Saya bukanlah tipe orang yang mudah menuliskan, atau sekedar memindahkan apa yang ada di otak pada sebuah media lain. Terlalu absurd, mungkin. Tapi di sisi lain, saya juga tipe orang yang sangat haus akan perhatian. Bukan berarti cari perhatian, namun saya selalu merasa perlu untuk diperhatikan, oleh siapapun itu. Orang tua, teman, saudara, om, pakde, bude, kucing bahkan orang lain.
Tapi entah mengapa, keinginan tersebut tidak membuat saya menjadi orang yang suka mencari perhatian. Saya cenderung pasif untuk mengejar hal-hal yang ada di benak saya. Tidak mudah mengubah kepasifan saya. Bahkan untuk dituangkan dalam satu media, apapun itu, tersembunyi, dan orang lain tidak perlu tahu. Takut. Mungkin. Saya kurang bisa mendefinisikannya.
Sama halnya ketika saya harus mengaku bahwa saya sedang menyukai seseorang. Iya memang benar, saya kadang menceritakan (curhat) hal tersebut kepada orang lain. Orang yang saya anggap bisa dipercaya. Namun kenyataannya, apa yang saya beritahukan ke orang lain itu, belum sepenuhnya mewakili apa yang ada di benak saya. Singkatnya, saya memfilter apa yang saya utarakan pada orang lain. Saya memberi batasan pada diri sendiri.
Memang ada quote yang bunyinya : sometimes, things is better left unsaid.
Tapi bagaimana jika, things that better left unsaid tadi berteriak kencang seraya menggedor-gedor dinding pembatas yang saya dirikan dengan sungguh-sungguh. Bagaimana jika things that better left unsaid itu memenuhi tiap sudut otak saya. Melebihi kapasitas otak, dan meluber. Bocor di sana-sini. Bagaimana jika kemuakan dalam menyimpan things that better left unsaid itu terjadi. Apa iya harus saya paksakan untuk keluar, muntah dari mulutku, tanpa peduli ada orang lain yang harus mendengarnya atau tidak.
Jika jawabannya memuntahkan semuanya itu dengan posisi bersimpuh, tangan menengadah, bermaksud untuk menjalin koneksi dengan Tuhan, saya pernah, sering mungkin. Tapi tetap saja itu belum cukup. Jutaan pertanyaan, pernyataan, pujian, caci maki semua pernah saya sampaikan ke Dia. Entahlah, mereka (hal-hal) tersebut kemudian selalu mereproduksi diri mereka sendiri. Mungkin cara saya berkomunikasi dengan Tuhan keliru, tapi tidak mungkin, bukankah Tuhan Maha Mendengar?
….
…
…..
..
Ah, mungkin itu sesi curhat saya dengan Tuhan kurang panjang.
Mungkin…. ..
Sabtu, 14 Mei 2011
Rabu, 11 Mei 2011
Konspirasi Kucing

(ini postingan yang telat, harusnya diposting minggu lalu)
Sekian lama aku menunggu
Untuk kedatanganmu
Bukankah engkau telah berjanji
Kita jumpa di sini…..
Terdengar sayup-sayup suara merdu Ridho Roma di tengah kebisingan sore. Fase paling melelahkan dalam perputaran waktu. Sore yang riuh, bising, ramai meskipun tidak berlaku bagi semua. Satu keadaan penuh pengharapan.
Lalu datanglah pria paruh baya melangkah gontai menuju teras rumah. Dengan mukanya yang sayu dia merogoh semua saku yang menempel di kemeja dan celananya. Sejurus kemudian mimik mukanya berubah dan seolah berkata “oh tidak!” Dia tidak menemukan kunci rumahnya. Kemudian dia menyerah. Duduk di kursi lawas di teras rumah dengan muka tertekuk.
Begitulah adegan pembuka Monolog Kucing, sebuah monolog yang memuat kisah seorang yang terusik hidupnya gara-gara seekor kucing. Sebuah sindiran. Sebuah problema remeh temeh. Namun dibalik itu, terselip pesan kemanusiaan yang tersirat. Menusuk langsung pada hakekatnya.
Adalah cerita mengenai seseorang, yang harus ketiban sial karena tidak mempu menahan emosi untuk memukul seekor kucing. Kucing naas yang sukses mencuri menu ikan bakar rica-rica, menu buka puasa yang telah disiapkan sang istri. Kucing sial itu kemudian dipukul, dihantam hingga babak belur dan kemudian melarikan diri. Keesokan harinya, pria paruh baya tersebut mendapat kabar pahit. Kesialannya ternyata belum berakhir. Pak RT datang membawa kabar bahwa kucing yang dipukulnya semalam adalah kucing tetangganya yang bernama Pak Michael. Dia menuntut ganti rugi pengobatan kucingnya yang patah kaki.
Dengan berat hati dirinya membayar sejumlah “harga” yang dituntut Pak Michael. Nominal yang tidak sedikit bagi pekerja biasa sepertinya. Namun atas nama terciptanya “kedamaian” dia rela membayar harga yang tinggi tersebut.
Nyatanya, konflik tidak berhenti sampai di situ. Insiden kecil dengan kucing ternyata menciptakan konspirasi tingkat “RT”. Konspirasi kecil yang menyudutkan lakon utama pada titik kesakitan batin tertinggi. Sampai disadari, sebenarnya bukan kucing yang menjadi problema utama. Kucing hanya sarana untuk mengantarkan tokoh utama ke dalam lubang konflik yang makin dalam. Konflik yang bisa saja dialami kita semua.
Kesatuan yang menggugah
Putu Wijaya berhasil meracik sebuah alur cerita sederhana, namun lugas dan menarik. Penceritaan yang natural mengenai pria paruh baya yang (kadang) bersebrangan dengan istrinya sendiri. Tentang kehidupan normal, yang setelah ditelisik ternyata mempunyai makna yang berbeda.
Beliau sengaja mengalirkan ceritanya bak air yang mengalir tenang. Tidak perlu twist berlebihan. Tidak perlu alur maju mundur yang membingungkan. Tidak perlu plot yang rumit. Karena ini menceritakan tentang masyarakat biasa. Bertujuan untuk mengilhami masyarakat, tentang kejadian-kejadian biasa saja. Namun sebetulnya mempunyai beragam nilai yang penting.
Lakon Kucing ini makin nyata dengan penampilan sempurna Butet Kartaredjasa. Disini, dia benar-benar menjadi jawara. Benar-benar menampilkan peformanya sebagai pelakon seni yang utuh. Tokoh Bapak, Ibu, Pak RT hingga si biang kerok utama yakni kucing, mampu dihidupkan dengan sempurna. Meskipun dalam format monolog, namun penonton mampu terbawa penokohan Butet dengan baik. Semua ikut tersenyum, manggut-manggut, bahkan ikut gemas melihat “tingkah laku” si kucing sialan itu.
Selain itu, seperti biasa Butet mampu menyelipkan humor-humor satir yang efektif memancing tawa penonton. Memang, kepiawaian Butet dalam hal ini tidak terbantahkan. Termasuk ketika dia menjelaskan, mengapa “Kucing” dipilih sebagai nama lakon untuk monolog itu. Tentu saja dalam divisi akting Butet tidak bekerja sendirian. Di belakang layar terdapat Whani Darmawan memegang jabatan sutradara. Whani ternyata mampu mengarahkan “bintang besar” seni peran Indonesia tersebut. Hasilnya seperti yang saya bilang tadi, gabungan antara penyutradaraan yang baik dengan peforma akting jempolan. Bagus.
Suasana dan ambience dari keseluruhan di atas juga dipengaruhi oleh tata musik yang mendukung. Tak diragukan lagi, dedikasi Djaduk Ferianto benar-benar ditampilkan di sini. Music-musik yang dipilihnya hingga natural sound yang diraciknya benar-benar member stu gambaran utuh mengenai rumah, konflik dan si kucing itu sendiri.
Singkatnya, drama satu setengah jam ini seakan menjadi kesatuan pelaku seni terbaik, dan menghasilkan sesuatu yang baik pula, meskipun belum bisa dibilang dahsyat. Yang tak kalah menarik di sini adalah sentilan-sentilan kritik pemerintah. Dikomunikasikan dengan bahasa visual yang menarik dan (secara sengaja) ditempatkan di posisi yang tepat. Bahkan bila mendalami keseluruhan isinya, semuanya berujung pada maksud yang sama. Kritik dan rasa sebuah keterpojokan. Seperti kita rakyat jelata yang makin terpojok dengan tuntutan realita. Miris.
Kamis, 21 April 2011
Nikah?
Ada obrolan menarik antara saya dan teman-teman sewaktu makan siang kemarin. tentang nikah. Jadi ceritanya ada rumor mengenai teman saya yang sedang nikah. Tapi bukan itu inti posting kali ini. Yang saya maksudkan adalah "reaksi" teman-teman saya ketika mengetahui ada teman seangkatan yang (rumornya) akan menikah duluan.
Bagi sebagian teman perempuan saya, hal ini tentu menghebohkan. Mungkin ini seperti "dreams come true". Perempuan mana yang tidak bermimpi untuk dilamar pria impian. Menemui mr. right adalah impian semua perempuan. Ya, itu pasti. Hal ini disambung dengan obrolan-obrolan mengenai harapan, mimpi ke depan, tentunya mengenai nikah.
"Kalo aku besok maunya kerja dulu, ini dulu blah blah blah..."
"Aku target tahun 20xx mau nikah, tapi sama siapa ya????" (sambil lirik pacarnya yang duduk di sebelahnya)
Hal ini semakin menjadi-jadi tatkala hari ini ada perhelatan kabar di Inggris sana. Mata seluruh dunia tertuju pada "Royal Wedding", yaitu pernikahan Pangeran William putra Lady Di dengan seorang wanita cantik, Catherine Middletown. Nampaknya seluruh dunia jadi betah ngomongin nikah.
Lalu bagaimana menurut kacamata saya? seorang mahasiswa tingkat akhir yang masih bingung dengan tema skripsinya (oke saya salah sebut kata).
Nikah? hmmmm. It seems too far for me, at least for now. Karena saya percaya nikah itu sakral. Nikah itu bukan permainan. Menggabungkan dua raga dengan ego yang berbeda, itu bukanlah hal yang main-main. Selain materi, mental adalah yang paling penting untuk dipersiapkan. Tidak sedikit mungkin di luar sana, pria yang sudah mapan tapi menolak untuk menikah dengan alasan mental yang belum siap. Karena percayalah, menjadi seorang "ayah" itu tidak mudah. Konsekuensinya besar. Singkatnya, menjadi ayah sama dengan menjadi pemimpin di sisa hidupnya.
Apalagi jika ditanyakan ke laki-laki seumuran saya. Mungkin lebih pantes ditanyakan "kapan lulus?" dulu ketimbang daripada kapan nikah. Setelah itu mungkin akan disambung pertanyaan-pertanyaan tolol seperti "kapan kerja?" "kerja dimana?" blablablabla. Tentu saja prestis dibawa-bawa di sini. Kalau misalkan kerjaannya termasuk kategori oke, mapan, gaji besar dll, pasti baru ditanyain, "kapan nikah?"
Gak salah jika muncul petanyaan itu. Tapi lagi-lagi ini masuk ke arena privat. Karena menikah itu sebuah pilihan dengan serentetan tanggung jawab besar di belakangnya. Dan, hell yeah, tentu saja itu dilatar belakngi dengan.... emm apa itu namanya..... cinta? ya, hal seperti itulah. Mungkin ikhlas lebih cocok. Satu sama lain harus ikhlas menerima apa adanya. Ikhlas ketika menyadari hidup mereka tergantung satu sama lain. Ikhlas ketika menyadari hidup kita bukan sebagai individu, tapi sebagai pasangan. Ikhlas ketika menerima sprema sang suami masuk ke indung telur si istri, dan muncul kehidupan baru di dalamnya. Kurang lebih seperti itu.
Jadi intinya, ya saya belum siap dan belum iklhas untuk melakukannya (setidaknya untuk sekarang).
Bagi sebagian teman perempuan saya, hal ini tentu menghebohkan. Mungkin ini seperti "dreams come true". Perempuan mana yang tidak bermimpi untuk dilamar pria impian. Menemui mr. right adalah impian semua perempuan. Ya, itu pasti. Hal ini disambung dengan obrolan-obrolan mengenai harapan, mimpi ke depan, tentunya mengenai nikah.
"Kalo aku besok maunya kerja dulu, ini dulu blah blah blah..."
"Aku target tahun 20xx mau nikah, tapi sama siapa ya????" (sambil lirik pacarnya yang duduk di sebelahnya)
Hal ini semakin menjadi-jadi tatkala hari ini ada perhelatan kabar di Inggris sana. Mata seluruh dunia tertuju pada "Royal Wedding", yaitu pernikahan Pangeran William putra Lady Di dengan seorang wanita cantik, Catherine Middletown. Nampaknya seluruh dunia jadi betah ngomongin nikah.
Lalu bagaimana menurut kacamata saya? seorang mahasiswa tingkat akhir yang masih bingung dengan tema skripsinya (oke saya salah sebut kata).
Nikah? hmmmm. It seems too far for me, at least for now. Karena saya percaya nikah itu sakral. Nikah itu bukan permainan. Menggabungkan dua raga dengan ego yang berbeda, itu bukanlah hal yang main-main. Selain materi, mental adalah yang paling penting untuk dipersiapkan. Tidak sedikit mungkin di luar sana, pria yang sudah mapan tapi menolak untuk menikah dengan alasan mental yang belum siap. Karena percayalah, menjadi seorang "ayah" itu tidak mudah. Konsekuensinya besar. Singkatnya, menjadi ayah sama dengan menjadi pemimpin di sisa hidupnya.
Apalagi jika ditanyakan ke laki-laki seumuran saya. Mungkin lebih pantes ditanyakan "kapan lulus?" dulu ketimbang daripada kapan nikah. Setelah itu mungkin akan disambung pertanyaan-pertanyaan tolol seperti "kapan kerja?" "kerja dimana?" blablablabla. Tentu saja prestis dibawa-bawa di sini. Kalau misalkan kerjaannya termasuk kategori oke, mapan, gaji besar dll, pasti baru ditanyain, "kapan nikah?"
Gak salah jika muncul petanyaan itu. Tapi lagi-lagi ini masuk ke arena privat. Karena menikah itu sebuah pilihan dengan serentetan tanggung jawab besar di belakangnya. Dan, hell yeah, tentu saja itu dilatar belakngi dengan.... emm apa itu namanya..... cinta? ya, hal seperti itulah. Mungkin ikhlas lebih cocok. Satu sama lain harus ikhlas menerima apa adanya. Ikhlas ketika menyadari hidup mereka tergantung satu sama lain. Ikhlas ketika menyadari hidup kita bukan sebagai individu, tapi sebagai pasangan. Ikhlas ketika menerima sprema sang suami masuk ke indung telur si istri, dan muncul kehidupan baru di dalamnya. Kurang lebih seperti itu.
Jadi intinya, ya saya belum siap dan belum iklhas untuk melakukannya (setidaknya untuk sekarang).
Jumat, 08 April 2011
Industrious Young Man
Oke, mungkin posting kali ini akan sedikit serius. Sedikit lho ya, jadi sebisa mungkin kadar kejenakaan akan tetap ditampilkan di sini (apadeh...).
jadi begini ceritanya (gaya kismis, acara misteri tahun 2000an itu), suatu ketika gw update status facebook. Singkat, jelas, padat dan anti alay pastinya. Update tersebut bertuliskan "editing" dengan huruf kapital. oke, lebih tepatnya E D I T I N G. Nah, kebetulan update status gw itu pas tengah malem. Atau menuju tengah malem. Ada satu komentar menggelitik dateng dari sodara dari Jakarta.
"What an industrious young man you are.."
hemmm gw hening sejenak. Gw tau betul artinya. Kebetulan sodara gw itu kerja sebagai dokter. Menurut penglihatannya dia, dari kata editing semalem, menunjukkan bahwa gw yang masih mahasiswa udah kerja seGILA itu hanya untuk mengejar nilai. Mengejar suatu bentu kesepahaman bersama antara dosen-mahasiswa berlabel "nilai". Persis kayak industri. Industri kejar tayang. Orang seumuran gw udah harus berkejaran sama waktu, bergelut sama deadline. Industri bekerja, berproses tidak kenal waktu. Dan hasilnya adalah nilai-nilai atau bisa juga simbol akan sesuatu yang "sesuai dengan pasar" atau sesuai dengan kesepahaman bersama seperti tadi.
Gw tau poin apa yang mau disampaikan sodara gw. Mungkin seperti ini " Get a life Nanda!". Enjoy your teenage (masih teenage loh) life. Live your life.
Dan percaya atau tidak, this is my life. No, this is our life. Hidup kita. Yang dipenuhi akomodasi sosial bercitarasa industri. Semua menurut kesepahaman industri, bahkan di bidang media, yang dikatakan bidang kreatif sekalipun, semua bergerak industri. Bahkan vagina aja ada penilaian industri juga (oke, abaikan kalimat ini)
Itu terjadi karena kita hidup berdampingan, atau mungkin malah sudah menyatu dengan sistem berlabel industri ini.
Ga munafik, gw juga pengen hidup seperti "label mahasiswa" yang fun, dinamis, penuh tantangan dan sebagainya. Mimpi-mimpi "hidup yang sebenarnya" kerap kali menghantui gw. Tapi sesaat gw sadar, kalo gw berada and fucked up di dunia industri gila ini. Satu-satunya cara untuk memenangkanny adalah, bertahan dan mengalahkan industri itu. in other way, we have to lead ourselves. It just a system. We can break it anytime, anywhere, as we want. Jangan tunduk pada industri, create your own industry. Your living industry. Done!
*penulis abis kejedot tembok beton, jadi maklum kalo postingan kali ini rada random.
jadi begini ceritanya (gaya kismis, acara misteri tahun 2000an itu), suatu ketika gw update status facebook. Singkat, jelas, padat dan anti alay pastinya. Update tersebut bertuliskan "editing" dengan huruf kapital. oke, lebih tepatnya E D I T I N G. Nah, kebetulan update status gw itu pas tengah malem. Atau menuju tengah malem. Ada satu komentar menggelitik dateng dari sodara dari Jakarta.
"What an industrious young man you are.."
hemmm gw hening sejenak. Gw tau betul artinya. Kebetulan sodara gw itu kerja sebagai dokter. Menurut penglihatannya dia, dari kata editing semalem, menunjukkan bahwa gw yang masih mahasiswa udah kerja seGILA itu hanya untuk mengejar nilai. Mengejar suatu bentu kesepahaman bersama antara dosen-mahasiswa berlabel "nilai". Persis kayak industri. Industri kejar tayang. Orang seumuran gw udah harus berkejaran sama waktu, bergelut sama deadline. Industri bekerja, berproses tidak kenal waktu. Dan hasilnya adalah nilai-nilai atau bisa juga simbol akan sesuatu yang "sesuai dengan pasar" atau sesuai dengan kesepahaman bersama seperti tadi.
Gw tau poin apa yang mau disampaikan sodara gw. Mungkin seperti ini " Get a life Nanda!". Enjoy your teenage (masih teenage loh) life. Live your life.
Dan percaya atau tidak, this is my life. No, this is our life. Hidup kita. Yang dipenuhi akomodasi sosial bercitarasa industri. Semua menurut kesepahaman industri, bahkan di bidang media, yang dikatakan bidang kreatif sekalipun, semua bergerak industri. Bahkan vagina aja ada penilaian industri juga (oke, abaikan kalimat ini)
Itu terjadi karena kita hidup berdampingan, atau mungkin malah sudah menyatu dengan sistem berlabel industri ini.
Ga munafik, gw juga pengen hidup seperti "label mahasiswa" yang fun, dinamis, penuh tantangan dan sebagainya. Mimpi-mimpi "hidup yang sebenarnya" kerap kali menghantui gw. Tapi sesaat gw sadar, kalo gw berada and fucked up di dunia industri gila ini. Satu-satunya cara untuk memenangkanny adalah, bertahan dan mengalahkan industri itu. in other way, we have to lead ourselves. It just a system. We can break it anytime, anywhere, as we want. Jangan tunduk pada industri, create your own industry. Your living industry. Done!
*penulis abis kejedot tembok beton, jadi maklum kalo postingan kali ini rada random.
Senin, 04 April 2011
Police is entirely human being
Flu is suck! everybody knows it. Akibatnya gw beberapa hari ngendon terus di dalem rumah. termasuk hari ini. Dari pagi bangun smpe siang ini, cuma bisa gulung-gulung di kasur. Sambil sesekali nonton tv. iseng-iseng acara 8-11 Show di metro, ada berita menarik tentang salah satu anggota polisi di Gorontalo yang ketauan joget-joget ala India. jelas ketauan karena videonya diaplod di youtube.
Hahaha, ngakak ngeliatnya. Ini dengan sangat fasih, polisi yang konon namanya Nornam ini bisa lipsing lagunya akang Sharukh Khan. Mirip kayak Sinta Jojo, tapi ini pake joget-joget khas India. Dan inget, ini polisi yang ngelakuin.
kelakuakan bodohnya itu direkam tatkala sedang jaga piket bersama temennya. Nah si polisi ngehe ini bilang, kalo dia cuma berusaha ngehibur temannya yang lagi ada masalah. Dengan gaya yang aduhai banget (bukan, ini tidak membuat gw tertarik sama polisi --") si Norman ini nyanyi lagu Chaiyya Chaiyya lengkap dengan joged (walaupun minimalis karena sambil duduk) sama ekspresi wajah, plus lipsingnya yang pas banget. Bikin ketawa beneran ini hahaha.
Di youtube sendiri, smbutannya ternyata cukup positif. Banyak yang ngasih jempol istilahnya. Malah banyak yang menyesalkan pemberian sanksi oleh atasannya karena kelakuan Norman ini. Gw sendiri berpendapat kalau yang dilakukan polisi ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan. Kadang di tengah kejenuhan orang bisa jadi sangat kreatif. Norman salah satunya.
Bahkan ada yang beranggapan, apa yang dilakukan Norman ini dapat mematahkan persepsi masyarakat bahwa polisi itu galak, keras dan sebagainya. Sisi yang dikeluarkan Norman ini bisa jadi menampilkan sesuatu yang lain dari sosok penegak hukum ini. Daripada sok serius tapi ternyata menebar kebohongan di media, mending memperlihatkan bahwa polisi itu juga bisa lucu, menyenangkan dan terlihat apa adanya. Sehingga masyarakat juga semakin dekat dan bisa mendukung satu sama lain.
Karena polisi itu sepenuhnya hanya manusia biasa.
Hahaha, ngakak ngeliatnya. Ini dengan sangat fasih, polisi yang konon namanya Nornam ini bisa lipsing lagunya akang Sharukh Khan. Mirip kayak Sinta Jojo, tapi ini pake joget-joget khas India. Dan inget, ini polisi yang ngelakuin.
kelakuakan bodohnya itu direkam tatkala sedang jaga piket bersama temennya. Nah si polisi ngehe ini bilang, kalo dia cuma berusaha ngehibur temannya yang lagi ada masalah. Dengan gaya yang aduhai banget (bukan, ini tidak membuat gw tertarik sama polisi --") si Norman ini nyanyi lagu Chaiyya Chaiyya lengkap dengan joged (walaupun minimalis karena sambil duduk) sama ekspresi wajah, plus lipsingnya yang pas banget. Bikin ketawa beneran ini hahaha.
Di youtube sendiri, smbutannya ternyata cukup positif. Banyak yang ngasih jempol istilahnya. Malah banyak yang menyesalkan pemberian sanksi oleh atasannya karena kelakuan Norman ini. Gw sendiri berpendapat kalau yang dilakukan polisi ini adalah sesuatu yang wajar dilakukan. Kadang di tengah kejenuhan orang bisa jadi sangat kreatif. Norman salah satunya.
Bahkan ada yang beranggapan, apa yang dilakukan Norman ini dapat mematahkan persepsi masyarakat bahwa polisi itu galak, keras dan sebagainya. Sisi yang dikeluarkan Norman ini bisa jadi menampilkan sesuatu yang lain dari sosok penegak hukum ini. Daripada sok serius tapi ternyata menebar kebohongan di media, mending memperlihatkan bahwa polisi itu juga bisa lucu, menyenangkan dan terlihat apa adanya. Sehingga masyarakat juga semakin dekat dan bisa mendukung satu sama lain.
Karena polisi itu sepenuhnya hanya manusia biasa.
Ketika Masa Depan Semakin Mendekat
Inget pas dulu waktu TK ngebayangin, kalo udah gede mau jadi apa? jawaban umum ya dokter, guru dan sebangsanya. Karena gw belum kenal apa itu namanya idealisme atau prinsip, dan persepsi dokter kala itu adalah sesuatu yang maha keren, maka dengan enteng gw jawab "Dokter".
Hal ini berubah ketika menginjak bangku SD. Saat itu gw lagi doyan-doyannya mantengin peta. Tapi karena gak tahu profesi apa yang berhubungan langsung dengan peta, maka gw gak nerusin kegiatan tersebut. Kemudian bacaan bergeser. Entah darimana, tiba-tiba gw nemuin buku yang isinya perencanaan pembangunan rumah. Isinya gambar-gambar rumah yang ada denahnya. Bisa ditebak, cita-cita gw berubah menjadi arsitek. Salah satu kata terkeren yang bisa gw sebutin pas jaman SD.
Masa SMP-SMA, gw diracuini teknologi bernama Playstation. Gak bisa dihindari, gw kecantol sama konsol satu ini. Semacam diperbudak gitu. Tiap ada game baru muncul, sebisa mungkin dihunting kemudian dimainin. Salah satu efek penting dalam game adalah grafis. Nah, gw kenal Playsattion dan main game-game keluaran squaresoft kala itu. Yang mempunyai kelebihan di hal grafis (mainnya kebanyakan RPG). Jadi, dulu sudah kenal istilah keren lainnya slain grafis, seperti polygn, frame per second (fps) dll. Itu semua berkat Playstation. pada akhirnya, dengan yakin seyakin-yakinnya, gw merubah cita-cita gw menjadi game maker (setelah mendapat referensi mengenai karir di dunia gaming yang sangat menggiurkan). Khususnya bagian animator.
(masih SMA) setelah mengetahui bahwa pada jaman itu, kuliah di jurusan "game maker" rada mustahil dilakukan, ada memang tapi biayanya ih wow, maka dengan segera dan niat yang tulus gw geser lagi cita-cita menjadi grafis desainer. Tukan bikin print ad keren dan desainer yang ulung. Emak dan babe pun mengamininya (sebelumnya emak ngotot nguliahin di sastra inggris). Cita2 ini gw lanjutin hingga tingkat smnptn dengan pilihan jurusan DKV, Komunikasi, Arsitektur (yang terakhir cuman buat pantes2 soalnya dulu kan nak IPA). Tapi nasib berkata lain. DKV lepas, masuklah gw di komunikasi. Bidang yang dulu gw gak ngeh, ini jurusan apaan. dan ternyata jurusan beginian.
Masa kuliah tentunya banyak dinamika. Awalnya masih ingin melanjutkan cita2 menjadi desiner (ad penjurusan desgraf) tapi pupus di tengah jalan ketika masuk persma dan magang di bidang jurnalistik. Secara otomatis gw jadi punya cita-cita jadi wartawan. Dan akhir-akhir ini, entah kenapa nyaa gw melayang ke bidang iklan. Masa kuliah ada masa dngan perubahan main cepat (bukti kalau masa kuliah ada masa tergalau di hidup gw -____-)
Dan sekarang gw dihadapkan kenyataan. Dalam hitungan bulan, mau tidak mau gw kudu mutusin. Mana yang akan menjadi masa dpan. Masa dpena yang dulu cuma jadi angan-angan belaka pas ngobrol bareng temen SD, kini seakan cuma sejengkal jaraknya. Ternyata maa depan bukan cuma masalah kita akan jadi apa atau siapa. Namun terlepas dari itu, masa depan adalah masa pertanggungjawaban. Maksudnya, masa ketika kita bener-bener 100 % bertanggung jaab sama diri sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, kita benar-benar menjadi kapten. Apapun itu bentuknya, mau desainer grafis, kerja di biro ad, semua memiliki resiko masing-masing. Bisa saja indah sesuai dengan khayalan jaman dulu. Bisa juga sebaliknya. Bahkan mulai sekarang, atau mulai kita dewasa secara perilaku, kita harus memikirkan dan mempersiapkan. Jangan sampai masa depan kita justru menjadi sebuah kemunduran. Siap gak siap seua harus dihadapi. Pertanyaannya, apakah gw siap? apakah gw cukup siap?
Hal ini berubah ketika menginjak bangku SD. Saat itu gw lagi doyan-doyannya mantengin peta. Tapi karena gak tahu profesi apa yang berhubungan langsung dengan peta, maka gw gak nerusin kegiatan tersebut. Kemudian bacaan bergeser. Entah darimana, tiba-tiba gw nemuin buku yang isinya perencanaan pembangunan rumah. Isinya gambar-gambar rumah yang ada denahnya. Bisa ditebak, cita-cita gw berubah menjadi arsitek. Salah satu kata terkeren yang bisa gw sebutin pas jaman SD.
Masa SMP-SMA, gw diracuini teknologi bernama Playstation. Gak bisa dihindari, gw kecantol sama konsol satu ini. Semacam diperbudak gitu. Tiap ada game baru muncul, sebisa mungkin dihunting kemudian dimainin. Salah satu efek penting dalam game adalah grafis. Nah, gw kenal Playsattion dan main game-game keluaran squaresoft kala itu. Yang mempunyai kelebihan di hal grafis (mainnya kebanyakan RPG). Jadi, dulu sudah kenal istilah keren lainnya slain grafis, seperti polygn, frame per second (fps) dll. Itu semua berkat Playstation. pada akhirnya, dengan yakin seyakin-yakinnya, gw merubah cita-cita gw menjadi game maker (setelah mendapat referensi mengenai karir di dunia gaming yang sangat menggiurkan). Khususnya bagian animator.
(masih SMA) setelah mengetahui bahwa pada jaman itu, kuliah di jurusan "game maker" rada mustahil dilakukan, ada memang tapi biayanya ih wow, maka dengan segera dan niat yang tulus gw geser lagi cita-cita menjadi grafis desainer. Tukan bikin print ad keren dan desainer yang ulung. Emak dan babe pun mengamininya (sebelumnya emak ngotot nguliahin di sastra inggris). Cita2 ini gw lanjutin hingga tingkat smnptn dengan pilihan jurusan DKV, Komunikasi, Arsitektur (yang terakhir cuman buat pantes2 soalnya dulu kan nak IPA). Tapi nasib berkata lain. DKV lepas, masuklah gw di komunikasi. Bidang yang dulu gw gak ngeh, ini jurusan apaan. dan ternyata jurusan beginian.
Masa kuliah tentunya banyak dinamika. Awalnya masih ingin melanjutkan cita2 menjadi desiner (ad penjurusan desgraf) tapi pupus di tengah jalan ketika masuk persma dan magang di bidang jurnalistik. Secara otomatis gw jadi punya cita-cita jadi wartawan. Dan akhir-akhir ini, entah kenapa nyaa gw melayang ke bidang iklan. Masa kuliah ada masa dngan perubahan main cepat (bukti kalau masa kuliah ada masa tergalau di hidup gw -____-)
Dan sekarang gw dihadapkan kenyataan. Dalam hitungan bulan, mau tidak mau gw kudu mutusin. Mana yang akan menjadi masa dpan. Masa dpena yang dulu cuma jadi angan-angan belaka pas ngobrol bareng temen SD, kini seakan cuma sejengkal jaraknya. Ternyata maa depan bukan cuma masalah kita akan jadi apa atau siapa. Namun terlepas dari itu, masa depan adalah masa pertanggungjawaban. Maksudnya, masa ketika kita bener-bener 100 % bertanggung jaab sama diri sendiri. Tanpa campur tangan orang lain, kita benar-benar menjadi kapten. Apapun itu bentuknya, mau desainer grafis, kerja di biro ad, semua memiliki resiko masing-masing. Bisa saja indah sesuai dengan khayalan jaman dulu. Bisa juga sebaliknya. Bahkan mulai sekarang, atau mulai kita dewasa secara perilaku, kita harus memikirkan dan mempersiapkan. Jangan sampai masa depan kita justru menjadi sebuah kemunduran. Siap gak siap seua harus dihadapi. Pertanyaannya, apakah gw siap? apakah gw cukup siap?
Senin, 14 Februari 2011
Review : Heartbreak.com
Mungkin diantara seantero film komedi lokal yang bertebaran di Indonesia, ini salah satu dari sedikit yang berhasil menarik perhatian gw. Heartbreak.com bercerita tentang Agus (Raymon Y Tungka) yang tiba-tiba diputuskan oleh pacarnya Nayla (Raihanuun) secara sepihak. Hal ini disebabkan Nayla sudah punya pacar (lagi) selama sekolah di Australia bernama Kevin (Gary Iskak). Wawan (Omesh Ananda) bersama pacarnyaRaya (Rischa Novisha) mencoba membangkitkan lagi si Wawan yang drop gara-gara diputus Nayla. Nah pada saat itu mereka menemukan Heartbreak.com sebuah badan intelijen yang khusus menangani kasus-kasus percintaan seperti ini. Dengan bantuan Mbak Elza (Sophie Navita) Ferdy (Edo Borne) dan Nadia (Shara Aryo) dari Heartbreak.com, Wawan berjuang untuk mendapatkan cinta Nayla kembali.Simpel dan sangat lucu. Impress pertama dari film ini. Dari segita cerita sebenarnya cukup sederhana, namun kehadiran lembaga Heartbreak.com menjadi sesuatu yang berbeda. Strategi demi strategi disusun Heartbreak.com untuk memperoleh cinta Nayla kembali, disajikan dengan cukup apik, ringan dan punya sense humor yang tidak kacangan. Apalagi keberadaan Wawan yang diperankan Omesh, bener-bener kocak.
Komedi yang disajikan pas. Tidak berlebihan, original dan tentu saja tidak mengumbar unsur seks di dalamnya. Dari akting ya menurut saya semua bermain dengan bagus. Raymon yang depresi dengan aksen manjanya lucu tapi melas. Omesh menjadi biang komedi yang efektif di sini. Dan Raihanuun sangat cantik di sini (ini personal lho ya, tapi sumpah gw kesengsem berat sama wanita ini). Endingnya juga unik dan menyentuh. Ada bagian yang bikin gw sedikit menyeka air mata (haiyaah..). hahaha
Om Affandi Abdul Rachman cukup berhasil dalam mendirect film ini. Semua yang ditampilkan di sini sangat fresh, dialognya juga gak cupu, Raihanun fresh banget (lagi-lagi...). Oiya karena ini film komedi romantis maka sisi romantisnya juga gak kelupaan. Ada beberapa adegan yang menuryt gw secara personal sangat romantis. Seperti jurus terakhir yang diberikan Heartbreak.com untuk meruntuhkan hati Nayla *SPOILER ALERT*. Durasi 105 menit dalam film ini diisi dengan adegan-adegan yang padat dari segi cerita dan komedi. Porsinya romantisnya juga pas. Gak terlalu maksa, tapi gak terlalu geje juga.
sekali lagi Simpel, Lucu dan Fresh!
wajib tonton, jarang-jarang ada film komedi romantis Indonesia yang tidak mengumbar seks dan original seperti film ini. Hmm, gw berharap ada film sejenis lagi. Eh udah ada ding, judulnya Aku Atau Dia, yang merupakan sekuel film ini (tapi belum nonton). Well... kita lihat saja :)
Langganan:
Postingan (Atom)