Selasa, 23 Oktober 2012

Here it comes, The Jungle!

So here I am, fresh graduate universitas terkemuka di kota saya sendiri (kalau Indonesia kayaknya belum, tapi katanya menuju puncak gemilang cahaya bersama Akademi fantasi sih) kini sedang dalam fase menjadi seorang Jobseeker. Apakah cuma saya sendiri? oh tentu tidak, banyak (banget) di luar sana punya titel baru ini. Dalam seketika, euforia enaknya jadi sarjana menguap sudah.

Istilah "Tuhan memang suka bercanda" ternyata benar. Saya merasakan Tuhan sedang sedikit bercanda dengan saya ketika melihat ratusan orang ngantre masuk sebuah ruangan besar (dan antreannya hampir melingkari separuh gedung itu sendiri) untuk memasuki perhelatan akbar disebut: "Jobfair".

Memang bukan kali pertama ke jobfair, tapi ini yang paling masif. Mau tidak mau, saya ikut berubah menjadi pasukan cendol manusia yang terus merangsek ke dalam ruangan. Banyak yang udah rapi, wangi, bersih, oke (untuk beberapa kasus banyak yang dress up sedemikian rupa) dan ketika masuk ruangan semuanya luntur. Saya sudah tidak bisa memperdulikan lagi siapa saja disana, siapa yang cakep, siapa yang jahil nyolek pantat orang (if you the one who did this, please, bertobatlah).

Dan ketika di tengah keramaian gila itu, saya berpikir satu hal: THIS IS THE JUNGLE.

Semuanya macam singa kelaparan yang rebutan daging di setiap booth perusahaan. Saya adalah salah satunya. Ikutan mengantri, sambil sesekali menelap peluh, ribet dengan berkas sendiri, dari satu booth ke booth lainnya, belum termasuk kalo perusahaan rada rese dengan langsung ngasih tes, hari itu juga, di luar area jobfair (di sini kampus UGM) yang jauhnya amit-amit (true story). But hey, that was the point. This kind of jungle, what's you expect? If you want the job, do the job.

Dan akhirnya saya hanya apply 5 perusahaan (dari 51 perusahaan yang pamer lowongan hari itu), dua diantara sudah tes dan ternyata tidak lolos. Haha, not my luck, or they just had their great loss (pede itu perlu). It is not easy as I thought. 

Jadi kalo ada yang ngeluh "I hate Monday" karena kudu masuk kerja lagi, mending resign aja gih. Tukeran sama saya. Itu aja sih.


Selasa, 25 September 2012

Mari Berlayar!

Masa kanak-kanak adalah mana yang paling indah, betul? kecuali untuk yang masa kecilnya tidak mengenal kotaro minami, saint seiya bahkan sailormoon mungkin, masa kecil adalah waktu yang sempurna. Sederhana saja, hakekat bahagia yang sebenarnya mudah ditemukan ketika masih anak-anak. Pun ketika dewasa, berapa kali kamu mengutuk harimu dan meminta bahkan berdoa supaya besok ketika pagi hari, kamu bisa kembali berada di jaman keemasan itu.

Endingnya, adalah usaha kabur sekejap, atau sweet escape, menuju keriaan jaman bocah dulu.

Banyak cara untuk bisa kembali ke masa itu, melepaskan realita kedewasaan hidup yang rumit. Baca komik, nonton anime kesayangan jaman SD, koleksi action figure, nostalgia dengan video game dan sebagainya. Sama seperti saya, cara kembali menjadi bocah cukup sederhana, download emulator PSX, lalu download lagi game jadul yang dulu belum sempat tamat mainnya, dan yah, you'll find the 10 yo of me. Tapi apa yang terjadi kalau udah bosen? padahal hasrat main belum juga habis.



Kemudian dari rentetan tweet yang berdesakan saya menemukan link soundcloud yang punya judul menarik, Banda Neira. Apaan ini? setelah googling (niat nih ceritanya, no oppense ya zul :D) Banda Neira sebenarnya adalah salah satu pulau di kepulauan Banda, Maluku. Cantik, seger dengan pantainya yang aduhai. Terus kenapa masuk soundcloud? Ini beda lagi, Banda Neira yang dimaksud adalah proyek band (duo sih lebih tepatnya) dari Rara Sekar (aktivis LSM Kontras) dan Ananda Badudu (wartawan Tempo). Proyek iseng yang berbuah keseriusan bermusik (cieh) begitulah kira-kira Banda Neira.

Saya gak ngerti banyak tentang musik, saya hanyalah penikmat musk dan seorang karokeanist (maksudnya doyan karokean gitu), tapi saya suka apa yang ditawarkan Banda Neira. Somehow sedikit mengingatkan Endah N Rhesa (pop akustik gitu CMIIW), tapi lebih ceria atau mungkin sedikit kekanakan. Kekanakan dalam arti positif, yang riang, melompat-lompat, ya seperti penggambaran masa kecil di atas, bahagia.

Mungkin saya sedikit berlebihan, tapi ya itu yang saya rasakan. Coba denger "Di Atas Kapal Kertas" yang terlintas dipikiran saya adalah ambil kertas, buat miniatur kapal (cuman ini yang saya bisa dari seni origami) lalu mencari sungai kecil yang jernih dan mengalir deras bersama teman sambil hujan-hujan. Dengan sederhananya mereka bisa membuat saya berpikir layaknya bocah umur 6 tahun. Liriknya dalem, panyampaiannya playful. Tidak perlu download game, gak perlu kotor-kotoran, dengan gambaran imajinasi dari Banda Neira, hasrat bocah terjaab sudah.

Tapi disana hujan
tiada berkesudahan
Tapi disana hujan turun membasahi semua sudut kota
Hapuska tiap jejak jalan pulang

Berangkat di atas kapal kertas
Menggantungkan haluan
menambal menyulam, menghindari karang
Berangkat di atas kapal kertas
bersandar ke layarnya
diantara suka, diantara duka

Jadi, mari kita mulai berlayar!

untuk link soundcloudnya + link download EP "Di Paruh Waktu" ada di sini

Kamis, 20 September 2012

Galau Tingkat Fresh Graduate

*sorry for the "cetek" title*

Waktu itu selalu terburu-buru. Setidaknya untuk pace hidup saya belakangan ini yang cenderung laid back. Belum ada sebulan saya menikmati rasanya menjadi seorang fresh graduate, tagihan lain sudah menanti. Memang tiga pertanyaan maut "kapan lulus?", "kapan kerja?" dan "kapan nikah?" harusnya dibuang jauh-jauh ke laut saja. Saya sedang dihadapkan di fase kedua. "Kapan kerja?"


Ya sebenarnya gak nganggur-nganggur amat ya. Saya cukup menikmati pekejaan serabutan sebagai jurnalis freelance untuk koran iklan di Solo. Tapi kayak mbak agnesmo bilang pas jadi juri idol-idolan, cukup itu gak cukup. Iya, bener juga. Di bidang yang -entah sampai saat ini saya ragu untuk mendalaminya lebih dalam atau tidak- pekerjaan ini memang gak cukup membuat saya untuk terus belajar. Kalau capek dengan paragraf di atas, intinya saya kudu punya kerjaan yang lebih nggenah. Bukan berarti pekerjaan saya ini nggak genah, tapi dari saya sendiri juga punya targetan yang lebih tinggi. Dan untuk hal ini, dunia semakin gencar mengejar saya.

Minggu kemarin, baru juga duduk setengah jam di depan jurusan (dalam rangka nunggu kemahasiswaan buka buat balikin toga) udah disambut "hangat" oleh kajur saya tercinta. Langsung ditanya "kok masih disini?" dilanjutkan dengan "gak ikut jobfair?". Sebenarnya sih itu tanggapan ramah tamah kepada naak didiknya yang udah lulus. Tapi kok ya saya nangkepnya seperti ini "ngapain disini, nyari kerja sana!". Ini belum termasuk gimana hebohnya emak babe di rumah loh ya. Little bit too much, tapi ya saya ngerasa bener sih, walau susah, move on dari pernak-pernik kampus itu perlu. Dan salah satu move on ya itu, dengan kerja.

Praktis kegiatan saya selama ini adalah bikin cv, bikin cover letter dan ritual wajib tiap pagi adalah: buka-buka web direktori lowongan kerja. Milih-milih, mana yang cocok, mana yang oke dan sebagainya. Kalau sampe disini, kadang jadinya malah pengen belajar lagi (yes, studying, literally). Dikit lagi aja deh. Ada alasan mendasar dan rada cetek sih, soalnya takut ntar pas kerja keliatan cengoh dan screw the whole job. Manusiawi sih kalo ada ketakutan tersebut, tapi rasanya saya butuh sedikit waktu untuk mempelajari semuanya, in case for minimizing my fear. But time is runing out, I still can study those things, tapi ya sambil jalan. Gak ada waktu buat leha-leha, selo-selonan lagi.

Masalah selanjutnya adalah, bawaan dari seorang mahasiswa. Pas jadi mahasiswa, yang namanya idealis itu kayaknya dipupuk sedemikian tinggi, sampe-sampe bisa membutakan realita. Beberapa kali ngobrol sama emen yang udah mentas duluan, saya lihat idealisme mereka tinggal secuil. Yang mereka kejar adalah realita ini: "gimana caranya supaya bisa tetep hidup, kerja, mapan dsb". Sekali lagi saya rada takut di sini. Dilematis, apalagi posisi saya sebagai anak ragil (not blaming, but it haunted me) sebagai orang yang paling diandalkan nantinya (silahkan artikan sendiri, yes). Beberapa sampe tahapan "menggadaikan" idealisme (atau emang gak punya yah?) demi realita hidup yang mengejarnya. It quite frightening for me.

Yang paling gongnya adalah tentang passion, yang masih berhubungan sama idealisme. Pernah bahas passion itu disini. Ada yang bilang, kerja kalo sesuai dengan passion itu enak, hidup jadi gak ngoyo. Tapi ada lagi yang berpendapat, kerja ya nyari duit, passion itu buat sampingan. Kalau passion udah jadi rutinitas (baca: pekerjaan) pasti ada titik jenuhnya, kalau  udah sampai titiik jenuh, kita mau lari kemana kalo gak ke passion kita? galau enough, isn't it?

Sadar gak sadar, saya udah masuk ke dunia baru. Kalau dipostingan sebelumnya saya analogikan sebagai game, ya disini saya kayak ngeklik "new game" dengan 0 exp, dan nyari quest (jadi lebih ke MMORPG ini idup saya). Ah, mungkin saya sendiri sih ya terlalu paranoid. Intinya? ya dijalanin aja tho ya...

Welcome to the new world, welcome to the real jungle, nanda!

Jumat, 07 September 2012

Bonus Chapter : Finale

Hidup, bagi saya mirip-mirip dengan kehidupan di game. Mulai ketika mentas jadi bayi, kita seolah menjadi satu karakter di dalam game anak yang sedehana. Kita belajar mengenal benda, mengingat nama dan sebagainya. Lalu lanjut tumbuh menjadi anak-anak umur sepuluh tahunan yang hidupnya sangat bewarna-warni. Mirip seperti petualangan Crash Bandicoot yang bewarna-warni, melompat kesana kemari dengan senyum cerianya yang lebar.

Memasuki smp atau sma mulai silakan memilih, sebagai anak manusia kita mulai diajarkan untuk memilih sikap, memasuki fase yang lebih kompleks dan cerita hidup yang mulai berkelak-kelok. Mirip sama game adventure tomb raider (regardless her boobs, that's adult material) yang mecahkan teka teki ini itu, dengan kekuatan cerita yang lebih serius. Atau bisa juga seperti Brave Fencer Musashi yang masih bernuansa warna-warni namun dengan perkembangan karakter yang berarti.

Dan masa kuliah, masa yang baru saja saya habiskan ini. Saya seperti kembali new game di salah satu game Jrpg. Masuk kuliah dengan kondisi benar-benar nol besar. Dilanjutkan naik tingkat atau level (semester) dan mulai mengerti dengan hal-hal baru, ilmu baru, namun juga dengan diiringi kompleksitas cerita hidup yang berkembang. Tiba pada penjurusan bener-bener seperti kita memilih job di Final Fantasy. Mau jadi jurnalis, video maker, praktisi iklan sama seperti mau jadi archer, khight atau mage. 

Kehidupan berjalan, dalam kasus saya saya bisa memilih tiga spesialisasi atau tiga job sekaligus. Namun pada akhirnya saya harus memilih mana yang ingin lebih saya perdalam. Tidak lupa, disamping itu, perkembangan masalah mulai lebih berat, muncul bumbu drama dimana-mana. Mini game atau quest juga muncul dan bisa jadi mempengaruhi cerita keseluruhan. At this point. it's all depends on your choice. Your wise.

Kalau boleh membagi, kuliah pun dibagi dalam beberapa chapter. Chapter finalnya tentu saja ketika diidentikkan dengan final boss-nya segala ujian. Yep, those kind of thesis, and finally I made it. Hahaha, my final boss was a professor, by the way. Tough one. But defeated in one hit kill (maksudnya, sekali ngadep revisi langsung di tanda tangan gitu :D)

And the rest, I name it with bonus chapter. Yah kalau di game ini semacam bagian tambahan setelah final bos dikalahin. Penekanan lebih ke dalam cerita. Sama dengan disini. Cerita saya, petualangan saya habis di sini. Dimulai dengan saya yang memakai jubah-hitam-aneh dengan highlight oranye pada samir dan topi berbentuk aneh juga. Toga. Finally I made it.

Seketika dalam satu hari, ingatan memori mengajak kilas balik di awal chapter kuliah ini. Semuanya. Untuk kemudian kembali tersadar, bahwa selanjutnya yang tersisa adalah credit title. Cerita saya di masa kuliah, ditutup ketika pak dekan memindahkan tali tiga dari kiri ke kanan. Selebihnya seperti ending Final fantasy VIII (ingat cuplikan adegan-adegan konyol di credit title?). Adegan foto-foto rusuh bersama teman, mengucap terima kasih, menerima kecupan selamat dari orang tua. Semua bergerak cepat seiring dengan credit title yang bergerak cepat pula.

Bonus chapter : Finale, selesai di sini.



Sekarang saya bagai kembali menjadi lakon anyar di game anyar. Yang lebih liar, dengan 0 exp, namun dengan sisipan gelar baru. Petualangan baru menanti saya. Bismillah....


*thanks @herkayanis buat fotonya


Kamis, 06 September 2012

Review : Cabin in the Woods


Bro, udah nonton Cabin In The Woods dong Bro. Keren Bro..

Ya jujur, niatnya mau review, tapi kok bingung. Bukan karena jelek, tapi karena keren (oke ini personal, tapi I LOVE THIS ONE!). Dulu sempet ada gosip katanya film ini rada mirip Modul Anomali-nya Joko Anwar yang njelimet itu. Pas nonton, lah samanya dimana? semua beda kecuali keberadaan "cabin in the woods" atau gubuk kayu di hutan ini. Lupakan Modus Anomali dulu, yang ya keren sih, tapi rada jauh kalo dibadingin Pintu Terlarang. Cabin In The Woods, menawarkan sesuatu yang berbeda.

Memasuki menit pertama saja saya sudah dibikin heran, lah ini film horor macam apa??? (berusaha keras buat gak ngasih spoiler). Oke kasih sinopsis dikit, jadi formula awal film ini adalah tipikal film slasher nanggung a la Holywood (iye nanggung, yang pas slasher buatan Eropa, yang lebay Asia punya). Sekelompok remaja, liburan ke tempat terpencil (hutan) dan mereka gak tau kalo dengan datang ke sana sama saja dengan menyerahkan nyawa. Formasinya juga udah khas, si cewek pecun, si cewek alim, si cowok atlet, si cowok geek, si cowok rada goblok tapi kadang pinter. Bisa ditebak heroine di film ini? ya jelas isi cewek alim. 

Abis itu ya langsung aja tebak-tebak buah manggis siapa yang mati duluan, dan matinya kenapa. Karena udah biasa liat film beinian, jadi urutan tidak terlalu penting ya, yang lebih penting adalah cara mereka mati (psikiater mana psikiater?) sampe di sini semua masih berjalan dengan "baik". Tapi sisanya adalah kampret total. Kampret in a good way (iki piye, kampret kok good way)

Ah bener dah. Ini adalah mimpi indah bagi seluruh penggemar fanatik film horor. Gak perlu repot-repot nebak twist kayak di Scream 4 atau Modus Anomali (lagi), udah duduk manis, anteng, liat baik-baik, nikmati setiap darah yang muncrat, dan yah itu nikmatin aja. Belom pernah ngerasa se-fun ini liat film horror. Ide ceritanya bangsat bener walaupun gak bener-bener baru. Drew Goddard dan Joss Whedon beneran gila, ngasih bentuk khayalan baru akan cerita horor. Dan sampe sekarang masih heran itu kenapa IMDB cuman ngasih nilai 7.4? buat saya ini 9.0 Yah hampir sempurnalah hahaha!

*oiya, personally, saya juga suka banget poster film ini yang rumah "diacak-acak" kayak rubic itu. Bener-bener mendeskripsikan film ini dengan baik. Ntar kalo udah nonton juga ngerti. 

Kamis, 23 Agustus 2012

Mudik

gambar dari sini

Another post about mudik, yeay!

Sepertinya lebaran ini memang banyak kean-kesan ya, sampai banyak yang bikin postingan tentang mudik. Pengalaman tentang stuck terjebak di kemacetan berjam-jam, atau perubahan -pemandangan selama mudik dari tahun ke tahun. Semua menarik.

Saya sebenarnya tidak punya cerita khusus tentang mudik. Mungkin yang paling mendekati kata mudik adalah bertandang ke rumah saudara di Sragen yang bisa ditempuh naik dengan naik motor selama satu jam perjalanan. Atau di hari kedua, konvoy naik motor sekeluarga menuju tempat pertemuan keluarga besar di hari kedua, yang hanya diseputaran Soloraya. Tapi itu belum cukup mudik bagi saya.

Jadilah mudik disini adalah sebuah doa, bukan kegiatan perjalanan dari kota ke desa dan lain-lain. Mudik masih sebatas harapan. Lebaran kemarin adalah lebaran saya ke 23, yang berjalan itu-itu saja. Satu bulan puasa, dilengkapi beberapa kali buka bersama di luar. Menjelang Idul Fitri rumah sibuk masak-masak dan sebagainya. Saya bosan. Saya gak bisa ngapa-ngapain selain itu.

Setelah akhirnya saya lulus sarjana (dan September besok wisuda... akhirnya!) saya selipkan satu doa khusus, untuk saya sendiri. Lebaran tahun depan supaya saya bisa mudik. Cetek? gak juga sih.

Bagi saya mudik bukan hanya sebatas perjalanan jauh dan terjebak kemacetan berjam-jam. Mudik bukan hanya pamer gadget di hadapan sodara-sodara pas pertemuan keluarga besar (yang jadi korban pamer mana suaranya???) bukan cuma buat ajang kangen-kangenan walaupun itu wajib. Mudik bagi saya adalah memberi kabar baik. Dan itu bukan main-main.

Dengan mudik, setidaknya saya memberi kabar baik bahwa saya sehat sejahtera. Implikasinya bukan hanya pada orang yang mudik, tapi juga pada orang yang ditinggalkan. Saya ingin ngeliat senyum orangtua ketika dengan menerima kabar baik tersebut, anak-anak mereka, generasi mereka, keturunan mereka atau bahkan mereka sendiri, mempunyai harapan untuk hidup lebih baik. Klise, tapi penting. 

Maka bersyukurlah bagi kalian yang bisa mudik dan bisa memberi kabar baik ke keluarga. Semoga saya bisa melakukannya tahun depan :)

Rabu, 15 Agustus 2012

Sotoy Mode: Ngebahas Iklan Ramadan :)

Selama bulan puasa, apa aja sih yang biasa nongol di tv?
dari sinetron religi (disebut religi mungkin karena tokoh utama pake jilbab, kontennya mah hampir semua bap... *sinyal ilang), acara khotbah dadakan, adzan maghrib yang selalu dinanti, acara sahur dengan guyon kasarnya, drama reality, kuis dadakan dan...... iklan edisi puasa.

Yang terakhir ini yang kadang mencuri perhatian. Biasanya banyak produk, dari provider, rokok, sirup (YES, INI PALING DISTURBING), dan banyak lagi yang berlomba ngiklanin produknya di bulan ramadhan. Secara bungkusnya tentu saja, dipercantik dengan sentuhan religi. Dari sekedar kostum, atau jalan cerita iklan yang terkesan jadi khotbah dadakan. Beberapa iklan dibuat berseri, biasanya hadir di awal puasa (bahkan sebelum puasa untuk teasernya) dan ditutup ketika menjelang lebaran.

*jadi mari mulai analisis ngehe ini

Ada beberapa produk yang rajin tampil di bulan puaa. Untuk food and beverages, semuanya hampir sama. Klise. Paling juara (secara artistik, setidaknya dibuktikan dari tingkat frekuensi "menelan ludah" ketika melihatnya) dipegang sirup Marjan Boundon. Ya gimana gak ngeces itu ngeliat sirup bercampur es buah dengan angle cantik dishoot berulang-ulang di siang hari. Tahun ini formulanya sama, ada dua bagian. Gak ngerti versi resminya namanya apa, tapi ceritanya tentang persaingan bocah-bocah di lomba dayung. Yang menang dapet sirup. Klise. Yah, jujur, gak terlalu tertarik dengan ceritanya, tapi visual sirup tumpah ruah di atas es, masih megang.

Yang kedua, biasanya mie instan. Yah, standar semua sih. nothing special.

Lalu ada iklan korporat. Ada beberapa tahun ini seperti Pertamina, Djarum dan sebagainya. Secara umum isinya sama, mengajarkan kebaikan, ketulusan dan lainnya.Dulu, Djarum (menurut saya) salah satu juaranya di persaingan iklan korporat. Saya gak tahu persis nama versinya apa, tapi iklan itu kuat banget karena lantunan lagu Ebiet G. Ade, yang emang powerfull. Selain itu jalan ceritanya yang sederhana juga ditampilkan secara wajar nggak lebay. Tapi ya itu, Djarum (eh agensinya ding) kok kayaknya cuman mengulang cerita aja ya. Kali ini tentang mahasiswa yang kuyup kehujanan yang pengen belajar (atau baca buku) di toko buku, tapi gak dibolehin si empunya. Endingnya bisa ditebak, istri si empunya sakit, dan dokternya ya si mahasiswa itu tadi. Standar dan kayak mendaur ulang cerita-cerita yang udah ada. Ini mungkin masih mending (ya setidaknya ada twist si mahasiswa itu ternyata mahasiswa kedokteran :D), untuk iklan korproat Pertamina malah mirip sama iklan Djarum yang pake backsound Ebiet G Ade tadi. Settingnya sawh, bapak petani keriput dan sebagainya. Yah gitu deh, semuanya kayak kejebak klise, kejahatan dibalas kebaikan.

Nah yang seru biasanya iklan provider. Dari banyak provider yang malang melintang menawarkan promo lebaynya di bulan ramadan, tiga provider yang menurut saya menarik perhatian. Yang pertama iklan XL. Pake style berseri (udah dimulai sebelum puasa, versi audisi idol). Entah kenapa, tapi jingle Rocker Juga Manusia-nya Serius yang jadi andalan utama kok kurang menggigit. Kesannya ketinggalan jaman banget. Pemeran utamanya mas-mas rocker juga kurang greget. Kentang banget aksinya (and yes, teriakan rocker juga manusianya udah sampe taraf ganggu). yang masuk edisi Ramadan yang versi ceramah sama edisi konser yatim piatu (mungkin pas lebaran nanti ada lagi). Gampang dilupakan.

Yang kedua, iklan Axis. Setelah tahun kemarin mencuri perhatian lewat karakter ikonik Joni Blak-blakan (serius ini seri yang kcak, walaupun endingnya gak kena) kali ini kembali memunculkan ikon baru yakni si...... Hap. Cowok gendut yang bisa menangkap apa saha, cita-citanya jadi penjaga gawang. Pertama kali muncul, saya sama sekali gak ngerti ini iklan maksudnya apa, dan si Hap ini kenapa? atau ngapain? baru setelah dengerin bener-bener isi iklannya lagi berkata... ohh. Ya walaupun agak maksa antara konten iklan dan kreatifnya, tapi setidaknya penampilan orang gendut berpakaian ungu ketat itu lumayan bisa diingat. Meskipun kalau dibandingin si Joni, si Hap ini kurang karismatik dan kurang ikonik. Oiya, paling juara adalah jinglenya yang dinyanyiin The Changcuters. Hap..haaap...hap..haaap...tangkap!...tangkap!. Oiya, ada yang inget promonya iklan Axis apa?

Satu ini mungkin yang banyak dibicarakan. Meskipun mungkin bukan iklan yang khusus dibuat untuk edisi Ramadan. Iklan provider Tri. Iklannya simpel, ada dua versi, berbicara mengenai konsep bebas. Secara konten ini mengena, karena yang dibahas adalah masalah yang lekat dengan sehari-hari, yakni "pilihan" untuk bebas. Menariknya juga karena ada sisi ceweknya di sini. Gender main disini. Audiens wanita seperti terwakili di sini. Copynya juga menarik. Dimulai dengan "kebebasan itu...." lalu ada permainan kata-kata tentang konsep bebas. Menarik (bahkan ada teman di facebook yang memperdebatkan kata-kata "bebas itu..." yang katanya ngajarin jelek :D). Selain itu visualisasinya enarik, modern dengan soft focus dimana-mana (ini murni sotoy), ditutup dengan dramatis. Versi cewe dengan adegan pemerannya meluk seseorang, versi cowok dianya ngeboncengin cewek, dan ikut konvoy seketika fokus mulai berpendar dan cahaya lampu berubah jadi light bulp yang keren. Penjelasan promo juga dibuat singkat lugas dan gak bertele-tele. Promo Always On cukup terlihat dan bisa dipahami. Secara garis besar, saya pribadi suka dengan ide ceritanya.

nah sekian dulu dengan analisis iklan ngehe saya. Semua yang ditulis di atas murni kesotoyan pribadi. Jangan langsung percaya atau bahkan jadi pedoman. Yang jelas iklan-iklan di Indonesia makin gila kreatifnya. Salut buat orang-orang agensi yang bisa bikin iklan super kreatif (and yes, it triggering me to join them as an ad man). Hidup Iklan Indonesia!