belum cukup. Jutaan pertanyaan, pernyataan, pujian, caci maki semua pernah saya sampaikan ke Dia. Entahlah, mereka (hal-hal) tersebut kemudian selalu mereproduksi diri mereka sendiri. Mungkin cara saya berkomunikasi dengan Tuhan keliru, tapi tidak mungkin, bukankah Tuhan Maha Mendengar?
….
…
…..
..
Ah, mungkin itu sesi curhat saya dengan Tuhan kurang panjang.
Mungkin…. ..

Rabu, 11 Mei 2011

Konspirasi Kucing




(ini postingan yang telat, harusnya diposting minggu lalu)

Sekian lama aku menunggu
Untuk kedatanganmu
Bukankah engkau telah berjanji
Kita jumpa di sini…..


Terdengar sayup-sayup suara merdu Ridho Roma di tengah kebisingan sore. Fase paling melelahkan dalam perputaran waktu. Sore yang riuh, bising, ramai meskipun tidak berlaku bagi semua. Satu keadaan penuh pengharapan.

Lalu datanglah pria paruh baya melangkah gontai menuju teras rumah. Dengan mukanya yang sayu dia merogoh semua saku yang menempel di kemeja dan celananya. Sejurus kemudian mimik mukanya berubah dan seolah berkata “oh tidak!” Dia tidak menemukan kunci rumahnya. Kemudian dia menyerah. Duduk di kursi lawas di teras rumah dengan muka tertekuk.

Begitulah adegan pembuka Monolog Kucing, sebuah monolog yang memuat kisah seorang yang terusik hidupnya gara-gara seekor kucing. Sebuah sindiran. Sebuah problema remeh temeh. Namun dibalik itu, terselip pesan kemanusiaan yang tersirat. Menusuk langsung pada hakekatnya.

Adalah cerita mengenai seseorang, yang harus ketiban sial karena tidak mempu menahan emosi untuk memukul seekor kucing. Kucing naas yang sukses mencuri menu ikan bakar rica-rica, menu buka puasa yang telah disiapkan sang istri. Kucing sial itu kemudian dipukul, dihantam hingga babak belur dan kemudian melarikan diri. Keesokan harinya, pria paruh baya tersebut mendapat kabar pahit. Kesialannya ternyata belum berakhir. Pak RT datang membawa kabar bahwa kucing yang dipukulnya semalam adalah kucing tetangganya yang bernama Pak Michael. Dia menuntut ganti rugi pengobatan kucingnya yang patah kaki.

Dengan berat hati dirinya membayar sejumlah “harga” yang dituntut Pak Michael. Nominal yang tidak sedikit bagi pekerja biasa sepertinya. Namun atas nama terciptanya “kedamaian” dia rela membayar harga yang tinggi tersebut.

Nyatanya, konflik tidak berhenti sampai di situ. Insiden kecil dengan kucing ternyata menciptakan konspirasi tingkat “RT”. Konspirasi kecil yang menyudutkan lakon utama pada titik kesakitan batin tertinggi. Sampai disadari, sebenarnya bukan kucing yang menjadi problema utama. Kucing hanya sarana untuk mengantarkan tokoh utama ke dalam lubang konflik yang makin dalam. Konflik yang bisa saja dialami kita semua.

Kesatuan yang menggugah

Putu Wijaya berhasil meracik sebuah alur cerita sederhana, namun lugas dan menarik. Penceritaan yang natural mengenai pria paruh baya yang (kadang) bersebrangan dengan istrinya sendiri. Tentang kehidupan normal, yang setelah ditelisik ternyata mempunyai makna yang berbeda.

Beliau sengaja mengalirkan ceritanya bak air yang mengalir tenang. Tidak perlu twist berlebihan. Tidak perlu alur maju mundur yang membingungkan. Tidak perlu plot yang rumit. Karena ini menceritakan tentang masyarakat biasa. Bertujuan untuk mengilhami masyarakat, tentang kejadian-kejadian biasa saja. Namun sebetulnya mempunyai beragam nilai yang penting.

Lakon Kucing ini makin nyata dengan penampilan sempurna Butet Kartaredjasa. Disini, dia benar-benar menjadi jawara. Benar-benar menampilkan peformanya sebagai pelakon seni yang utuh. Tokoh Bapak, Ibu, Pak RT hingga si biang kerok utama yakni kucing, mampu dihidupkan dengan sempurna. Meskipun dalam format monolog, namun penonton mampu terbawa penokohan Butet dengan baik. Semua ikut tersenyum, manggut-manggut, bahkan ikut gemas melihat “tingkah laku” si kucing sialan itu.

Selain itu, seperti biasa Butet mampu menyelipkan humor-humor satir yang efektif memancing tawa penonton. Memang, kepiawaian Butet dalam hal ini tidak terbantahkan. Termasuk ketika dia menjelaskan, mengapa “Kucing” dipilih sebagai nama lakon untuk monolog itu. Tentu saja dalam divisi akting Butet tidak bekerja sendirian. Di belakang layar terdapat Whani Darmawan memegang jabatan sutradara. Whani ternyata mampu mengarahkan “bintang besar” seni peran Indonesia tersebut. Hasilnya seperti yang saya bilang tadi, gabungan antara penyutradaraan yang baik dengan peforma akting jempolan. Bagus.

Suasana dan ambience dari keseluruhan di atas juga dipengaruhi oleh tata musik yang mendukung. Tak diragukan lagi, dedikasi Djaduk Ferianto benar-benar ditampilkan di sini. Music-musik yang dipilihnya hingga natural sound yang diraciknya benar-benar member stu gambaran utuh mengenai rumah, konflik dan si kucing itu sendiri.

Singkatnya, drama satu setengah jam ini seakan menjadi kesatuan pelaku seni terbaik, dan menghasilkan sesuatu yang baik pula, meskipun belum bisa dibilang dahsyat. Yang tak kalah menarik di sini adalah sentilan-sentilan kritik pemerintah. Dikomunikasikan dengan bahasa visual yang menarik dan (secara sengaja) ditempatkan di posisi yang tepat. Bahkan bila mendalami keseluruhan isinya, semuanya berujung pada maksud yang sama. Kritik dan rasa sebuah keterpojokan. Seperti kita rakyat jelata yang makin terpojok dengan tuntutan realita. Miris.