Beberapa waktu yang lalu saya sempet update akun jejaring sosial yang berisi tentang jurnal, menulis jurnal dan sebagainya. Saya memang menulis update seperti itu pasca "mengubek-ubek" isi komputer. Rencananya sih cuma mau ersihin file-file yang udah kadaluarsa. Eh ternyata malah nemu satu folder (bisa dikatakan unyu) yang berisi tulisan atau semacam jurnal (oke... terserah kalo dibilang buku harian) yang isinya laporan atau ya semacam cerita apa yang terjadi hari itu atau rentang waktu yang telah terjadi.
Singkat cerita, saya baca lagi jurnal-jurnal dengan bahasa campur aduk bin nggilani itu. Lucu, seru dan yang jelas, saya bisa melihat seperti apa saya, empat tahun atau tiga tahun yang lalu. Jurnal itu mulai rajin saya tulis sejak semester awal kuliah. Sekarang saya resmi semester 9. Wow.
Secara tidak langsung, saya sekarang bisa merasakan keajaiban menulis jurnal. Maksudnya disini, menulis catatan seperti itu ternyata ada gunanya. Dari total 21 tulisan yang ada (dengan periodisasi gak jelas juga), kelihatan progres apa aja yang telah dilalui. Bagaimana kabar target-target yang ditulis di awal kemudian terjawab di bagian lain. Menarik. Di satu sisi ada semacam hiburan tersendiri, di sisi lain, secara tidak langsung, dengan ada jurnal-jurnal tersebut, saya lebih mudah mengidentifikasi hal-hal kecil maupun besar sebagai bahan evaluasi diri. Dengan membacanya, percaya deh, pasti akan muncul pertanyaan : apakah saya sekarang lebih baik dari yang dulu? sama aja? atau bagaimana?
Hal ini sangat terasa ketika saya mulai tidak aktif lagi menulis jurnal. Malas adalah penyakit utama. Dari tanggal penulisan, jurnal terakhir saya terhenti di tahun 2009. Itu berarti di tahun 2010, saya tidak pernah menulis hal semacam ini. Dan apa yang terjadi? terasa perbedaannya. Bisa dibilang tahun 2010 merupakan tahun terburuk. Semakin awut-awutan, kacau tidak terorganisir dan semuanya. Tidak perlu dijelaskan apa-apa saja yang terjadi hingga saya menyebutnya buruk. Yang jelas, saya seperti asal jalan, sulit mengidentifikasi hal-hal yang sebenarnya butuh sebuah evaluasi. Sekalinya mau intropeksi, semua kalah dengan satu kata. LUPA.
Ya, journal atau catatan harian membantu kita dalam melawan LUPA. Seperti pekerjaan wartawan. Meskipun memori adalah senjata utama ketika melakukan suatu peliputan, namun wartawan juga tak lepas dari hal-hal pendukung seperti notes atau perekam. Tujuannya jelas. Agar semua bisa tercatat, tidak ada yang tertinggal. Nah, kerja jurnal bisa dikatakan semacam itu. Gak kerasa di awal, tapi makin jelas di akhir. Perkara yang harus ditulis tidak harus sesuatu yang berat terus. Bisa juga menuliskan catatan-catatam tentang peristiwa lucu atau hal-hal yang membuat bersemangat. Coba tulis, simpan, dan besok setelah beberapa waktu coba dibaca. Akan terlihat "sesuatu" disini. Akan terlihat naik turun hidup kalian sendiri. Karena itu menarik. Dan kita butuh itu.
Minggu, 14 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
Perjalanan Dilematis
*maaf judul norak
Ternyata perjalanan seorang mahasiswa dalam menyeleseikan masa studinya itu unik-unik. Kalau digambarkan sebagai game RPG, mungkin ini yang namanya multiple ending. Inividualisme yang katanya merayap pas jadi mahasiswa semakin kentara di sini. Jelaslah, karena ketika skripsi (duh!) semua bakal sendiri.
Saya (jelas) gak bisa lepas dari kenyataan itu. Sampai sekarang saya masih entah, kurang merasa kuat dengan tema yang diambil. Padahal proposal udah lolos. Diperparah dengan dosen pembimbing yang.... ahemmmmm (Kalau beruntung anda bisa melihat beliau di kampus). Dulu sempat berpendapat. Lama atau tidak pengerjaan tugas akhir itu dipengaruhi oleh dua hal : mahasiswa itu sendiri dan tentu saja bapak ibu dosen.
Mungkin kalau nurut sama omongan orang jawa, saya bisa dikatakan "bejo" atau "untung" atau bahkan "slamet". Ada beberapa teman saya yang dapat pembimbing yang kalau dilihat reputasinya lebih "ajaib". Beberapa merasa feel hopeless. But hey, ini kita baru mulai. Kalau udah hopess, gimana bisa lulus.
Tapi tidak semua bernasib sama. Ada beberapa teman yang lancar jaya, bahkan sudah melalui tahap akhir yakni pendadaran. Kata pertama adalah "wow", lalu diikuti (seharusnya) "hey, if you can do that, so am I!" . Tapi yah, lagi-lagi itu juga hasil pengaruh duet mahasiswa-dosen pembimbing. Salut untuk teman-teman yang sudah berjalan jauh di depan saya (dan sukses buat yang tinggal nunggu wisuda).
Ya, seperti itulah perjalanan dilematis seorang mahasiswa tingkat akhir. Ketika delapan semester (mampus!) kuliah lebih mirip drama telenovela, kini realita datang. Siap gak siap semua akan datang. dan berlalu begitu saja.
Ternyata perjalanan seorang mahasiswa dalam menyeleseikan masa studinya itu unik-unik. Kalau digambarkan sebagai game RPG, mungkin ini yang namanya multiple ending. Inividualisme yang katanya merayap pas jadi mahasiswa semakin kentara di sini. Jelaslah, karena ketika skripsi (duh!) semua bakal sendiri.
Saya (jelas) gak bisa lepas dari kenyataan itu. Sampai sekarang saya masih entah, kurang merasa kuat dengan tema yang diambil. Padahal proposal udah lolos. Diperparah dengan dosen pembimbing yang.... ahemmmmm (Kalau beruntung anda bisa melihat beliau di kampus). Dulu sempat berpendapat. Lama atau tidak pengerjaan tugas akhir itu dipengaruhi oleh dua hal : mahasiswa itu sendiri dan tentu saja bapak ibu dosen.
Mungkin kalau nurut sama omongan orang jawa, saya bisa dikatakan "bejo" atau "untung" atau bahkan "slamet". Ada beberapa teman saya yang dapat pembimbing yang kalau dilihat reputasinya lebih "ajaib". Beberapa merasa feel hopeless. But hey, ini kita baru mulai. Kalau udah hopess, gimana bisa lulus.
Tapi tidak semua bernasib sama. Ada beberapa teman yang lancar jaya, bahkan sudah melalui tahap akhir yakni pendadaran. Kata pertama adalah "wow", lalu diikuti (seharusnya) "hey, if you can do that, so am I!" . Tapi yah, lagi-lagi itu juga hasil pengaruh duet mahasiswa-dosen pembimbing. Salut untuk teman-teman yang sudah berjalan jauh di depan saya (dan sukses buat yang tinggal nunggu wisuda).
Ya, seperti itulah perjalanan dilematis seorang mahasiswa tingkat akhir. Ketika delapan semester (mampus!) kuliah lebih mirip drama telenovela, kini realita datang. Siap gak siap semua akan datang. dan berlalu begitu saja.
Sabtu, 23 Juli 2011
Manusia
Saya tidak menyesal. Tidak sama sekali.
Itu pertama kali yang saya coba pikirkan pertama kali setelah menerima suatu kenyataan. Memang saya diajarkan untuk terus bersyukur atas apapun, apapun keadaann yang menimpa. Sama pada saat waktu itu. Ketika satu kata terlontar, dengan begitu banyak konsekuensi di dalamnya.
Saya terima. Saya terima dengan lapang dada. Bukan saya kalah, karena memang tidak ada pemenang di sini. Tapi saya manusia biasa. Sangat biasa yang terjerumus cerita luar biasa yang dituliskan Tuhan. Terkadang saya memikirkan, hal-hal yang menjadi acuan akan datangnya sebuah konsekuensi. Sikap saya, sifat saya, atau apapun itu. Rasa-rasanya saya ingin membaliknya 180 derajat. Bukan karena tidak terima, hanya ingin sekedar tahu. Karena pada dasarnya manusia biasa adalah makhluk yang selalu ingin tahu bukan? dan saya adalah manusia biasa.
dan bukan, anda bukanlah bodoh. Jangn menghakimi diri dengan kata bodoh. Saya, anda, kita adalah manusia biasa. Manusia biasa tidak ada yang sempurna bukan? maka jangan heran jika orang paling positif di dunia ini juga bisa berbuat negatif. Dan ketika itu terjadi, pasti ada alasan di belakangnya. Jadi tenang saja. We're just human
It's okay. I'm fine.
and You is always You
Itu pertama kali yang saya coba pikirkan pertama kali setelah menerima suatu kenyataan. Memang saya diajarkan untuk terus bersyukur atas apapun, apapun keadaann yang menimpa. Sama pada saat waktu itu. Ketika satu kata terlontar, dengan begitu banyak konsekuensi di dalamnya.
Saya terima. Saya terima dengan lapang dada. Bukan saya kalah, karena memang tidak ada pemenang di sini. Tapi saya manusia biasa. Sangat biasa yang terjerumus cerita luar biasa yang dituliskan Tuhan. Terkadang saya memikirkan, hal-hal yang menjadi acuan akan datangnya sebuah konsekuensi. Sikap saya, sifat saya, atau apapun itu. Rasa-rasanya saya ingin membaliknya 180 derajat. Bukan karena tidak terima, hanya ingin sekedar tahu. Karena pada dasarnya manusia biasa adalah makhluk yang selalu ingin tahu bukan? dan saya adalah manusia biasa.
dan bukan, anda bukanlah bodoh. Jangn menghakimi diri dengan kata bodoh. Saya, anda, kita adalah manusia biasa. Manusia biasa tidak ada yang sempurna bukan? maka jangan heran jika orang paling positif di dunia ini juga bisa berbuat negatif. Dan ketika itu terjadi, pasti ada alasan di belakangnya. Jadi tenang saja. We're just human
It's okay. I'm fine.
and You is always You
Kamis, 21 Juli 2011
Bang Nazar, Partai Biru dan Mbak Fanny
kali ini saya mau bahas berita yang kini santer keluar di media massa. Yah apalagi dengan ceritabang Nazar. Uda beberapa hari ini wajah pertelevisian isinya "nyanyian" bang Nazar. Entah berupa teleponlah, BBmlah. Bahkan Suara jingle iklan roti (yang gak sengaja kedengeran dan jadi backsound Bang Nazar pas lagi telepon) juga dibahas abis-abisan. Komentar saya : ini apaaa... -____-
Sebenarnya, kasus bang Nazar ini predictable. Saya gak mau cerita predictablenya sebalah mana. Tapi cerita Bang Nazar ini memang terlihat aneh sejak pertama. Kalau boleh pinjem istilah di film, semacam plot hole gitu. Kepergian Bang NAzar ke Singapura pertama kali ini sudah menimbulkan kecurigaan. Kok bisa? katanya buronan? masak ngelacak aja gak bisa? dan alasannya selalu gak mutu.
Curiga bolehlah ya. Saya memang tidak begitu suka dengan masalah politik. Tapi kejanggalan demi kejanggalan yang terus terjadi membuat saya ingin berkomentar (ceilahhh....)
Partai ini (taulah ya) sudah masuk ke dalam zona merah. Zona dimana orang-porang di dalamnya mulai terbuai dengan kekuasaan, nikmat duniawi , yang kemudian membuat perpecahan. Mungkin inilah akibatnya jika pembina partainya cuma bisa prihatin aja, tanpa ada tindakan tegas.
Ironisnya, mau tidak mau media jadi mengekspos habis-habisan masalah ini. Masalah lain yang sebenarnya lebih urgent malah kurang kena exposure. Dan lagi-lagi, bapak pemimpin kita yang pinter nyanyi, masih melakukan pencitraannya. Pencitraan gagal yang terus dipaksa. Beliau selalu sibuk dipaksa pidato mengenai kasus yang menimpa partainya. Okelah, kalo ujung-ujungnya keadilan tapi tapi tapi... This country is not about you and your damn party sir! remember that!
Harapan? yah harapan terus ada. Jangan dipikirin tu ulah nazar, pak beye (wah frontal) si anas atau si Sutan Bathogana apalah itu (sumpah, enek bgt ngeliat bapak satu ini, hampir tiap hari nongol mulu di tipi). Fokus aja, berharap langsung ke Tuhan aja.
daripada mikirin begituan, sebenarnya saya lagi sedih. Ditinggal mbak Fanny Fabriana kawin. *nangis selonjoran di samping kasur*
Sebenarnya, kasus bang Nazar ini predictable. Saya gak mau cerita predictablenya sebalah mana. Tapi cerita Bang Nazar ini memang terlihat aneh sejak pertama. Kalau boleh pinjem istilah di film, semacam plot hole gitu. Kepergian Bang NAzar ke Singapura pertama kali ini sudah menimbulkan kecurigaan. Kok bisa? katanya buronan? masak ngelacak aja gak bisa? dan alasannya selalu gak mutu.
Curiga bolehlah ya. Saya memang tidak begitu suka dengan masalah politik. Tapi kejanggalan demi kejanggalan yang terus terjadi membuat saya ingin berkomentar (ceilahhh....)
Partai ini (taulah ya) sudah masuk ke dalam zona merah. Zona dimana orang-porang di dalamnya mulai terbuai dengan kekuasaan, nikmat duniawi , yang kemudian membuat perpecahan. Mungkin inilah akibatnya jika pembina partainya cuma bisa prihatin aja, tanpa ada tindakan tegas.
Ironisnya, mau tidak mau media jadi mengekspos habis-habisan masalah ini. Masalah lain yang sebenarnya lebih urgent malah kurang kena exposure. Dan lagi-lagi, bapak pemimpin kita yang pinter nyanyi, masih melakukan pencitraannya. Pencitraan gagal yang terus dipaksa. Beliau selalu sibuk dipaksa pidato mengenai kasus yang menimpa partainya. Okelah, kalo ujung-ujungnya keadilan tapi tapi tapi... This country is not about you and your damn party sir! remember that!
Harapan? yah harapan terus ada. Jangan dipikirin tu ulah nazar, pak beye (wah frontal) si anas atau si Sutan Bathogana apalah itu (sumpah, enek bgt ngeliat bapak satu ini, hampir tiap hari nongol mulu di tipi). Fokus aja, berharap langsung ke Tuhan aja.
daripada mikirin begituan, sebenarnya saya lagi sedih. Ditinggal mbak Fanny Fabriana kawin. *nangis selonjoran di samping kasur*
Senin, 18 Juli 2011
Semacam Obat Galau Saya

akhir-akhir ini saya berpikir bahwa, saya jadi hobi galau (bukannya dari dulu ya?). Otomatis, di tengah kegalauan saya, saya mencari-cari obat apa yang pas untuk meredam, atau bahkan menghilangkan galau yang kadang membabi buta itu (apadeh?)
dengan niat iseng (iseng kok niat?) saya kulikkulik situs Youtube, mencari video-video yang bisa membuat mata saya segar (bukan jorok - red). Biasanya saya buka page game, ya saya suka karena bisa bernostalgia sewaktu saya masih resmi jadian sama konsol PS2. Karena bosen plus sakit ati kalo liat review gim baru (cuma bisa ngeliat, gak bisa maenin) saya beralih ke video klip. Saya lupa dulu buka page VEVOnya siapa, tapi di situ ada link video lain. Seorang penyanyi dengan nama yang masih sangat asing di telinga. Iseng-iseng berhadiah saya buka link tersebut.
Matt Costa - Mr. Pitiful
Wow. Cool. Ini hebat. Setalah Glen Hansard, saya (hampir) tidak pernah menemukan seorang musisi yang bisa bener-bener punya ciri khas dan kharisma. Mr. Pitifull, dengan nada yang menurut saya agak sedikit aneh tapi beneran fun kalau didengerin. Ditambah dengan karakter suara yang berkarakter. Singkatnya saya makin penasaran dan saya coba cari lagu-lagu lainnya. Dan saya menemukan :
Matt Costa - Cold December
Gak tau kenapa, yang satu ini... bener-bener heartwarming (padahal judulnya ada kata -cold-). Ditambah lagi kalo liat video klipnya yang nampilin lanskap cantik dataran tinggi di Eropa sono. Paduan anatara lirik - karakter suara dan kharisma si Matt Costa, it's stunning!
yeah! Matt Costa, your songs is like a drug for me!
It could be warm you see, a statue next to me
Swimming away from the ice and snow
Could I have failed to see the signs in front of me
Warning and flashing symbols, subtle and simple I couldn't see
I couldnt see
itu bagian fav saya!
Senin, 04 Juli 2011
relationship?
*backsound : Adele - Someone like you
relationship. Banyak yang berbicara tentang itu. Begitu juga saya. Dulu pernah menuliskan sedikit mengenai ini. What can I say? relationship still needed two kind of souls, to be united.
Dan saya mencoba memahami itu. Relationship, di twiiter, banyak quotes yang berbicara menganai relationship. Suatu hubungan spesial. Dan universal tentunya. Tapi saya, (hampir) tidak pernah benar-benar mengerti mengenai apa itu relationship, bagaimana rasanya, bagaimana bentuknya. what a pity.
dan seperti soundtrack malam ini, saya berbicara menmgenai seseorang. "Someone like you". Dimana "you" adalah seseorang yang selama ini sulit bagi saya untuk ditemukan. Seseorang yang tidak pernah saya bayangkan. Seseorang yang kini selalu saya libatkan dalam mimpi. Seseorang yang, yang ingin rasanya saya jalin sebuah relationship bersamanya.
Meskioun, saya belum sepenuhnya mengerti mengenai relationship itu sendiri, but I think it would be nice to enjoying that with... someone like you.
ya someone like you..
to understanding what is relationship, maybe I should find someone like you
am I in love? ....
*geez.... super unyu postingan kali ini hahahaha
relationship. Banyak yang berbicara tentang itu. Begitu juga saya. Dulu pernah menuliskan sedikit mengenai ini. What can I say? relationship still needed two kind of souls, to be united.
Dan saya mencoba memahami itu. Relationship, di twiiter, banyak quotes yang berbicara menganai relationship. Suatu hubungan spesial. Dan universal tentunya. Tapi saya, (hampir) tidak pernah benar-benar mengerti mengenai apa itu relationship, bagaimana rasanya, bagaimana bentuknya. what a pity.
dan seperti soundtrack malam ini, saya berbicara menmgenai seseorang. "Someone like you". Dimana "you" adalah seseorang yang selama ini sulit bagi saya untuk ditemukan. Seseorang yang tidak pernah saya bayangkan. Seseorang yang kini selalu saya libatkan dalam mimpi. Seseorang yang, yang ingin rasanya saya jalin sebuah relationship bersamanya.
Meskioun, saya belum sepenuhnya mengerti mengenai relationship itu sendiri, but I think it would be nice to enjoying that with... someone like you.
ya someone like you..
to understanding what is relationship, maybe I should find someone like you
am I in love? ....
*geez.... super unyu postingan kali ini hahahaha
Kamis, 30 Juni 2011
Bye June, Welcome July :)
Saya benar-benar terlena dengan bulan Juni kali ini. Sudah lama saya tidak pernah merasakan satu titik kesenangan, kebahagiaan seperti di bulan juni ini. Bukan hanya karena tersemat angka kelahiran di dalamnya, namun peristiwa-peristiwa yang sulit untuk dibayangkan sebelumnya.
Satu hal yang membuat saya merasa bahwa bulan Juni ini nyaris sempurna adalah, saya akan merindukannya. Segala sesuatu di bulan ini.
So. thanks for being nice to me June, we'll meet again soon.
And for July, nice to see you. Hope you're the next blazing month :)
Satu hal yang membuat saya merasa bahwa bulan Juni ini nyaris sempurna adalah, saya akan merindukannya. Segala sesuatu di bulan ini.
So. thanks for being nice to me June, we'll meet again soon.
And for July, nice to see you. Hope you're the next blazing month :)
Langganan:
Postingan (Atom)