Selasa, 29 Juni 2010

sedikit curhat bolehlah...

I don't know
I just miss that moment
It looks like the tag line becomes a magical word
a comedy about love, friendship and dreams

yeah, now we're living in such a comedy
missing you guys...

ayo kapan kita kemana lagi????????
pengen long trip ke kemuning-pacitan-sundak lagi....

Jumat, 14 Mei 2010

Belajar dari "Luar"


Dunia luar itu tidak hanya begitu indah, namun juga sangat berisi.
Mungkin itulah yang aku pelajari beberapa waktu terakhir. Dunia luar yang dimaksud di nsini adalah dunia luar kampus. Dunia nyata senyata-nyatanya, dimana teori hanya menjadi suatu landasan, bukan senjata utama. Selama ini (ya selama aku kuliah pastinya) teori-teori-teori, menjadi sesuatu yang sangat wajib. Hafalan teori kita harus bagus. Teori adalah harga mati.
Dang! dan aku adalah tipe mahasiswa yang sangat antipati terhadap teori. Bukannya benci, aku masuh menghormati teori tersebut, teori dibuat dengan tujuan yang baik. Aku cuma tidak suka terlalu tunduk pada teori tersebut. Padahal di dunjia komunikasi semua bisa terjadi begitu saja. Namun apa yang ada di kurikulum memaksa pelajar seperti aku, menjadikan teori sebagai suatu panutan yang pasti. Diikuti dengan idealisme terhadap melihat sesuatu (tentu saja didasari oleh teori-teori). Well, mungkin sedikit gugatan pada model pengajaran di bangku kuliah. Kenapa harus dunia luar. Aku sebenarnya (sebeluym tahu keadaan sebenarnya) cuma bisa mengangguk bila mendapat suatu penjelasan teori errr... lebih tepatnya definisi dari teori a, b, c ....dst. Tapi seketika semua itu runtuh ketika dulu sempet ada dosen tamu. Sebenarnya bukan dosen, namun alumni yang telah bekerja di media secara nyata. Media yang benar-benar MEDIA MASSA. Dan guess what, menurutnya teori yang kita pelajari sebenarnya berfungsi pada penguat background kita saja. Hell?!
Hemmm, mungkin itu masih terlalu halus. Kata mbak Sofi, yang sekarang menjadi reporter di Metro, idealisme itu mati ketika bekerja du media. Kalau itu aku udah tau, namun bagaimana degan nasib teori-teori itu???
Tadi sewaktu aku sama temenku si Zulfa riset ke salah satu PR perusahaan telekomunikasi, keyakinanku terhadap teori (yang tinggal separuh) makin runtuh. Mungkin ini lebih spesifik untuk teori PR yang aku pelajari di bangku kuliah. Dan hasilnya ketika diaplikasikan di lapangan : NOTHING! kita berdua kayak orang bodah dan linglung ketika si narasumber balik bertanya masalah teori yang kita pakai (aneh2 aja itu bapaknya). Dan akhirnya rencana riset kita gagal, dan gantinya kita seperti mendapat kuliah tambahan. ckckckckck.
Teori hmmmm. Sampai sekarang aku tidak terlalu perduli. Beberapa orang mengatakan teori itu penting . Tapi yah itu hanya pendapat. Semua bisa berpendapat. Hal yang jauh lebih penting bagiku adalah esensi dari teori itu. Kenapa ada teori itu? kenapa musti teori itu? kenapa teori a, b, c harus seperti itu? semua kembali ke pemaknaan. Just like our life, life goes smoothly if you know the meaning of our life. Easy yet simple!
TEORI????? HAJAR!!!!!

Kamis, 15 April 2010

Hello Bangsa Barbar !

Priok, 14 April 2010. Kawasan itu berubah seketika menjadi medan perang. Lupan emosi membahana di awang-awang langit Priok hari itu. Teriakan-teriakan warga merongrong di segala sudut yang ada. Bentrokan tak dapat lagi dihindari.
Satpoll PP, as we know, berusaha mengobrak-abrik segala "kotoran" di sekitar makam Mbah Priok. Tentu saja dengan arogansi mereka yang siap memecah emosi, siapapun itu yang melihatya. Mereka merangsek masuk ke wilayah sekitar Makam Mbah priok, yang termashur di tempat itu.
Sudah dapat ditebak dan diprediksi, juga seakan tidak pernah belajar dari pengalaman. Pembongkarang paksa yang selalu dilakukan Satpol PP, pada akhirnya memicu emosi warga sekitarnya. Cara mereka yang kasar dan terkesan seenaknya, meledakkan emosi warga. Sedetik kemudian, perang itu muncul.
Tidak perlu jauh-jauh meliput hingga ujung Timur Tengah untuk menyaksikan keganasan sesama manusia. Priok, bisa dijadikan alternatif hari itu. Semua saling hantam, saling pukul. Ironis melihatnya. Sesama bangsa Indonesia sangat bersemangat untuk menjatuhkan saudara sendiri. Jurang antara rakyat jelata dengan birokrat dan tangan panjangnya semakin dalam. Kerusuhan seakan menjadi tameng sebuah bentuk protes atau ketidaksetujuan "wong cilik" terhadap keputusan pemerintah. Segalan macam bentuk baku hantam terekam jelas di kamera (bahkan tanpa sensor). tayangan tersebut seakan membuat hati kita teriris-iris. Entah itu sengaja atau tidak.
Yang jelas, satu hal yang membuatku pribadi kecewa, ketika melihat saudara kita saling baku hantam. Tak ada rasa ampun ketika mereka saling berhadapan.
Dahulu, cara tersebut mungkin bisa jadi dibenarkan (walaupun dari sisi kemanusiaan saya tetap tidak setuju) dan mungkin bisa dianggap sesuatu yang heroik. Tapi ketika bangsa ini telah merdeka, apa yang akan didapat saat kedua pihak yang masih satu nenek moyang saling berseteru, saling berteriak satu sama lain, bahkan saling memaki. sangat barbar.
Sebenarnya, kerusuhan Priuk ini hanyalah bukti kecil sifat "barbar" orang Indonesia. Entah disebabkan faktor apa, namun semakin hari rakyat jelata semakin mudah tersulut emosinya. Tak salah jika menyebutnya dengan kata "barbar". Tidak ada pemikiran logis ketika akan melakukan atau menetapkan sebuah keputusan.


Rabu, 07 April 2010

GORE GORE and GORE !!!!!


Sindrom yang aneh, kata-kata tersebut aku tujukan pada diriku sendiri. Kenapa sindrom aneh, karena -entah kenapa- akhir-akhir ini aku doyan banget bersama yang namanya film horor tapi bertemakan gore. Film horor seputaran tahayul sekarang sudah sangat biasa (baik lokal atau luar)dan aku sudah bosan kuadrat (kecuali emang ceritanya seru), film bertemakan atau bergenre gore sebenarnya juga sudah ada sejak dulu, namun aku baru "menyadari kenikmatannya" baru-baru ini.
Film gore sejatinya adalah film horor (lepas dari tema tahayul), namun lebih pada eksplorasi psychologycal disorder tentang sadisme atau sadistik. Berat mungkin penjelasan di atas, tapi intinya film-film sadis (dan selalu dilabel film DEWASA).
Tampilan paling sederhana ya adegan bunuh-bunuhan, inget film lawas Scream? dimana ada psikopat (yang selalu jadi pakem filmn beginian) membunuh pemuda-pemudi, itu ada unsur gore di dalamnya, namun kurang.
Mengapa kurang, adegan bunuh-bunuhnya kelewat sederhana. I mean, cuma ditusuk-ditusuk dan ditrusuk. Standar gore movies bisa dikatakan selevel SAW. Sekarang uda sampe franchise ke 7 nya. Gorenya selalu dapat. Kenapa dapet? karena ada "seni" ketika si musuh atau katakanlah si psikopat ngebunuh sasarannya. Dan syarat utama yang harus dan wajib ada di gore movies adalah keberadaan darah!. Darah adalah komponen yang sangat umum di genre ini. Tapi kadang unsur ini juga bisa mengaburkan sisi sadismenya. Penggunaan unsur daerah yang berlebihan akan membuat film genre ini menjadi membosankan, alurnya jadi gak jelas dan menenggelamkan cerita dari film itu sendiri. Atau penempatan yang nyeleneh akan membuat tampilan genre ini makin aneh juga (terjadi di film2 gore jepang). Kalau unsur ini kelewat dikit, efeknya ya itu jadi kurang seru.
Tapi ada lagi yang "kadang" disepelekan film-film gore. Entah niatnya mau mengumbar adegan berdarah-darah atau gimana, sotryline yang ada jadi gak begitu jelas dan tidak kreatif. Terbukti dengan beberapa film gore yang aku tonton mempunyai storyline yang pasaran. Latar belakang dendam, atau psikopat gila yang sedang berburu mangsa, menjadi panutan cerita di gore movies.
Bukan Indonesia namanya kalo tidak ngikutin tren, akhirnya ada juga sineas Indonesia yang bikin film bertema ini. Yap, film Rumah Dara (Macabre) besutan Mo Brothers, menurutku cukup berhasil mempresentasikan kesan gore di filmnya. Walaupun masih ada kekurangan di sana-sini, tapi jujur aku cukup puas, karena tastenya bakal beda kalo nonton film lokal sama film barat. Banyak adegan seru dan lumayan sadis di sini (dan entah kenapa aku sangat suka bagian sadis itu hehe...). Sebelum Rumah Dara sebenarnya ada film-film seperti Kala dan Pintu Terlarang (Joko Anwar) yang juga memasukkan unsur gore di dalamnya, namun tidak seintens di film Rumah Dara.
Mungkin ini beberapa referensi film-film gore yang bisa dilihat : Saw (1-VII), Grotesque (Jepang), Affair (Indonesia), Hostel, Wrong Turn, The Hills Have Eyes (1-2), Art of the Devil 1-3 (ada unsur tahayulnya tapi sadis gila/Thai), Meat Grinder (Thai), Dara (film pendek di antologi Takut) dll.
Have a Bloody Day people!



Minggu, 07 Maret 2010

Solo - Sore - Gerimis

Apa yang ada di otak kamu tentang ketiga kata itu berpadu. Solo - Sore - Gerimis. Mungkin kamu akan berpikir jalanan rame plus licin belom genangan dimana-mana. Atau yaa biasa aja, nothing special. Are you sure?
Think about it. Solo, kota kecil nan indah dengan sajian dominasi kulturnya yang menyejukkan hati, Sore... momentum terindah dalam satu hitungan hari, dan gerimis... dinamika alam yang (menurutku) manis, tidak menimbulkan suffer yang berlebih dan everybody like it.
Spesial? tidak juga. Ketiga kata di atas adalah hal yang biasa. Tidak istimewa. Tapi penting menurutku. Mungkin dari dulu aku sudah suka dengan semua yang berbau sore, langit sore yang kemerahan, hawanya yang panas enggak dingin juga enggak, sampe band SORE juga suka (kalo ini sedikit nggak penting). Tapi entah mengapa ketika ketiga kata di atas dipadukan satu sama lain, ada suatu sinergi yang muncul di dalamnya. Solo notabene kota yang hangat di memoriku, sulit untuk meninggalkannya. Sore, seperti yang telah aku jelaskan sebelumnya, adalah fase atau perputaran waktu di bumi yang paling aku sukai. Dan gerimis, adalah fase hujan yang paling romantis. Lengkap sudah, ketiga hal itu seakan mempunyai kemistri yang kuat satu sama lain.
Bayangkan saja ketika dalam kondisi seperti itu, kita mengitari Ngarsopuro, menjelajah jalan sempit di Supit Urang dekat Keraton Kasunanan, atau sekedar melihat kerlap kerlip lampu di sepanjang jalan Slamet Riyadi (untuk ini lebih baik dilakukan dengan jalan kaki di citywalk saja). Kalau mau suasana lain, bisa menjelajah jalanan sempit di sekitar gang Kauman atau sentra wisata batik Laweyan. That's precious one!
Namun menurutku, tempat paling favorit untuk merasakan itu semua adalah loteng. Beratapkan langit luas, pemandangan rumah yang berdempet-dempet, sampai sayup-sayup suara adzan. Aku yakin someday, ketika aku telah berada jauh dari rumah, hal itu akan menimbulkan romantisme tersendiri. Romantisme akan Solo-Sore-Gerimis di loteng rumah. I'll miss that moment!


Writing is my Passion!


Somehow, aku sendiri kadang bingung, blog yang sepi ini mau aku apain. Setiap kali nulis kagak pernah ketemu endingnya. Kadang ketika otak butek dan ending aku berkata pada diriku "....bisa dilanjutin besok!"
Well, nggak sepenuhnya salah, dan pastinya nggak sepenuhnya benar. Hampir selusin (kalau nggak salah hitung) entri posting yang tersimpan rapi di drfat blogspotku. Alasan kliseku adalah : mood. Yah, bad mood terutama menjadi satu tembok besar dalam menyeleseikan sebuah tulisan. Alasan kedua waktu. Waktu update blog tersita habis untuk seluruh tetek bengek urusan duniawi nyata di sana.mKalau untuk itu yaaa... bisa diakui aku lemah dalam manajemen waktu. haha
Plok-Plok-Plok. Time to wake up! apa yang sedang aku (coba) lihat sekarang adalah aku 4 - 7 tahun yang lalu. Seorang remaja tanggung yang super polos. Mencintai bentuk tulisan apapun itu (sempat membuat majalah bodoh yang ditulis dengan tangan) tapi benar-benar fulfilling my desire.
Bahkan sekarang aku merasa di jalur yang tepat. Maksudnya dalam sisi akademis. Tulis-menulis (akan) menjadi bagian hidupku. Tapi lagi-lagi setan jalang bernama malas kerap kali menggelayut di pikiranku. Memecah semua itu bukanlah hal yang mudah. Niat adalah yang paling utama. Kalau niat sudah bulat penuh, anything can happen. BELIEVE IT!
Passion tulis menulis ini sebenarnya cukup dibantu dengan keberadaanku di LPM. Tempat itu benar-benar nggak bisa lepas dari pikiranku (haha jelaslah, aku PUnya). Tapi bukan itu maksudnya, yang aku garisbawahi adalah efeknya itu. KAlau dulu kadar cinta saya terhadap dunia tulis menulis masih 40% sekarang meningkat menjadi 75%. Nggak cuma artikel, berita juga aku doyan nulis.
Motivasi lain adalah teman-teman. BEberapa teman yang kukenal mempunyai blog pribadi dengan ragam tulisan yang sangat menarik. Teman sejawatku di LPM menulis dengan gaya sastranya yang tinggi, ada pula teman kuliahku yang menulis di blog lebih berisi curhat gitu. Semuanya menarik. Every single article have their own story and power. Sama halnya ketika saya membuka blog Joko Anwar, Moammar Emka (yah kalo mereka kelas kakap). Secara tidak langsung tulisan-tulisan cerdas mereka memotivasiku untuk tetap menulis-menulis-menulis.
karena menulis itu adalah sebuah kekuatan dan tulisan itu adalah sihir. Karena itu saya cinta menulis. Writing is (definitely) my passion!


Jumat, 05 Februari 2010

Rumah ke .....

Somehow, aku nggak tau ide ini dateng darimana, ketika aku melewati beberapa deret rumah yang berjajar di sebelah barat rental komputerku, memori masa lalu seakan tersibak begitu saja. Lucu kalau mengingat bahwa aku dulu pernah tinggal di bvangunan tersebut. Sebut saja ada 3 tempat berbeda (semua berjajar) mulai dari lapangan futsal, tempat main bilyard sampe toko baju.
Dulu tempat tinggal pertamaku terletak di jalan mr. Sartono no 41 (yang sekarang menjadi toko baju anugerah). Rumahnya besar, mungkin bangunan itu salah satu prestasi babe jaman masih kerja dulu. Dapat membuat rumah yang megah impian keluarga.
Sejak lahir hingga kelas 4-5 SD aku pernah tinggal disana. dengan segudang memori di dalamnya. Rumah megah dengan beberapa konflik kecil di dalamnya. Kebetulan waktu jaman itu seluruh anak-anak orangtua masih sekolah semua, dan aku adalah anak paling kecil diantara 4 bersaudara.
Yang aku ingat dengan rumah itu adalah ketika itu sebagai bocah umur 8 tahunan aku punya bacaan yang cukup unik. Bisa dibilang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Keika yang lain memilih membaca buku bergambar, aku malah doyan melototin buku kumpulan rancangan rumah (semacam buku buat arsitek gitu) yang entah milik siapa. Selain itu mataku paling betah melihat PETA. Sampai pernah kelas 3 SD aku dibelikan buku peta yang pada waktu itu cukup mahal.
Tahun 1998, ketika sedang gempar krismon dulu, babe akhirnya kena imbas juga. Perusahaan dipaksa gulung tikar, padahal jabatan babe sudah cukup bonafit. Babe langsung banting setir ke dunia wirausaha, dunia yang asing baginya. Di tahun 2000an usaha pertama tidak berjalan begitu baik, entah terbelit hutang atau apa, rumah megah impian keluarga harus dijual begitu saja. Sebagai gantinya, aku sekeluarga tinggal di kontrakan sebelah rumah megah itu.
Rumah kontrakan yang cukup sederhana ini menjadi rumah no 2 yang pernah kutinggali. Rumahnya cukup unnik, memanjang ke belakang dengan tipe kamar seperti kos-kosan. Di rumah ini aku "menikmnati" derita dari kebanjiran. Hampir tiap ujan gede rumah selalu kebanjiran 20-30 cm tingginya. Heboh, seru tapi unik. Oiya, di rumah ini aku mengenal dunia keduaku : Playstation!. Konsol game terhebat yang pernah ada. haha
Tapi satu hal yang paling minus dari rumah ini : LANGGANAN BANJIR. Pernah dullu banjir masuk ke rumah ampe lutut. Mungkin ketinggian rumah yang lebih rendah dari jalan atau gimana aku nggak tahu. Yang pasti hal seperti itu (kebanjiran dilanjutkan bersih-bersih lumpur) menjadi hal yang lumrah. Pernah dulu ketika air masuk rumah (dengan ketinggian lumayan), segala macam perabot ditumpuk jadi satu. Mulai dari kursi sebagai fondasi utamanya, kursi lagi, kasur 1 baru kasur dua. Dan saking kelelahannya membersihkan kotoran banjir, aku ketiduran di tumpukan kasur yang menjulang itu. hahaha

(bersambung)