Minggu, 24 Oktober 2010

Yeah, Lupakan Jakarta


Juli
bagi gw adalah bulan paling parah dalam tahun 2010. Mengutuk, cemburu, marah, malas, semua yang jelek larut jadi satu. Salah satunya masalah magang. Magang bagi gw sampai saat ini adalah kesempatan emas. Mengembangkan karir ke depan sekaligus mengembangkan nilai hidup. Target utama gw sama dengan teman lain kebanyakan : Jakarta.
Jakarta masih mempunyai daya tarik tersendiri --> gak munafik, gw ngeliat itu.
Yap, Jakarta menawarkan jutaan mimpi dan tantangan bagi kami kaum yang berada jauh di Jakarta. Tapi mimpi itu (sementara) harus dikubur dulu. Banyak hal yang membatasi gw untuk merantau kesana. Ketika itu gw kayak gak bisa menerima. Dilema, bimbang sedih dan sebagainya. (Terlebih ngeliat status beberapa kawan yang lagi kena hypenya metropolitan)

Adhitya Sofyan - Forget Jakarta
Lagu ini sebenaranya berisi tentang orang-orang yang mempunyai ikatan emosi dengan kota J-town itu.

I’m waiting in line to get to where you are
Hope floats up high along the way
I forget Jakarta
All the friendly faces in disguise
This time, I’m closing down this fairytale

And I put all my heart to get to where you are
Maybe it’s time to move away
I forget Jakarta
And all the empty promises will fall
This time, I’m gone to where this journey ends

But if you stay, I will stay
Even though the town’s not what it used to be
And pieces of your life you try to recognize
All went down

I travel the world to get to where you are
Strangers i met along the way
You forget Jakarta
Leaving all the lunacy behind
This time give me back my sanity

Yeah I’m still on my way to get to where you are
Try to let go the things I knew
We’ll forget Jakarta
Promise that we’ll never look behind
Tonight, we’re gone to where this journey ends

And all the pictures that you try to loose
Will follow you behind like ghosts do
And all the lies you try to keep
Have fall behind to catch you even more

lalu apa yang terjadi, gw merenung. Gw lihat apa yang ada di sekitar. Gw cermati, mereka tidak selalu harus berada di sana, dan mereka bahagia.
lagu ini secara tidak langsung membuat gw sadar. Jakarta bukanlah segalanya
setidaknya untuk saat ini. Banyak tempat yang bisa gw ungkap dan pecahkan misterinya. Jakarta tetap memikat, tapi dunia luar jauh lebih memikat

Try to let go the things I knew
We’ll forget Jakarta
Promise that we’ll never look behind
Tonight, we’re gone to where this journey ends

perjalananku tidak terhenti di Jakarta, because the end has no end...

Rabu, 11 Agustus 2010

Dara yang berdarah darah....


Oke review selanjutnya ---> RUMAH DARA

Apa sih yang kadang diarepin dari film bergenre slasher? Kalau ngeliat Texas Chainsaw Massacre, The Descent, Saw gitu apa yang paling dominan? yap betul, efek darah muncrat, daging kemana-mana, usus terburai, kadang pake acara kepala gelinding segala. Tapi ngeliat track record perkembangan dunia film Indonesia, apa iya negeri ini bisa bikin film macem begituan???

Bagi gw, Rumah Dara cukup menjawab semua pertanyaan itu. Bisa dibilang, Rumah Dara adalah film slasher pertama di Indonesia. Sebenarnya film ini adalah versi panjang dari film pendek berjudul Dara, yang masuk antology film horor di Takut. Dan sebagai pioneer, Rumah Dara cukup membuat gw terhenyak dan berpikir "Gila ni yang buat, gila!!!"
mari kita bahas satu per satu elemen filmnya.
Jalan cerita. Seperti yang pernah gw bilang di review sebelumnya, gw gak terlalu ngarep pada poin ini. Dan ternyata benar. Rumah dara mempunyai jalan cerita klasik film slasher. Sekelompok anak muda, tersesat atau masuk dalam sarang pembunuh then mereka bakal dibantai satu per satu. Begitu juga dengan film ini, gak jauh beda. Alkisah si heroine kita, Jullie Estelle bersama rombongan teman-teman kakaknya melakukan perjalanan dari Bandung ke Jakarta. Baru mau jalan mereka dicegat oleh Maya (aduh nama aslinya lupa). Ceritanya Maya tersesat dan minta dianterin pulang karena rumahnya searah gitu. Dan untuk selanjutnya bisa ditebak sendiri. Ternyata dalam rumah Maya, dihuni keluarga aneh, dipimpin oleh Dara Sharefa Danish). Ibu muda yang tidak diketahui umurnya. Aneh dan dingin.
Singkat cerita mereka termasuk si Jullie terjebak dalam lingkaran maut.
dari cast, Shareefa Danish menampilkan akting terbaiknya di sini sebagai Dara. Dingin, Kejam dan menakutkan. Bener-bener salut sama dia. Pembawaannya sempurna. Terbaik kedua adalah Sigi Wimala yang brakting sebagai ibu hamil. kesakitannya ketika "melahirkan paksa" oleh Dara sangat real. Keren. Siapa yang nggak ingat adegan dia nguping di pintu (ketika Ario Bayu yang jadi suaminya ditawan ma si Dara) terus tau-tau ada pisau nancep di jarinya. Damn...what a flesh!
Jullie Estelle? mainnya standar. Aktingnya gak jauh beda ketika main di Kuntilanak. Penyelamat ini karakternya ambigu, kadang lemah, kadang uat, kadang nekat kadang-kadang...
yang paling keren dari film ini apalagi kalau bukan : efek sadistik tingkat tinggi. Walaupun cuman sempet liat yang versi cencord, tapi bagus. Tetep berdarah-darah. Konsisten dari awal sampai akhir. Ada adegan kepala gelinding mpe menurut gw yang paling kerasa ya tusukan maut si Dara ke jari-jari Sigi. Damn. I was shocked at that time (walaupun bisa dibilang ini sebenarnya ramuan kuno di film beginian).
Rumah Dara tetap belum bisa dibandingin (Sama film horor lokal yang punya taste sama), mungkin yang bisa nyaingin ya seri pendahulunya, Dara itu sendiri. Minus poin? story. Gampang banget ketebak gimana endingnya!

Selasa, 10 Agustus 2010

Siap-siap muntah darah di Art Of The Devil


Okey review gw mulai dari posiis paling bontot dulu yap
Art of the Devil

Release Date: June 27, 2006
Director: Tanit Jitnukul
Writer: Tanit Jitnukul
Starring: Arisa Wills Supakson Chaimongkol Krongthong Rachatawan Tin Settachoke Somchai Satuthum
Studio: Tokyo Shock

sebelum masuk ke sinopsis, ada beberapa pertanyaan di selalu muter di otak gw kalo liat film horor (oh iya, lupa genre film ini horor...bisa ketebak dari judulnya), balik ke pertanyaan tadi jadi ada beberapa pertanyaan yang mencakup : endingnya gimane nih? setannya apa? bunuh-bunuhannya keren gak? pemainnya bohay gak? (yang terakhir itu cuma berlaku kalo nonton horor lokal). Untuk storyline, gw emang gak berharap banget story buat film horor. Karena yaahh palin gitu-gitu aja, yang bikin plus-plus adalah eksekusi storylinenya. Gimana caranya agar film itu bisa bertanggung jawab atas cerita yang dibangunnya (sekalipun punya cerita paling dangkal sekalipun)

dannnnn....semua elemen pertanyaan itu terjawab di film ini. Yang pertama, ending. Bagi gw, film ini punya twist ending yang lumayan bagus. Jalan cerita juga dibangun dengan lumayan rapi dan gak keburu-buru. Cuan kadang banyak cerita flashbacknya kurang ditepmpatkan dengan rapi, jadi kadang agak bikin bingung pertama. Tapi lumayan sih, gak bikin gw mangap.
Kedua adalah masalah bunuh-bunuhan. Meski gak wajib di film horor, adegan kayak gini adalah salah satu adegan yang paling ditunggu penonton. Yap, gore scenes. Art of the devil menawarkan tinkat kesadisan yang lumayan. Meski sedikit diluar nalar (masak iya ada tokek keluar dari punggung), tapi untungnya hal itu emang dikembangin sesuai dengan cerita (ceritanya emang seputar dukun-dukunan gitu). Adegan paling pol yah adegan bakar manusia itu. Apalagi pas luka bakarnya dilap pake kain mpe kulitnya ngelupas (bayangin sendiri deh rasanya bakal kayak apa).
Oh iya, setannya kelewat. Karena mungkin horor ini adalah tipe horor yang mengangkat horor lokal seputar santet dukun dan sebagainya maka setan a.k.a mahkluk halus juga gak mau ketinggalan buat ningkatin adrenalin penonton. Tapi sayang deh, penampakannya masih terlalu standar. Angle kamera yang diambil ketika setan keluar masih kurang variatif dan setannya terlalu massal. Untungnya scene ini muncul sementara aja.

Storyline :
Ceritanya tentang sekelompok anak muda tamatan SMA yang mengadakan reuni di kampung halaman salah seorang temannya di kampung. Nah nyokap temannya itu adalah guru mereka sewaktu masih SMA. Banyak skandal yang terjadi sewaktu ibu muda itu mengajar. Dan itu juga yang menyeret kawanan muda-mudi ini untuk datang ke rumahnya untuk dibantai. Simple dan klasik banget. haha. (maaf, udah lama banget nonton film ini jadi lupa semua nama karakternya)

krik..krik...

kemarin sempet kepikiran, update terakhir gw tentang film-film yang memoreble di hidup gw. Nah... kayaknya nggak adil kalau gak dibuatin reviewnya satu per satu. Yaa itung-itung biar diar dianggep rajin ngebloglah.... oh iya ini review murni penilaian dari kacamata gw, jadi kalau ada yang kurang sreg, ya mohon maaf dehh hoho. soalnya gw juga bkan kritikus film atau apa, cuman nyampein apa yang gw liat dan gw rasain.

Puasa Puasa Puasa


haaaahhh
akhirnya bulan yang yang selalu diimpikan umat muslim datang juga
HAPPY FASTING MONTH!!!!!!!

maap lahir batin ya!!!!


*maap jarang update nih hohoho sibuk magang....

Selasa, 20 Juli 2010

Most Memorable Movie Ever I


Catatan Akhir Sekolah
Gak ada masa yang paling indah dan seru selain masa-masa SMA. Seru, sedih, jengkel, bandel semua lebur jadi satu. Banyak Kegilaan-kegilaan terjadi di fase ini. Mungkin inilah yang diungkapkan oleh film Catatan Akhir Sekolah. Da ternyata berhasil.
CAS berhasil menggambarkan suasana SMA yang bewarna. Filmnya rapih dan penuh dengan semangat-semangat khas anak SMA. Gak berlebihan dan gak kurang jga.
MEmorable scene? yah di pensi sama pas opening part itu. SMA banget. Kalau ngeliat film ini langsung deh kebayang jaman-jaman kejayaan waktu SMA. Dijamin!



Once
Ada beberapa faktor yang membuat film ini menjadi sangat memorable: ceritanya yang simple namun menarik, Environment menarik, soundtrack yang sangat menawan. Film ini menceritakan seorang pria yang bertemu seorang wanita di jalan. That's the point. Seberapa sering kamu menemukan orang yang tepat dalam hidup anda.
Oiya, yang menarik adalah, tidak ada pengenalan tokoh dalam film ini. Jadi yang cowok (Glen Hansard) berlaku sebagai guy, dan Marketa Irglova jadi girl. Thay have no name in this movie, but they surely have something to tell about!

Le Grand Voyage
Film prancis ini menceritakan perjalanan seorang pemuda dalam mengantarkan ayahnya naik haji melalui jalur darat. Film ini sangat menyentuh. Komunikasi tidak baik antara pemuda yang terlanjur masuk dalam pergaulan dunia barat dengan seorang ayah muslim yang taat menjadi konflik utama. Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam film ini seperti keikhlasan, kasih sayang orangtua hingga bagaimana kita memperlakukan orangtua. Salah satu genre road movie yang bagus.

Rumah Dara
Akhirnya, setelah penantian yang sangat lama, ada juga film slasher buatan indo. Walaupun masih menggunakan pakem film slasher klasik namun disini berbeda. Kesan Indonesianya sangat terasa. Gorenya dapet. Ceritanya konsisten. Belakangan mulai banyak film-film horor Indo yang mengekor Rumah Dara, namun ya itu...kalah banget. Rumah Dara ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya (juga perut teman saya karena dia langsung ijin ke belakang ketika film berjalan separo).


Art Of the Devil
Kali ini film horor. Sampai saat ini saya gak bisa ngelupain adegan ngelupas kulit manusia. Horor dan gorenya ngeri. Untuk cerita agak kuno dan masih bisa ditebak. Tapi surprisenya luar biasa. Gabungan antara horor kuno (main dukun) dengan adegan gore yang menyentuh saraf lambung. Keren deh sekaligus ngeri.

Selasa, 29 Juni 2010

sedikit curhat bolehlah...

I don't know
I just miss that moment
It looks like the tag line becomes a magical word
a comedy about love, friendship and dreams

yeah, now we're living in such a comedy
missing you guys...

ayo kapan kita kemana lagi????????
pengen long trip ke kemuning-pacitan-sundak lagi....