Selasa, 10 Agustus 2010
krik..krik...
kemarin sempet kepikiran, update terakhir gw tentang film-film yang memoreble di hidup gw. Nah... kayaknya nggak adil kalau gak dibuatin reviewnya satu per satu. Yaa itung-itung biar diar dianggep rajin ngebloglah.... oh iya ini review murni penilaian dari kacamata gw, jadi kalau ada yang kurang sreg, ya mohon maaf dehh hoho. soalnya gw juga bkan kritikus film atau apa, cuman nyampein apa yang gw liat dan gw rasain.
Puasa Puasa Puasa
Selasa, 20 Juli 2010
Most Memorable Movie Ever I

Catatan Akhir Sekolah
Gak ada masa yang paling indah dan seru selain masa-masa SMA. Seru, sedih, jengkel, bandel semua lebur jadi satu. Banyak Kegilaan-kegilaan terjadi di fase ini. Mungkin inilah yang diungkapkan oleh film Catatan Akhir Sekolah. Da ternyata berhasil.
CAS berhasil menggambarkan suasana SMA yang bewarna. Filmnya rapih dan penuh dengan semangat-semangat khas anak SMA. Gak berlebihan dan gak kurang jga.
MEmorable scene? yah di pensi sama pas opening part itu. SMA banget. Kalau ngeliat film ini langsung deh kebayang jaman-jaman kejayaan waktu SMA. Dijamin!
OnceAda beberapa faktor yang membuat film ini menjadi sangat memorable: ceritanya yang simple namun menarik, Environment menarik, soundtrack yang sangat menawan. Film ini menceritakan seorang pria yang bertemu seorang wanita di jalan. That's the point. Seberapa sering kamu menemukan orang yang tepat dalam hidup anda.
Oiya, yang menarik adalah, tidak ada pengenalan tokoh dalam film ini. Jadi yang cowok (Glen Hansard) berlaku sebagai guy, dan Marketa Irglova jadi girl. Thay have no name in this movie, but they surely have something to tell about!
Le Grand Voyage
Film pr
ancis ini menceritakan perjalanan seorang pemuda dalam mengantarkan ayahnya naik haji melalui jalur darat. Film ini sangat menyentuh. Komunikasi tidak baik antara pemuda yang terlanjur masuk dalam pergaulan dunia barat dengan seorang ayah muslim yang taat menjadi konflik utama. Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam film ini seperti keikhlasan, kasih sayang orangtua hingga bagaimana kita memperlakukan orangtua. Salah satu genre road movie yang bagus.
Rumah DaraAkhirnya, setelah penantian yang sangat lama, ada juga film slasher buatan indo. Walaupun masih menggunakan pakem film slasher klasik namun disini berbeda. Kesan Indonesianya sangat terasa. Gorenya dapet. Ceritanya konsisten. Belakangan mulai banyak film-film horor Indo yang mengekor Rumah Dara, namun ya itu...kalah banget. Rumah Dara ini berhasil mengaduk-aduk emosi saya (juga perut teman saya karena dia langsung ijin ke belakang ketika film berjalan separo).
Art Of the DevilKali ini film horor. Sampai saat ini saya gak bisa ngelupain adegan ngelupas kulit manusia. Horor dan gorenya ngeri. Untuk cerita agak kuno dan masih bisa ditebak. Tapi surprisenya luar biasa. Gabungan antara horor kuno (main dukun) dengan adegan gore yang menyentuh saraf lambung. Keren deh sekaligus ngeri.
Selasa, 29 Juni 2010
sedikit curhat bolehlah...
I don't knowI just miss that moment
It looks like the tag line becomes a magical word
a comedy about love, friendship and dreams
yeah, now we're living in such a comedy
missing you guys...
ayo kapan kita kemana lagi????????
pengen long trip ke kemuning-pacitan-sundak lagi....
Jumat, 14 Mei 2010
Belajar dari "Luar"

Dunia luar itu tidak hanya begitu indah, namun juga sangat berisi.
Mungkin itulah yang aku pelajari beberapa waktu terakhir. Dunia luar yang dimaksud di nsini adalah dunia luar kampus. Dunia nyata senyata-nyatanya, dimana teori hanya menjadi suatu landasan, bukan senjata utama. Selama ini (ya selama aku kuliah pastinya) teori-teori-teori, menjadi sesuatu yang sangat wajib. Hafalan teori kita harus bagus. Teori adalah harga mati.
Dang! dan aku adalah tipe mahasiswa yang sangat antipati terhadap teori. Bukannya benci, aku masuh menghormati teori tersebut, teori dibuat dengan tujuan yang baik. Aku cuma tidak suka terlalu tunduk pada teori tersebut. Padahal di dunjia komunikasi semua bisa terjadi begitu saja. Namun apa yang ada di kurikulum memaksa pelajar seperti aku, menjadikan teori sebagai suatu panutan yang pasti. Diikuti dengan idealisme terhadap melihat sesuatu (tentu saja didasari oleh teori-teori). Well, mungkin sedikit gugatan pada model pengajaran di bangku kuliah. Kenapa harus dunia luar. Aku sebenarnya (sebeluym tahu keadaan sebenarnya) cuma bisa mengangguk bila mendapat suatu penjelasan teori errr... lebih tepatnya definisi dari teori a, b, c ....dst. Tapi seketika semua itu runtuh ketika dulu sempet ada dosen tamu. Sebenarnya bukan dosen, namun alumni yang telah bekerja di media secara nyata. Media yang benar-benar MEDIA MASSA. Dan guess what, menurutnya teori yang kita pelajari sebenarnya berfungsi pada penguat background kita saja. Hell?!
Hemmm, mungkin itu masih terlalu halus. Kata mbak Sofi, yang sekarang menjadi reporter di Metro, idealisme itu mati ketika bekerja du media. Kalau itu aku udah tau, namun bagaimana degan nasib teori-teori itu???
Tadi sewaktu aku sama temenku si Zulfa riset ke salah satu PR perusahaan telekomunikasi, keyakinanku terhadap teori (yang tinggal separuh) makin runtuh. Mungkin ini lebih spesifik untuk teori PR yang aku pelajari di bangku kuliah. Dan hasilnya ketika diaplikasikan di lapangan : NOTHING! kita berdua kayak orang bodah dan linglung ketika si narasumber balik bertanya masalah teori yang kita pakai (aneh2 aja itu bapaknya). Dan akhirnya rencana riset kita gagal, dan gantinya kita seperti mendapat kuliah tambahan. ckckckckck.
Teori hmmmm. Sampai sekarang aku tidak terlalu perduli. Beberapa orang mengatakan teori itu penting . Tapi yah itu hanya pendapat. Semua bisa berpendapat. Hal yang jauh lebih penting bagiku adalah esensi dari teori itu. Kenapa ada teori itu? kenapa musti teori itu? kenapa teori a, b, c harus seperti itu? semua kembali ke pemaknaan. Just like our life, life goes smoothly if you know the meaning of our life. Easy yet simple!
TEORI????? HAJAR!!!!!
Kamis, 15 April 2010
Hello Bangsa Barbar !
Priok, 14 April 2010. Kawasan itu berubah seketika menjadi medan perang. Lupan emosi membahana di awang-awang langit Priok hari itu. Teriakan-teriakan warga merongrong di segala sudut yang ada. Bentrokan tak dapat lagi dihindari.
Satpoll PP, as we know, berusaha mengobrak-abrik segala "kotoran" di sekitar makam Mbah Priok. Tentu saja dengan arogansi mereka yang siap memecah emosi, siapapun itu yang melihatya. Mereka merangsek masuk ke wilayah sekitar Makam Mbah priok, yang termashur di tempat itu.
Sudah dapat ditebak dan diprediksi, juga seakan tidak pernah belajar dari pengalaman. Pembongkarang paksa yang selalu dilakukan Satpol PP, pada akhirnya memicu emosi warga sekitarnya. Cara mereka yang kasar dan terkesan seenaknya, meledakkan emosi warga. Sedetik kemudian, perang itu muncul.
Tidak perlu jauh-jauh meliput hingga ujung Timur Tengah untuk menyaksikan keganasan sesama manusia. Priok, bisa dijadikan alternatif hari itu. Semua saling hantam, saling pukul. Ironis melihatnya. Sesama bangsa Indonesia sangat bersemangat untuk menjatuhkan saudara sendiri. Jurang antara rakyat jelata dengan birokrat dan tangan panjangnya semakin dalam. Kerusuhan seakan menjadi tameng sebuah bentuk protes atau ketidaksetujuan "wong cilik" terhadap keputusan pemerintah. Segalan macam bentuk baku hantam terekam jelas di kamera (bahkan tanpa sensor). tayangan tersebut seakan membuat hati kita teriris-iris. Entah itu sengaja atau tidak.
Yang jelas, satu hal yang membuatku pribadi kecewa, ketika melihat saudara kita saling baku hantam. Tak ada rasa ampun ketika mereka saling berhadapan.
Dahulu, cara tersebut mungkin bisa jadi dibenarkan (walaupun dari sisi kemanusiaan saya tetap tidak setuju) dan mungkin bisa dianggap sesuatu yang heroik. Tapi ketika bangsa ini telah merdeka, apa yang akan didapat saat kedua pihak yang masih satu nenek moyang saling berseteru, saling berteriak satu sama lain, bahkan saling memaki. sangat barbar.
Sebenarnya, kerusuhan Priuk ini hanyalah bukti kecil sifat "barbar" orang Indonesia. Entah disebabkan faktor apa, namun semakin hari rakyat jelata semakin mudah tersulut emosinya. Tak salah jika menyebutnya dengan kata "barbar". Tidak ada pemikiran logis ketika akan melakukan atau menetapkan sebuah keputusan.
Satpoll PP, as we know, berusaha mengobrak-abrik segala "kotoran" di sekitar makam Mbah Priok. Tentu saja dengan arogansi mereka yang siap memecah emosi, siapapun itu yang melihatya. Mereka merangsek masuk ke wilayah sekitar Makam Mbah priok, yang termashur di tempat itu.
Sudah dapat ditebak dan diprediksi, juga seakan tidak pernah belajar dari pengalaman. Pembongkarang paksa yang selalu dilakukan Satpol PP, pada akhirnya memicu emosi warga sekitarnya. Cara mereka yang kasar dan terkesan seenaknya, meledakkan emosi warga. Sedetik kemudian, perang itu muncul.
Tidak perlu jauh-jauh meliput hingga ujung Timur Tengah untuk menyaksikan keganasan sesama manusia. Priok, bisa dijadikan alternatif hari itu. Semua saling hantam, saling pukul. Ironis melihatnya. Sesama bangsa Indonesia sangat bersemangat untuk menjatuhkan saudara sendiri. Jurang antara rakyat jelata dengan birokrat dan tangan panjangnya semakin dalam. Kerusuhan seakan menjadi tameng sebuah bentuk protes atau ketidaksetujuan "wong cilik" terhadap keputusan pemerintah. Segalan macam bentuk baku hantam terekam jelas di kamera (bahkan tanpa sensor). tayangan tersebut seakan membuat hati kita teriris-iris. Entah itu sengaja atau tidak.
Yang jelas, satu hal yang membuatku pribadi kecewa, ketika melihat saudara kita saling baku hantam. Tak ada rasa ampun ketika mereka saling berhadapan.
Dahulu, cara tersebut mungkin bisa jadi dibenarkan (walaupun dari sisi kemanusiaan saya tetap tidak setuju) dan mungkin bisa dianggap sesuatu yang heroik. Tapi ketika bangsa ini telah merdeka, apa yang akan didapat saat kedua pihak yang masih satu nenek moyang saling berseteru, saling berteriak satu sama lain, bahkan saling memaki. sangat barbar.
Sebenarnya, kerusuhan Priuk ini hanyalah bukti kecil sifat "barbar" orang Indonesia. Entah disebabkan faktor apa, namun semakin hari rakyat jelata semakin mudah tersulut emosinya. Tak salah jika menyebutnya dengan kata "barbar". Tidak ada pemikiran logis ketika akan melakukan atau menetapkan sebuah keputusan.
Rabu, 07 April 2010
GORE GORE and GORE !!!!!

Sindrom yang aneh, kata-kata tersebut aku tujukan pada diriku sendiri. Kenapa sindrom aneh, karena -entah kenapa- akhir-akhir ini aku doyan banget bersama yang namanya film horor tapi bertemakan gore. Film horor seputaran tahayul sekarang sudah sangat biasa (baik lokal atau luar)dan aku sudah bosan kuadrat (kecuali emang ceritanya seru), film bertemakan atau bergenre gore sebenarnya juga sudah ada sejak dulu, namun aku baru "menyadari kenikmatannya" baru-baru ini.
Film gore sejatinya adalah film horor (lepas dari tema tahayul), namun lebih pada eksplorasi psychologycal disorder tentang sadisme atau sadistik. Berat mungkin penjelasan di atas, tapi intinya film-film sadis (dan selalu dilabel film DEWASA).
Tampilan paling sederhana ya adegan bunuh-bunuhan, inget film lawas Scream? dimana ada psikopat (yang selalu jadi pakem filmn beginian) membunuh pemuda-pemudi, itu ada unsur gore di dalamnya, namun kurang.
Mengapa kurang, adegan bunuh-bunuhnya kelewat sederhana. I mean, cuma ditusuk-ditusuk dan ditrusuk. Standar gore movies bisa dikatakan selevel SAW. Sekarang uda sampe franchise ke 7 nya. Gorenya selalu dapat. Kenapa dapet? karena ada "seni" ketika si musuh atau katakanlah si psikopat ngebunuh sasarannya. Dan syarat utama yang harus dan wajib ada di gore movies adalah keberadaan darah!. Darah adalah komponen yang sangat umum di genre ini. Tapi kadang unsur ini juga bisa mengaburkan sisi sadismenya. Penggunaan unsur daerah yang berlebihan akan membuat film genre ini menjadi membosankan, alurnya jadi gak jelas dan menenggelamkan cerita dari film itu sendiri. Atau penempatan yang nyeleneh akan membuat tampilan genre ini makin aneh juga (terjadi di film2 gore jepang). Kalau unsur ini kelewat dikit, efeknya ya itu jadi kurang seru.
Tapi ada lagi yang "kadang" disepelekan film-film gore. Entah niatnya mau mengumbar adegan berdarah-darah atau gimana, sotryline yang ada jadi gak begitu jelas dan tidak kreatif. Terbukti dengan beberapa film gore yang aku tonton mempunyai storyline yang pasaran. Latar belakang dendam, atau psikopat gila yang sedang berburu mangsa, menjadi panutan cerita di gore movies.
Bukan Indonesia namanya kalo tidak ngikutin tren, akhirnya ada juga sineas Indonesia yang bikin film bertema ini. Yap, film Rumah Dara (Macabre) besutan Mo Brothers, menurutku cukup berhasil mempresentasikan kesan gore di filmnya. Walaupun masih ada kekurangan di sana-sini, tapi jujur aku cukup puas, karena tastenya bakal beda kalo nonton film lokal sama film barat. Banyak adegan seru dan lumayan sadis di sini (dan entah kenapa aku sangat suka bagian sadis itu hehe...). Sebelum Rumah Dara sebenarnya ada film-film seperti Kala dan Pintu Terlarang (Joko Anwar) yang juga memasukkan unsur gore di dalamnya, namun tidak seintens di film Rumah Dara.
Mungkin ini beberapa referensi film-film gore yang bisa dilihat : Saw (1-VII), Grotesque (Jepang), Affair (Indonesia), Hostel, Wrong Turn, The Hills Have Eyes (1-2), Art of the Devil 1-3 (ada unsur tahayulnya tapi sadis gila/Thai), Meat Grinder (Thai), Dara (film pendek di antologi Takut) dll.
Have a Bloody Day people!
Langganan:
Postingan (Atom)
