Senin, 14 Februari 2011

Review : Heartbreak.com

Mungkin diantara seantero film komedi lokal yang bertebaran di Indonesia, ini salah satu dari sedikit yang berhasil menarik perhatian gw. Heartbreak.com bercerita tentang Agus (Raymon Y Tungka) yang tiba-tiba diputuskan oleh pacarnya Nayla (Raihanuun) secara sepihak. Hal ini disebabkan Nayla sudah punya pacar (lagi) selama sekolah di Australia bernama Kevin (Gary Iskak). Wawan (Omesh Ananda) bersama pacarnyaRaya (Rischa Novisha) mencoba membangkitkan lagi si Wawan yang drop gara-gara diputus Nayla. Nah pada saat itu mereka menemukan Heartbreak.com sebuah badan intelijen yang khusus menangani kasus-kasus percintaan seperti ini. Dengan bantuan Mbak Elza (Sophie Navita) Ferdy (Edo Borne) dan Nadia (Shara Aryo) dari Heartbreak.com, Wawan berjuang untuk mendapatkan cinta Nayla kembali.
Simpel dan sangat lucu. Impress pertama dari film ini. Dari segita cerita sebenarnya cukup sederhana, namun kehadiran lembaga Heartbreak.com menjadi sesuatu yang berbeda. Strategi demi strategi disusun Heartbreak.com untuk memperoleh cinta Nayla kembali, disajikan dengan cukup apik, ringan dan punya sense humor yang tidak kacangan. Apalagi keberadaan Wawan yang diperankan Omesh, bener-bener kocak.
Komedi yang disajikan pas. Tidak berlebihan, original dan tentu saja tidak mengumbar unsur seks di dalamnya. Dari akting ya menurut saya semua bermain dengan bagus. Raymon yang depresi dengan aksen manjanya lucu tapi melas. Omesh menjadi biang komedi yang efektif di sini. Dan Raihanuun sangat cantik di sini (ini personal lho ya, tapi sumpah gw kesengsem berat sama wanita ini). Endingnya juga unik dan menyentuh. Ada bagian yang bikin gw sedikit menyeka air mata (haiyaah..). hahaha
Om Affandi Abdul Rachman cukup berhasil dalam mendirect film ini. Semua yang ditampilkan di sini sangat fresh, dialognya juga gak cupu, Raihanun fresh banget (lagi-lagi...). Oiya karena ini film komedi romantis maka sisi romantisnya juga gak kelupaan. Ada beberapa adegan yang menuryt gw secara personal sangat romantis. Seperti jurus terakhir yang diberikan Heartbreak.com untuk meruntuhkan hati Nayla *SPOILER ALERT*. Durasi 105 menit dalam film ini diisi dengan adegan-adegan yang padat dari segi cerita dan komedi. Porsinya romantisnya juga pas. Gak terlalu maksa, tapi gak terlalu geje juga.
sekali lagi Simpel, Lucu dan Fresh!
wajib tonton, jarang-jarang ada film komedi romantis Indonesia yang tidak mengumbar seks dan original seperti film ini. Hmm, gw berharap ada film sejenis lagi. Eh udah ada ding, judulnya Aku Atau Dia, yang merupakan sekuel film ini (tapi belum nonton). Well... kita lihat saja :)

Rabu, 26 Januari 2011

Fail... :(

It could be the best word to describe what was happen yesterday. I'm just break up. No.. it isn't like an ordinary one. Not "break up" with my girl or something like that (hey, did I mention it that I'm still single?). I was broke up by my friend. Yeah, my closest friend in high school.
Seperti yang pernah gw twit kemarien
"gak cuman film horor korea yang punya twist ending, kisah persahabatanpun juga bisa punya twist ending"
yap. semuanya tampak sangat sempurna 3-4 tahun silam. Gw dan teman-teman terbaik gw (dia termasuk di dalamnya) bisa jadi kelompok (bukan geng tapi) pertemanan yang kompak. Dari ngopi, nonton, bikin event reunian sampe jelajah pantai, semua sudah dilakukan. It's all about fun.
hingga pada akhirnya harus ada keputusan yang harus dipilih satu temanku. Pilihan yang akan merubah semua. Dan benar semua berubah. Empat orang yang sangat lekat itu kini berjalan terpisah. Masing-masing berdiri sendiri, dengan seluruh dayanya masing-masing.
Sampai akhirnya gw menerima pernyataan temenku itu - setelah setahun tidak bertemu - bahwa dia sudah hidup mandiri. Dan tidak mau dipusingkan masa lalu. Dan gw adalah masa lalu yang memusingkannya.
sedikit banyak hal itu membuat gw sedikit berfikir bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kita paksakan untuk menjadi sesuatu seperti harapan kita. Simpelnya, gak semua hal itu akan baik pada kita. Tapi semua hal itu (Baik dan Buruk) sebenarnya adalah yang terbaik yang bagi gw pribadi. Masih banyak hal diluar sana yang biasa saja namun penting bagi gw.
Still, bagaimanapun juga, istilah mantan bestfriend itu gak ada dan gak pernah ada di kamus hidup gw. Dia masih gw anggap temen, masalah dia masih anggap gw temen atau bukan, that's in her mind. Dan disini baik gw atau dia diuji satu hal, ikhlas gak akan sebuah kenyataan itu.
Gw ikhlas. meskipun menurut ego, itu bukan sesuatu yang terbaik.
Life move onwards, not backwards. That's the reality .


Senin, 24 Januari 2011

Review : I Know What You Did On Facebook


Pertama kali lihat iklan trailer film ini di tv bikin nyengir, aduh film kancrut lagi. Efeknya gw juga dengan mudahnya melupakan trailer itu. Tapi ada yg aneh, di perhelatan Festival Film Indonesia 2010 kemarin, nyempil itu film di jajaran nominasinya. Terlepas hiruk pikuk yang melanda FFI tersebut, gw dibikin penasaran sama ini film. Kok bisa ya film ini masuk nominasi. Apa yang menarik? judulnya aja gak kreatif (nyomot judul I Know What You DId Last Summer) tapi gw akuin cukup nendang.
Oke, ternyata cdnya cepet banget keluar. Pertama agak ragu juga, takutnya ini film kayak karya Nayato yang cetek dan pamer payudara semua. Tapi akhirnya kenekatan gw membawa hikmah. Overall filmnya tidak seburuk ge bayangkan. Menarik malah.
Film ini bercerita tentang si Luna (Fanny Febriana) yang mempunya pacar bernama Reno (Edo Borne). Luna yang notabene menginginkan hubungan yang serius, merasa tidak betah lagi dengan Reno yang sifatnya masih suka main-main. Curhatlah si Luna dengan Via (Kimi Jayanti), temen SMPnya yang kebetulan dia kenal (tentu saja) lewat facebook. Ternyata Via justru mengalami hal yang berkebalikan. Dia yang ugal-ugalan tidak betah dengan pacarnya Hedi (Fikri Ramadhan) yang sopan dan membosankan. Nah disitulah cerita mulai bergulir.
Luna dan Via kemudian punya rencana, mengetes perasaan pacaranya masing-masing melalui iseng2 di facebook. Luna meremove Reno dari friendlist di facebook kemudian berkenalan dengan Hedi di fb juga. Begitu juga Via. Namun Luna dan Via sepakat untuk melakukan misi rahasia ini hanya di Facebook.
Plotnya sebenarnya mudah ditebak. Tapi eksekusi yang rapi menyebaban semuanya menjadi enak untuk tetap dinikmati. Selain kisah Luna Via tadi, ada juga kisah abangnya Reno, Doni (Agastya Kandou) yang merupakan seorang gay dan menyukai partner kerjanya Erik (Yama carlos). Juga Kisah Merline (Imelda Therine) kakak dari Luna, yang hidupnya membosankan karena terus dicuekin suaminya Ario (Restu Sinaga).
jadi garis benangnya adalah facebook. Tapi entah kenapa penyajian cerita si Doni dan Merline terlalu berlebihan, porsinya terlalu banyak. Harusnya film ini lebih serius mengenai cerita luna dan via.
Secara pengambilan gambar, tidak ada yang luar biasa. Standar aja, namun cukup untuk menggambarkan adegan demi adegan dengan cukup apik. Untuk castnya, Kimi Jayanti yang paling menonjol. Sedangkan yang lain ya... just so so. Lumayanlah kalo gak mau dikata buruk. Kekurangannya adalah plot yang kadang gak fokus. Memasukkan adegan-adegan yang gak penting untuk dimasukkan. Ada beberapa adegan seperti itu. Yang jatuhnya cukup annoying.
Untuk keseluruhan, film ini termasuk film yang lumayan bagus dan cukup menghibur. Permasalahannya juga real dan tidak terlalu dibuat-buat walaupun sedikit klise. Layar-layar lapotop yang berisi halaman facebook juga menjadi sesuatu yang beda dari film lain. Ya mungkin film ini sedikit rasa segar dari film-film Indonesia yang bertebaran sekarang. Lumayan bagus.

Sabtu, 15 Januari 2011

Review : Death Bell 2 : Bloody Camp


Release Date: 31 December 2010
Director: Yoo Sun-dong
Cast: Hwang Jeong-eum, Park Jiyeon, Yun Seung-ah, Yoon Si-yoon, Kim Su-Ro.

Yak, ternyata gw masih ketagihan dengan film-film sakit, setelah Grotesque (review menyusul yak) berhasil mencabik-cabik sisi manusiawi gw, kini saatnya Death Bell 2 : Bloody Camp. Seharusnya ini menjadi sequel film pertamanya, Death Bell dengan Kim Bumnya. Namun, karena ternyata beda director, maka dari storylinenya juga dibuat berbeda. meskipun begitu, film ini masih menyajikan satu benang merah yang sama dengan pendahulunya, yaitu peristiwa-peristiwa di sekolah.
Sebenarnya menarik melihat film ini. Ya, emang sih, gw gak terlalu hapal cast pemain asia apalagi dari Korea, tapi secara "look" atau first impression, film ini bisa dibilang lumayan. Bolehlah, thriller yang menarik juga. Lalu bagaimana dengan cerita? atau porsi gorenya?
Apa yang lebih menarik dari satu kelas siswa dengan dua orang guru terjebak di sekolah dengan psikopat yang siap membantai. Itulah kira-kira inti cerita di sini. Seorang murid siswi (Hwang Jeong-eum) yang memiliki masa lalu yang cukup kelam, masuk ke camp pelatihan bagi siswa-siswi terpandai dan terpilih di sekolahnya. Dia dan teman-teman naasnya itu akan menghabiskan waktu liburan dengan belajar-belajar dan belajar di "camp". Namun mereka tidak sadar, bahwa ada psokopat gila yang mengancam jiwa mereka ketika sedang belajar.
Serba nanggung, itulah yang menonjol di sini. Cerita nanggung, penokohan karakter nanggung, adegan sadis yang nanggung dan kacaunya twist yang nanggung. Entah kenapa director Yon Sun Dong, tidak mengikuti ramuan pendahulunya saja. padahal sebenarnya banyak adegan-adegan yang mempunyai potensi horor. Tapi entah kenapa Yon Sun DOng malah seenaknya sendiri motong keasikan itu.
Dari segi cerita, Death Bell 2 ini sudah cacat di tengah jalan. Kalau di seri pertama kita disuguhin cerita yang membuat kita berpikir "bisa jadi seperti itu", mengenai sogok menyogok berujung maut, di seri ini justru akan membuat kita berpikir "aduh gak logis banget". Memang menonjolkan masalah muda mudi di sekolahan yaitu bullying, tapi kelewat dangkal. Sangat dangkal. Motifnyapun terlalu sepele.
Setelah gw nonton sampai selesai, akhirnya gw baru sadar ada yang kurang dari film ini. Sebelumnya kita dibuat tegang dengan soal-soal yang dibuat psikopat. Kalau tidak bisa menjawab soal tersebut maka seorang murid akan mati. Nah di Death Bell 2 ini tidak ada soal-soal yang membuat kita tegang dan merasa berkejaran dengan waktu. Fatal untuk franchise sekelas Death Bell.
Tokoh utama, Hwang Jeong-eum, tidak bisa membangun cerita dengan baik. Karakternya yang dibuat dingin, jatuhnya malah terlalu dingin, dan kesan misterius itu hilang. Paling mending aktingnya si ibu guru muda (entah ini siapa namanya :p), tapi tetep dieksekusi akhir, nasib ibu guru muda ini gak jelas. Mungkin karena ditopang fondasi cerita yang tidak solid, dan terlalu banyak hal klise di dalamnya.
Nasib film sequel (apalagi yg ditambah embel-embel "2") mau tidak mau harus rela dibandingkan dengan seri pertamanya. Apakah lebih sukses, atau malah lebih buruk. Death Bell 2 : Blody Camp harus menerima kenyataan, bahwa film ini tidak bisa lebih baik dari film pertama, bahkan ketika film bergerak setengah jalan. Tone filmnya terlalu gelap, berbeda dengan sebelumnya yang cerah tapi mengancam. Ini malah kayak film-filmnya Nayato yang serba dark (karena disini disetting mati lampu). Selain itu, film ini tampil lebih nakal karena ada beberapa adegan berbikini (tapi masih pantas soalnya ada setting di kolam renang juga). Gak ada yang spesial di film ini, itu intinya. Seri pertama jauh lebih baik.

Rabu, 12 Januari 2011

Desain Desain Desain Grafis

Sudah lama banget semenjak meninggalkan hal ini, yup desain grafis. Gara-gara sibuk di mata kuliah ini itu, dan sejenak terlena dengan Adobe Premiere, kahirnya saudara-saudara, gw kembali menggauli yang namanya Adobe Photoshop. Entah mengapa, agak canggung juga dengan software ini, padahal dulu tiap hari ngadepnya juga ini. And, this is it, sedikit coret-coret ala chef nanda dengan photoshop (hahaha, masih amatiran jadi ya begini hasilnya)

art is...



Jumat, 31 Desember 2010

Thanks 2010

ceritanya edisi malam tahun baru, dan gw akan ngungkapin terima kasih gw kepada tahun 2010. Tahun 2010 jelas bukan tahun terbaik gw, tapi tahun ini banyak pelajaran yang didapat. Untuk itu, gw ingin berterimakasih kepada semuanya yang memberi pelajaran tersendiri kepada gw. So, I would say thanks to :
thanks mom and dad
thanks brother and sisters
thanks rumah dara
thanks EO Maxi
thanks anak jalanan
thanks sahabat-sahabat
thanks Segitiga Production, SBTV dan KTV
thanks para dosen
thanks Nue Ad.
thanks Suara Merdeka
thanks Visi
thanks Youtube
thanks google
thanks blogspot
thanks nature
thanks merapi
thanks smash biru
thanks rumah mungil di Jl. mr Sartono no 93
thanks speedy
thanks twitter
thanks universe
special thanks GOD

you guys have taught me well, and now I'm so funckin' ready to rock 2011!

Kamis, 16 Desember 2010

Just Go! Find Your Life!

secara sadar gw ucapin kata-kata itu ketika ngobrol panjang lebar bareng salah satu teman SMA. Obrolan yang gak biasa kalo boleh dibilang. Biasanya obrolin orang lain, sekarang temanya obrolin diri sendiri. Tepatnya masa depan... beuhh
yak yak yak, gw tergelitik ketika temen gw tanya : "Abis kuliah mau ngapain?"
sejenak gw mikir, kerja. Sampai sekarang gw emang butuh kerja errr butuh duit sebenarnya. Langsung dong gw nanya balik, "nek kowe?" (kalau kamu?)
dengan yakin dia jawab : "Aku lanjut S2 nan, itu udah direncanain sejak awal sama bapak, abis kuliah gak dibolehin kerja dulu sebelum S2"
gw tanya lagi, "masa gak langsung coba dulu kerja gitu barang setahun?"
jawabnya : "enggak, aku nurut aja sama bapak"
dia lanjutin "yak aku emang gak kayak kamu sih, bisa bebas gitu, tapi aku nyaman kok dengan semua ini"
gw jawab "satu hal ya, hidup itu cuma sekali, what you have to do is GO FIND YOUR LIFE"
dia cuma membalas dengan senyuman kecut. "Aku nyaman kok dengan pilihan ini"

ohhh, dunia it unik...err kehidupan maksud gw. Banyak pilihan-pilihan yang justru bagi gw diluar nalar. Dan bagi mereka sangat esensial. Gw gak nyalahin pilihan temen gw. As long as you're in the positive way, go then.
tapi menggantungkan hidup pada pilihan orang lain, bagi gw fatal. It's your life, control is yours. Batasan memang selalu ada, tapi batasan gak selalu mengebiri harapan dan keyakinan. Apalagi masa depan. Go find your life, bagi gw sarat makna. Terserah apa orang mau ngomong, life is journey, life is an adventure, yang penting adalah itu hidupmu dan hiduplah untuk hidupmu. That's the main point!
kadang gw juga suka gimana gitu kalo geliat ada orang atau remaja-remaja yang menanggalkan impian mereka demi menyenangkan orangtua. Paling umum ketika remaja disuruh milih buat kuliah di jurusan apa. Peran orangtua harusnya maksimal adalah mendukung, bukan ikutan memilih. Ada beberapa teman gw (bahkan gw juga hampir gitu) yang mengalaminya. Sampai pada akhirnya mereka tidak cocok dan asing dengan pilihan orangtua (dalam konteks ini oranglain).
Juga seperti perkara "Mau masuk IPA atau IPS di SMA". Orangtua dulu (sekaang masih tapi banyak yang udah insap) menganggap masuk IPA itu bergengsi, segalanya, dapat dibanggakan dll. beberapa stereotip itu bahkan juga masih melekat di sodara-sodara. Sampe rela nyogok2 supaya anaknya bia masuk IPA padahal fisikanya NOL besar. Hal semacam itu yang mengebiri kreativitas. sekarang masih banyak orang hidup tidak berdasarkan pilihannya sendiri.
Padahal hidup dengan pilihan sendiri itu asyik, menegangkan, playfull dan berharga. Tentunya dalam alur hidup yang positif. Dan yang paling penting, ada rasa ikhlas dalam menjalani kehidupan. Hidup akan lebih indah.
So? just Go Find Your Life!