Kamis, 06 September 2012

Review : Cabin in the Woods


Bro, udah nonton Cabin In The Woods dong Bro. Keren Bro..

Ya jujur, niatnya mau review, tapi kok bingung. Bukan karena jelek, tapi karena keren (oke ini personal, tapi I LOVE THIS ONE!). Dulu sempet ada gosip katanya film ini rada mirip Modul Anomali-nya Joko Anwar yang njelimet itu. Pas nonton, lah samanya dimana? semua beda kecuali keberadaan "cabin in the woods" atau gubuk kayu di hutan ini. Lupakan Modus Anomali dulu, yang ya keren sih, tapi rada jauh kalo dibadingin Pintu Terlarang. Cabin In The Woods, menawarkan sesuatu yang berbeda.

Memasuki menit pertama saja saya sudah dibikin heran, lah ini film horor macam apa??? (berusaha keras buat gak ngasih spoiler). Oke kasih sinopsis dikit, jadi formula awal film ini adalah tipikal film slasher nanggung a la Holywood (iye nanggung, yang pas slasher buatan Eropa, yang lebay Asia punya). Sekelompok remaja, liburan ke tempat terpencil (hutan) dan mereka gak tau kalo dengan datang ke sana sama saja dengan menyerahkan nyawa. Formasinya juga udah khas, si cewek pecun, si cewek alim, si cowok atlet, si cowok geek, si cowok rada goblok tapi kadang pinter. Bisa ditebak heroine di film ini? ya jelas isi cewek alim. 

Abis itu ya langsung aja tebak-tebak buah manggis siapa yang mati duluan, dan matinya kenapa. Karena udah biasa liat film beinian, jadi urutan tidak terlalu penting ya, yang lebih penting adalah cara mereka mati (psikiater mana psikiater?) sampe di sini semua masih berjalan dengan "baik". Tapi sisanya adalah kampret total. Kampret in a good way (iki piye, kampret kok good way)

Ah bener dah. Ini adalah mimpi indah bagi seluruh penggemar fanatik film horor. Gak perlu repot-repot nebak twist kayak di Scream 4 atau Modus Anomali (lagi), udah duduk manis, anteng, liat baik-baik, nikmati setiap darah yang muncrat, dan yah itu nikmatin aja. Belom pernah ngerasa se-fun ini liat film horror. Ide ceritanya bangsat bener walaupun gak bener-bener baru. Drew Goddard dan Joss Whedon beneran gila, ngasih bentuk khayalan baru akan cerita horor. Dan sampe sekarang masih heran itu kenapa IMDB cuman ngasih nilai 7.4? buat saya ini 9.0 Yah hampir sempurnalah hahaha!

*oiya, personally, saya juga suka banget poster film ini yang rumah "diacak-acak" kayak rubic itu. Bener-bener mendeskripsikan film ini dengan baik. Ntar kalo udah nonton juga ngerti. 

Kamis, 23 Agustus 2012

Mudik

gambar dari sini

Another post about mudik, yeay!

Sepertinya lebaran ini memang banyak kean-kesan ya, sampai banyak yang bikin postingan tentang mudik. Pengalaman tentang stuck terjebak di kemacetan berjam-jam, atau perubahan -pemandangan selama mudik dari tahun ke tahun. Semua menarik.

Saya sebenarnya tidak punya cerita khusus tentang mudik. Mungkin yang paling mendekati kata mudik adalah bertandang ke rumah saudara di Sragen yang bisa ditempuh naik dengan naik motor selama satu jam perjalanan. Atau di hari kedua, konvoy naik motor sekeluarga menuju tempat pertemuan keluarga besar di hari kedua, yang hanya diseputaran Soloraya. Tapi itu belum cukup mudik bagi saya.

Jadilah mudik disini adalah sebuah doa, bukan kegiatan perjalanan dari kota ke desa dan lain-lain. Mudik masih sebatas harapan. Lebaran kemarin adalah lebaran saya ke 23, yang berjalan itu-itu saja. Satu bulan puasa, dilengkapi beberapa kali buka bersama di luar. Menjelang Idul Fitri rumah sibuk masak-masak dan sebagainya. Saya bosan. Saya gak bisa ngapa-ngapain selain itu.

Setelah akhirnya saya lulus sarjana (dan September besok wisuda... akhirnya!) saya selipkan satu doa khusus, untuk saya sendiri. Lebaran tahun depan supaya saya bisa mudik. Cetek? gak juga sih.

Bagi saya mudik bukan hanya sebatas perjalanan jauh dan terjebak kemacetan berjam-jam. Mudik bukan hanya pamer gadget di hadapan sodara-sodara pas pertemuan keluarga besar (yang jadi korban pamer mana suaranya???) bukan cuma buat ajang kangen-kangenan walaupun itu wajib. Mudik bagi saya adalah memberi kabar baik. Dan itu bukan main-main.

Dengan mudik, setidaknya saya memberi kabar baik bahwa saya sehat sejahtera. Implikasinya bukan hanya pada orang yang mudik, tapi juga pada orang yang ditinggalkan. Saya ingin ngeliat senyum orangtua ketika dengan menerima kabar baik tersebut, anak-anak mereka, generasi mereka, keturunan mereka atau bahkan mereka sendiri, mempunyai harapan untuk hidup lebih baik. Klise, tapi penting. 

Maka bersyukurlah bagi kalian yang bisa mudik dan bisa memberi kabar baik ke keluarga. Semoga saya bisa melakukannya tahun depan :)

Rabu, 15 Agustus 2012

Sotoy Mode: Ngebahas Iklan Ramadan :)

Selama bulan puasa, apa aja sih yang biasa nongol di tv?
dari sinetron religi (disebut religi mungkin karena tokoh utama pake jilbab, kontennya mah hampir semua bap... *sinyal ilang), acara khotbah dadakan, adzan maghrib yang selalu dinanti, acara sahur dengan guyon kasarnya, drama reality, kuis dadakan dan...... iklan edisi puasa.

Yang terakhir ini yang kadang mencuri perhatian. Biasanya banyak produk, dari provider, rokok, sirup (YES, INI PALING DISTURBING), dan banyak lagi yang berlomba ngiklanin produknya di bulan ramadhan. Secara bungkusnya tentu saja, dipercantik dengan sentuhan religi. Dari sekedar kostum, atau jalan cerita iklan yang terkesan jadi khotbah dadakan. Beberapa iklan dibuat berseri, biasanya hadir di awal puasa (bahkan sebelum puasa untuk teasernya) dan ditutup ketika menjelang lebaran.

*jadi mari mulai analisis ngehe ini

Ada beberapa produk yang rajin tampil di bulan puaa. Untuk food and beverages, semuanya hampir sama. Klise. Paling juara (secara artistik, setidaknya dibuktikan dari tingkat frekuensi "menelan ludah" ketika melihatnya) dipegang sirup Marjan Boundon. Ya gimana gak ngeces itu ngeliat sirup bercampur es buah dengan angle cantik dishoot berulang-ulang di siang hari. Tahun ini formulanya sama, ada dua bagian. Gak ngerti versi resminya namanya apa, tapi ceritanya tentang persaingan bocah-bocah di lomba dayung. Yang menang dapet sirup. Klise. Yah, jujur, gak terlalu tertarik dengan ceritanya, tapi visual sirup tumpah ruah di atas es, masih megang.

Yang kedua, biasanya mie instan. Yah, standar semua sih. nothing special.

Lalu ada iklan korporat. Ada beberapa tahun ini seperti Pertamina, Djarum dan sebagainya. Secara umum isinya sama, mengajarkan kebaikan, ketulusan dan lainnya.Dulu, Djarum (menurut saya) salah satu juaranya di persaingan iklan korporat. Saya gak tahu persis nama versinya apa, tapi iklan itu kuat banget karena lantunan lagu Ebiet G. Ade, yang emang powerfull. Selain itu jalan ceritanya yang sederhana juga ditampilkan secara wajar nggak lebay. Tapi ya itu, Djarum (eh agensinya ding) kok kayaknya cuman mengulang cerita aja ya. Kali ini tentang mahasiswa yang kuyup kehujanan yang pengen belajar (atau baca buku) di toko buku, tapi gak dibolehin si empunya. Endingnya bisa ditebak, istri si empunya sakit, dan dokternya ya si mahasiswa itu tadi. Standar dan kayak mendaur ulang cerita-cerita yang udah ada. Ini mungkin masih mending (ya setidaknya ada twist si mahasiswa itu ternyata mahasiswa kedokteran :D), untuk iklan korproat Pertamina malah mirip sama iklan Djarum yang pake backsound Ebiet G Ade tadi. Settingnya sawh, bapak petani keriput dan sebagainya. Yah gitu deh, semuanya kayak kejebak klise, kejahatan dibalas kebaikan.

Nah yang seru biasanya iklan provider. Dari banyak provider yang malang melintang menawarkan promo lebaynya di bulan ramadan, tiga provider yang menurut saya menarik perhatian. Yang pertama iklan XL. Pake style berseri (udah dimulai sebelum puasa, versi audisi idol). Entah kenapa, tapi jingle Rocker Juga Manusia-nya Serius yang jadi andalan utama kok kurang menggigit. Kesannya ketinggalan jaman banget. Pemeran utamanya mas-mas rocker juga kurang greget. Kentang banget aksinya (and yes, teriakan rocker juga manusianya udah sampe taraf ganggu). yang masuk edisi Ramadan yang versi ceramah sama edisi konser yatim piatu (mungkin pas lebaran nanti ada lagi). Gampang dilupakan.

Yang kedua, iklan Axis. Setelah tahun kemarin mencuri perhatian lewat karakter ikonik Joni Blak-blakan (serius ini seri yang kcak, walaupun endingnya gak kena) kali ini kembali memunculkan ikon baru yakni si...... Hap. Cowok gendut yang bisa menangkap apa saha, cita-citanya jadi penjaga gawang. Pertama kali muncul, saya sama sekali gak ngerti ini iklan maksudnya apa, dan si Hap ini kenapa? atau ngapain? baru setelah dengerin bener-bener isi iklannya lagi berkata... ohh. Ya walaupun agak maksa antara konten iklan dan kreatifnya, tapi setidaknya penampilan orang gendut berpakaian ungu ketat itu lumayan bisa diingat. Meskipun kalau dibandingin si Joni, si Hap ini kurang karismatik dan kurang ikonik. Oiya, paling juara adalah jinglenya yang dinyanyiin The Changcuters. Hap..haaap...hap..haaap...tangkap!...tangkap!. Oiya, ada yang inget promonya iklan Axis apa?

Satu ini mungkin yang banyak dibicarakan. Meskipun mungkin bukan iklan yang khusus dibuat untuk edisi Ramadan. Iklan provider Tri. Iklannya simpel, ada dua versi, berbicara mengenai konsep bebas. Secara konten ini mengena, karena yang dibahas adalah masalah yang lekat dengan sehari-hari, yakni "pilihan" untuk bebas. Menariknya juga karena ada sisi ceweknya di sini. Gender main disini. Audiens wanita seperti terwakili di sini. Copynya juga menarik. Dimulai dengan "kebebasan itu...." lalu ada permainan kata-kata tentang konsep bebas. Menarik (bahkan ada teman di facebook yang memperdebatkan kata-kata "bebas itu..." yang katanya ngajarin jelek :D). Selain itu visualisasinya enarik, modern dengan soft focus dimana-mana (ini murni sotoy), ditutup dengan dramatis. Versi cewe dengan adegan pemerannya meluk seseorang, versi cowok dianya ngeboncengin cewek, dan ikut konvoy seketika fokus mulai berpendar dan cahaya lampu berubah jadi light bulp yang keren. Penjelasan promo juga dibuat singkat lugas dan gak bertele-tele. Promo Always On cukup terlihat dan bisa dipahami. Secara garis besar, saya pribadi suka dengan ide ceritanya.

nah sekian dulu dengan analisis iklan ngehe saya. Semua yang ditulis di atas murni kesotoyan pribadi. Jangan langsung percaya atau bahkan jadi pedoman. Yang jelas iklan-iklan di Indonesia makin gila kreatifnya. Salut buat orang-orang agensi yang bisa bikin iklan super kreatif (and yes, it triggering me to join them as an ad man). Hidup Iklan Indonesia!
 


Sabtu, 11 Agustus 2012

Toko Nostalgia

Dalam Midnight In Paris, Gil Pender secara ajaib bertemu dengan maestro sastra dan seniman di dunia. Sebut saja Hemmingway, Fitzgerald, Pablo Picasso, Dali dan banyak lainnya. Ketika bertemu mereka, ada obrolan menarik di dalamnya. Salah satunya tentang  cerita dimana Gil ternyata seorang penulis novel (insecure) yang gak pede dengan novelnya sendiri. Saya gak pernah tahu bagaimana isi novel itu, bahkan judul finalnya. Namun dalam satu dialog, novel Gil (melalui tunangannya) bercerita tentang seorang pria yang bekerja di toko nostalgia. Apa itu toko nostalgia? kedengerannya menarik, sekilas menggambarkan toko antik, tapi sebetlunya lebih dari sekedar toko antik. Toko memoria.

Beberapa waktu yang lalu, di sela liputan di acara Maleman Sriwedari, entahlah mungkin ini perasaan saya saja, saya seperti memasuki toko nostalgia, yang dinovelkan Gil Pender. Tentunya yang saya maksud bukan stand teh gopek, burger kekinian atau orang jualan kelinci di dalamnya.Spot yang saya maksud tentu saja adalah toko penjual mainan klasik, seperti kicir-kicir, jaran kepang dan beragam mainan usang yang sudah berdebu.

Kios mainan itu tak bernama, hanya buka gerai depan saja. Lokasinya terletak persis di sebelah toko penjual sandal crocs palsu yang diserbu pengunjung karena taktik marketing mereka (beli 1 dapet 1). Kios itu buka, namun seperti tidak berpenghuni. Jangankan pengunjung, si penjualnya malah terduduk santai melihat tayangan televisi.

Saya kemudian berlalu, menjelajahi pasar malam yang katanya disebut sebagai pesta rakyat pertama dikota Solo,jauh sebelum Sekaten diadakan ini. Sriwedari memang tempat nostalgia bagi sebagian orang yang sulit meninggalkan masa lalunya. Ada kira-kira lima sampai tujuh toko serupa, toko nostalgia seperti di atas. hanya saja, kali ini tertata lebih rapi. Mainan seperti celengan batok kelapa (eh ini mainan gak ya?), kapal korek, becak-becakan, pecut-pecutan (dunno, sejak menginjak umur 23 tahun, pecut sounds wrong in me :p) dan sebagainya ditata serapi mungkin di atas rak.

Saya salut, salut sekali dengan mereka, para penjual barang-barang nostalgia. Saya salut dengan kesetiaan mereka. Ini bukan masalah sepele move on atau gak move on dari masa lalu. Tapi ini adalah masalah kesetiaan dengan hal yang dulu mampu membuat mereka dan orang-orang yang pernah memainkannya, merasa senang. Mereka seakan tidak peduli dengan hingar bingar dunia di luar sana. Mereka masih menjual,mengharapkan orang-orang yang sedang ingin bernostalgia, atau berbagi nostalgia dengan anak-anaknya untuk membeli dagangan mereka. Walaupun sebenarnya rada miris, deretan toko nostalgia tersebut harus tertutup stand makanan atau dealer motor gak penting lainnya. Mereka tetap sabar menunggu.

Everyone deserve to be happy. But not in the same way. For some people, stuck in their nostalgic stuff is like the only way to make a happiness. Nyatanya, gak semuanya, terjebak nostalgia, itu menyakitkan.

Dan untuk orang yang merasa senang dengan terjebak di dalam nostalgia,apakah mereka tertekan dengan waktu yang terus berjalan?

Rabu, 25 Juli 2012

Twitter + Indonesia = Hiburan Seru

Twitter semakin menarik. Ibarat film pasti multigenre (@nandabagus, 23 Juli 2012)

Nampaknya platform media soial satu ini semakin melonjak namanya di Indonesia. Semua serba ala twitter. Dulu bahkan ketika facebook mencuat, dampaknya tidak sehebat twitter. Ya gamangnya lihat saja sekarang di media massa, terutama televisi. Semua acara kini memajang nama akun twitter mereka, tidak berhenti di situ, mereka juga memunculkan nama akun twitter para host, bintang tamu, bahkan kru acara tersebut!. Dari situ saja sebenarnya memang sudah kelihata kalau twitter udah dianggap penting bagi banyak kalangan. Atau seakan trending topic adalah segalanya (yeah, I'm talking about Indonesian Idol).

Lalu dimana menariknya? bukan, bukan terus mengikuti akun twitter artis yang suka nongol di televisi yang isinya cuman kata "hai" atau "terima kasih" sama para followernya (diretweet pula). Twitter gak selebar daun kelor, banyak yang bisa dieksplor di sini.

Mau sebuah drama? paling gampang lihat saja akun teman atau kerabat, yang lagi mesra di twitter. Atau yang ceritanya lagi berantem terus salah satu ngetweet (atau meretweet) quote romantis atau tentang hubungan lewat akun anonim. Tentu saja dibubuhi senjata drama mereka : #nomention (padahal ya jelas lagi nyindirnya ke siapa) itu aja? belum, masih banyak, dan mungkin akan berbuntut panjang ketika udah masuk ranah privat atau... DM. Dan drama juga gak melulu masalah cinta-cintaan, banyak, masalah temen, tugas, semua menimbulkan ribuan keluh kesah dan disusun dalam kata-kata apik sebanyak 140 karakter seara berkali-kali. Bagi saya itu drama.

Kurang? thriller? ini juga ada, namun munculnya ketika memang ada kejadian nyata yang sedang mengalami sesuatu yang menegangkan, dan ditweet secara berurutan seperti lagi bercerita. Inget kasus penangkapan palsu oleh polisi yang menyelipkan narkoba ke salah satu korban, lantas si korban "bercerita" lewat akun pribadinya? baca saja secara runtut, dan ercayalah, ada unsur suspense (ketegangan) di dalamnya. Menelisik tweet demi tweet (maaf, istilah kata demi kata rasaya ketinggalan jaman di sini) dan tanpa sadar cerita itu sendiri mebentuk twist di kepala kita dan berakhir dengan opini di mbenak masing-masing. Ada juga dulu yang becerita kalau dirinya melihat pembunuhan (atau penusukan) di KRL ekonomi. Mungkin unsur thrill kayak gini memang banyak terjadi, tapi gak semua orang bisa menuliskannya dengan baik di twitter (serius, pemilihan diksi itu penting). Hanya akun yang memang pintar mengolah kata
(secara wajar tentunya) yang bisa membuat pembaca pensaran, deg-degan dan sebagainya.

Horor? hantu-hantuan? saya sendiri kurang tahu apakah memetwit sekarang ini sudah tidak eksis lagi (soalnya rada jarang juga). Tapi memang ada beberapa akun yang rajin memetwit. Ini juga seru dan kadang kalau ceritanya menarik dan serem bisa bikin merinding juga. Memewit ini biasanya muncul di malam jumat. Pertanyaan saya, ini orang luar apa juga bikin memetwit kayak di Indonesia? atau twiter bagi mereka murni hanyalah sebuah sosial media? kalau iya, banggalah jadi orang Indonesia. We are creatuve people!

Komedi? ah banyak sekali ini mah. Ikutin aja mainan hastag yang kadang dimainin akun tertentu. Atau banyak akun seperti @autocorrects atau @9gag, yang kadang isinya lelucon sarkasme. Atau versi anak muda? banyak noh si ladak ampe pocong (masih lucu gak? udah gak follow lagi soalnya). Pinter-pinter milih orang yang mau difollow aja. Atau ya paling mudah, mungkin ada yang temen yang punya stok tweet lucu dan menghibur? nah itu mungkin masuk komedi.

Dan mungkin hiburan yang paling hot akhir-akhir ini adalah obrolan politik yang kini makin mencuat di twitter. Contoh konkritnya adalah Pilgub DKI ini. Banyak sekali yang bisa dibahas. Dari mulai opini tiap orang terhadap calon-calonnya, praktisi iklan yang geser jadi konsultan cagub (dan membuat saya malas follow dia lagi) sampai obrolan black campaign. Yang seru nih, silakan simak akun @triomacan2000. Yang belum tahu (kemana aja?) akun tersebut isinya mengungkap kebrobokan dunia politik di Indonesia, ya tentang korupsi, skandal politikus-politikus terkenal dan lainnya. Dan dalam tweetnya selalu disertakan data-data yang terlihat meyakinkan. Nah, beberapa hari ini akun macan milenium ini mendapat rivalnya. Di Sini, twitter mulai makin seru.

Sederhana saja rivalnya (beberapa akun seperti @kurawa yang notabene adalah akun pribadi, sedangkan si macan akun anonim karena make nama samaran, gak berani tampil di depan publik) ngetweet bahwa si macan ini bohong dan mengada-ada, dan dia menuliskan beberapa tweet tandingan (dalam hal ini si macan berkoar-koar tentang kebobrokan si Ahok dalam kultwit super panjang dan si kurawa ini juga kultwit tentang ahok namun kontra dengan isi kultwitnya si macan). Dan pada akhirnya banyak yang menduga si macan ini cuman sebuah buzzer yang disewa pihak tertentu untuk menjatuhkan pihak lain. Bermodal jumlah follower yang banyak, memang si macan ini bisa dengan mudahnya membentuk opini publik dengan kultwitnya. Nah mungkin karena banyak juga yang heran dengan akun ini (yang anonim dan gak mau disebutkan pemegang akun aslinya) dan cemas juga karena selalu menimbulkan persepsi negatif ke sosok yang diserang, makanya ada beberapa pihak yang coba "membongkar" si macan ini. Buzzer atau bukan, itu memang masih dugaan, tapi saya amati sih si macan rada kepleset di sini.

Jadi, memang terlihat kalau twitter itu terkadang lebih menghibur daripada media massa lain yang berusaha setengah mati untuk menghibur. Terkadang komentar antar suporter bola di twitter lebih seru disimak daripada pertandingan bolanya. Tapi hiburan itu ada dimana, kitalah yang mencarinya. Dan embel-embel "+ Indonesia" itu semata-mata karena banyak hal di Indonesia yang bisa diangkat di twitter dan (tentu saja) menjadi hiburan seru.

Nah sekarang saya mau nyimak timeline dulu deh, siapa tau ada hiburan.

bye!      

Selasa, 03 Juli 2012

kenalan

Kalau boleh jujur, ada satu hal yang paling membuat saya canggung. Kenalan dengan orang baru.

Hey, it’s nice to know somebody new

Ya, emang sih, tapi ketika hal itu membuat jantung berdegup dua kali lebih kencang, mungkin jawabannya sedikit berbeda. Saya memasukkan sifat saya yang ini dalam kategori weakness untuk slot SWOT saya. Padahal, berkenalan sebenarnya hal yang sederhana. Dengan berkenalan, satu sama lain dapat mengerti identitas masing-masing. Menukar nama, nomor telepon, ngobrol basa-basi biar gak terlalu garing dan sebagainya.

Saya coba merunut apa yang terjadi ketika saya kecil, karena saya masih percaya, semua yang terjadi sekarang ini ada hubungan kuat dengan aspek historis. Dan saya menemukannya.

Sebagai anak ragil, sejak kecil saya seperti dititahkan untuk menjadi anak super penurut. Untuk hal-hal sepele seperti nonton channel tv, berbagi mainan dan sebagainya, walaupun punya kadar ngeyel tapi itu sangat rendah. Selebihnya saya patuh, nurut dan endingnya nrimo. Pun dengan hal baru. Saya boleh mencoba jika kira-kira saya dapat ijin. Dan kebanyakan gak dapet ijin (bahkan ketika makan bareng keluarga besar, saya cuma diperbolehkan pesen teh anget, padahal pengennya sih ini itu). Katanya biar gak sakit flu. Dan itu terjadi untuk hal baru selanjutnya. Semua serba tergantung dengan restu orangtua. Dan ketika tiba masa orangtua “melepaskan” anaknya, seringkali ada rasa takut, tidak pede dan lain sebagainya, terselip di benak sang anak karena tidak mendapat legitimasi dari orang yang menurutnya paling bisa dipercaya. Singkatnya, si anak jadi mudah ragu-ragu. Gampang insecure kalo di jaman sekarang.

Pun dengan saya. Lingkungan baru (termasuk dengan orang-orang di dalamnya) jelas masuk definisi hal-hal baru. Seperti di lingkungan kerja atau kuliah. Saya harus memaksa diri untuk bisa berkenalan dengan orang lain. Mengacuhkan rasa malas, menanggalkan rasa gengsi dan sebaginya. Ada waktu ketika saya tersadar akan hal ini, yakni pas masuk kuliah. Saya berjanji untuk lebih “awor” “gaul” atau istilah-istilah lainnya. Sebenarnya gak ada masalah karena teman kuliah bisa ketemu setiap hari, dan secara naluriah emang harus kenal kan. Tantangannya adalah kesibukan di luar kuliah, orang baru di luar hal akademis. Jadilah saya ikut-ikut UKM. Meski pada tahun pertama saya cuman bisa bengong atau senyum dikit ketika diajak bercanda. Saya juga mencoba-coba mendaftar suatu komunitas, yang sering ada kopdarnya. tapi ternyata juga saya gak pernah dateng kopdarnya.

Sekarang perasaan takut berkenalan dengan orangbaru berubah menjadi perasaan canggung (atau dulu canggung sekarang takut?). Mungkin banyak yang merasakan.Contohnya, terjadi ketika sehabis liputan kemarin, para wartawan berkumpul untuk makan bareng. Pertama rasanya enggan campur males (terlebih dengan adanya sosial media, tempat pelarian paling hip sedunia). Harus ada yang mancing untuk kenalan dulu baru deh rasanya canggungnya mulai lumer. Ketika udah ngobrol padahal juga semuanya biasa aja. Yakin, bukan cuman saya yang ngalamin kayak gini, tapi hal macem ini sudah mencapai taraf mengganggu.
 
Di era yang katanya “IP mah gak usah tinggi-tinggi, yang penting koneksi dimana-mana”, berkenalan dengan orang baru sudah pasti jadi bagian di dalamnya. Dan seakan-akan hal itu sekarang menjadi masalah serius di mata saya. Menaklukan rasa takut dan canggung, meninggalkan rasa malas dan gengsi, tapi memang harus dijalani. 

Kan, cuman masalah kenalan aja bisa nyampah posting segini panjangnyanya, kumat dramanya.

Extremely loud and Incredibly Close: Sejauh mana kamu akan terus mencari? Sejauh mana keberanianmu?


Salah satu pembangun unsur human interest dalam sebuah cerita adalah umur. Tua dan muda, adalah hal yang menarik untuk disimak. Tidak hanya dalam sebuah berita, namun di film. Anak-anak selalu memiliki daya magis tersendiri dalam sebuah penceritaan, begitu juga dengan orang tua. Daya tersendiri dalam menggerakkan sisi emosional dari diri kita. Terlebih bila dihadirkan melalui film drama.

Setelah beberapa bulan yang lalu hati saya “dihangatkan” oleh cerita orang-orang yang berumur senja melalui “Another Year”, kali ini saya kembali “dihangatkan” melalui karakter anak kecil di “Extremely Loud and Incredibly Close”. Jelas, ini bukan pertama kalinya kisah yang lekat dengan “kehebatan” anak-anak divisualisasikan melalui film. Beberapa hadir dengan luar biasa seperti Hugo, August Rush, Children of Heaven dan masih banyak lagi. Film ini juga menyajikan pengalaman menarik, mengharukan dan tentu saja bernilai bagi penontonnya.

Kisah yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Jonathan Safran Foer, berlatar belakang peristiwa 9/11, film ini menceritakan bocah hebat bernama Oskar Schell (Thomas Horn), putera dari Thomas Schell (Tom Hanks) dan Linda Schell (Sandra Bullock). Oskar, merupakan anak yang tidak biasa. Ia adalah anak yang selalu penasaran, teliti dan gigih. Tapi dirinya memiliki satu kekurangan keberanian dalam hal benda-benda yang dianggapnya berbahaya dan beresiko. Semuanya bertambah buruk ketika ayahnya menjadi korban peristiwa 9/11.  Oskar menjadi penakut terlebih dengan benda yang bergerak.
Setahun setelah kematian ayahnya, Oskar tek sengaja menemukan kunci dengan label black di wadahnya. Mendapati itu sebuah tanda dari ayahnya, Oskar kemudian mencari tahu ada apa di balik kunci itu. Gembok seperti apa yang bisa dibuka dari kunci itu dan apa isinya. Siapa tahu dengan mencari tahu ada apa di balik gembok, dia bisa mendapati – 8 menit bersama ayahnya-. Dan nyatanya, yang ia temukan lebih dari 8 menit bersama ayahnya. Lebih dari itu.

Film ini mengajarkan tentang keberanian, kegigihan serta makna keyakinan tampa harus menggurui. Adegan tiap adegan mengalir dengan maknanya masing-masing, tanpa memberi bentuk wejangan ala Mario Teguh (eh, masih eksis kan dia?). semuanya tersampul rapi dalam balutan adegan berdurasi 2 jam ini. Memang cukup panjang, tapi tidak akan sia-sia. Dengan alur bolak-balik, film ini mampu menghadirkan seluruh kisahnya dengan komplit, tanpa tanda tanya dibelakangnya.

Dukungan Tom Hanks sebagai ayah yang baik dan dekat dengan anak semata wayang tidak sia-sia. Begitu juga dengan Sandra Bullock, perannya sebagai istri sekaligus ibu yang rapuh (tapi harus tegar) juga pas, tidak berlebihan, malah justru menarik simpati. Tapi harus diakui, yang paling brilian adalah Thomas Horn, aktingnya memang juara. Ekspresi keyakinannya, ketakutan, kebingungan ditampilkan apik. Meski saya bukan expert masalah film atau kritikus film kelas wahid, tapi kehadiran Thomas ini sangat vital dalam membangun cerita.

Tentu saja, Thomas disini juga didukung oleh arahan sutradara Steven Daldry Dan naskah yang cemerlang dari Eric Roth kata-kata yang indah namun terasa lugas, mengalir lancar dari ucapan Oskar. Pun dengan jalan ceritanya. Alih-alih membahas peristiwa 9/11, sutradara Daldry malah mengisahkan peristiwa keluarga kecil dibalik serangan itu. Walaupun, ya menurut saya penyeleseiannya masih kurang berasa nendang, dan ada beberapa bagian yang sebenarnya tidak perlu disampaikan, secara keseluruhan ini film drama keluarga yang bagus.

Assembling your emotion yet motivate us to not stop looking. Brillian.